JAKARTAGEMADIKA.com – Pabrik petrokimia raksasa senilai Rp65 triliun milik PT Lotte Chemical Indonesia dipastikan akan menyuplai kebutuhan industri dalam negeri hingga 75 persen dari total produksinya. Kabar ini disampaikan langsung oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita setelah Presiden Prabowo Subianto meresmikan operasional fasilitas tersebut di Cilegon, Banten.

Menurut Agus, tingginya penyerapan produksi untuk pasar domestik ini akan memberikan dampak signifikan bagi perekonomian nasional, terutama dalam mengurangi beban impor bahan baku petrokimia yang selama ini masih tinggi.

“Lotte bagus sekali, bagus. Investasinya Rp65 triliun dan itu merupakan fasilitas naphtha cracker terbesar di kawasan. Dan itu akan membantu penciptaan daya tahan industri kita, resiliensi termasuk substitusi impor,” kata Agus usai konferensi pers di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, dikutip Jumat (7/11/2025).

Pabrik yang menempati lahan seluas 110 hektare ini bukan hanya soal skala produksi, tetapi juga komitmen terhadap tenaga kerja lokal. Agus menegaskan bahwa mayoritas karyawan pabrik berasal dari Indonesia, dengan tenaga asing hanya mengisi posisi pimpinan sesuai kebutuhan teknis.

Baca juga :  Penyebab Batu Ginjal, Benarkah Hanya karena Kurang Minum Air Putih? Ini Penjelasannya

“Enggak ada (tenaga kerja asing), itu (tenaga kerja) dalam negeri. Kalau ada pimpinan-pimpinan (tenaga kerja asing) itu kan biasa, tapi sebagian besar dari pekerjanya itu adalah dari dalam negeri sendiri,” ucapnya.

Investasi Terbesar Korea Selatan di Indonesia

Proyek senilai US$3,98 miliar atau sekitar Rp60 triliun ini merupakan pabrik kelima Lotte Chemical secara global dan menjadi fasilitas petrokimia paling modern di Indonesia. Peresmian oleh Presiden Prabowo menandai tonggak bersejarah bagi industri petrokimia nasional yang selama ini masih bergantung pada impor.

Chairman LOTTE Group, Shin Dong-bin, menyebut proyek ini sebagai wujud nyata kepercayaan jangka panjang Korea Selatan terhadap potensi ekonomi Indonesia.

“Proyek ini merupakan salah satu investasi terbesar perusahaan Korea di Indonesia, melambangkan kemitraan yang kuat antara kedua negara, serta akan menjadi fondasi penting untuk memperkuat industri petrokimia Indonesia dan daya saing nasionalnya,” ujar dia dalam keterangannya di Cilegon, Kamis.

Baca juga :  Prabowo Instruksikan Sekolah Ajarkan Bahasa Prancis, DPR Minta Kemendikdasmen Jelaskan Kesiapan Implementasinya

Kapasitas Produksi Jumbo

Kompleks petrokimia ini memiliki kapasitas produksi naphtha cracker mencapai tiga juta ton per tahun. Dari fasilitas tersebut, pabrik mampu menghasilkan satu juta ton etilena, 520 ribu ton propilena, 350 ribu ton polipropilena, 140 ribu ton butadiena, serta 400 ribu ton BTX (benzena, toluena, xilena) setiap tahunnya.

Fasilitas ini juga sudah terintegrasi dengan pabrik polietilena (PE) berkapasitas 450 ribu ton yang telah beroperasi sebelumnya, menciptakan ekosistem produksi petrokimia yang efisien dan berkelanjutan.

Dengan beroperasinya pabrik ini, Indonesia diharapkan mampu mengurangi ketergantungan impor bahan baku petrokimia hingga miliaran rupiah per tahun, sekaligus memperkuat posisi sebagai pusat industri petrokimia di kawasan Asia Tenggara.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami