ARAB SAUDI, GEMADIKA.com – Sejumlah negara di kawasan Timur Tengah dilanda cuaca ekstrem yang mengancam jiwa dalam beberapa hari terakhir. Hujan deras, badai petir, hujan es, hingga banjir bandang menerjang wilayah Arab Saudi, Oman, Uni Emirat Arab (UEA), Yordania, hingga Gaza di Palestina, menewaskan sedikitnya 12 orang.
Dampak paling tragis terjadi di Gaza, di mana hujan lebat yang mengguyur wilayah konflik tersebut selama beberapa hari telah merenggut 12 nyawa, termasuk seorang bayi berusia dua minggu yang meninggal dunia akibat hipotermia atau kedinginan ekstrem.
Curah hujan di beberapa bagian Gaza dilaporkan mencapai lebih dari 150 milimeter dalam sepekan terakhir. Intensitas hujan yang tinggi ini membanjiri kamp-kamp pengungsi yang kondisinya sudah sangat memprihatikan dan meruntuhkan bangunan-bangunan yang telah rusak parah akibat konflik berkepanjangan.
“Setiap kali badai datang, air merembes ke tenda kami dan kasur serta selimut menjadi basah kuyup,” ujar Mohammed Gharableh, warga Gaza yang mengungsi dari Rafah, seperti dikutip Al Jazeera.
Kondisi para pengungsi semakin memburuk karena mereka tinggal di tenda-tenda darurat yang tidak memadai untuk melindungi dari cuaca dingin dan hujan deras. Kelembapan tinggi dan suhu yang turun drastis membuat risiko hipotermia, terutama bagi bayi dan anak-anak, meningkat tajam.
Arab Saudi: Peringatan Banjir Bandang di Kota Suci
Di Arab Saudi, Pusat Meteorologi Nasional (National Center for Meteorology/NCM) mengeluarkan peringatan serius terkait hujan lebat yang berpotensi memicu banjir bandang di sejumlah wilayah strategis dan padat penduduk.
Wilayah yang masuk dalam zona peringatan meliputi kota-kota besar seperti Makkah, Madinah, Riyadh, Qassim, Provinsi Timur, hingga wilayah Perbatasan Utara. Kondisi cuaca buruk ini disertai badai petir yang menggelegar, hujan es, dan angin kencang yang berbahaya.
“Hujan badai sedang hingga lebat diperkirakan terjadi di beberapa wilayah dan dapat menyebabkan banjir bandang,” tulis NCM dalam prakiraan resminya, seperti dikutip Gulf News, Rabu (18/12/2025).
NCM juga mencatat kondisi laut yang memburuk secara signifikan di perairan Arab Saudi. Di Laut Merah, kecepatan angin dapat mencapai 50 kilometer per jam dengan gelombang sedang hingga bergelombang yang berbahaya bagi aktivitas pelayaran.
Sementara itu di Teluk Arab, kondisi bahkan lebih ekstrem. Angin diperkirakan menguat hingga lebih dari 60 kilometer per jam dengan tinggi gelombang melebihi 2,5 meter di beberapa titik. Otoritas maritim mengimbau nelayan dan pelaut untuk tidak melaut hingga kondisi cuaca membaik.
Oman dan UEA: Sekolah Diliburkan, Kerja dari Rumah Diberlakukan
Cuaca tidak stabil juga melanda negara-negara Teluk lainnya. Oman mengumumkan kebijakan pembelajaran jarak jauh untuk sejumlah sekolah di Provinsi Musandam mulai Selasa (16/12/2025) menyusul hujan lebat yang mengguyur wilayah tersebut tanpa henti.
“Kementerian Pendidikan dan Pengajaran memutuskan sekolah negeri, swasta, dan internasional di Musandam melaksanakan pembelajaran jarak jauh demi keselamatan siswa,” demikian pernyataan resmi otoritas setempat, seperti dikutip media lokal Oman.
Keputusan ini diambil sebagai langkah antisipatif untuk melindungi keselamatan siswa dan tenaga pendidik dari risiko banjir dan bahaya lalu lintas akibat jalan yang tergenang.
Sistem tekanan rendah yang sama turut memengaruhi Uni Emirat Arab (UEA). Otoritas meteorologi setempat telah mengimbau warga untuk waspada terhadap angin kencang dan hujan deras, dengan cuaca tidak stabil diperkirakan berlangsung sepanjang pekan ini.
Pengalaman traumatis banjir besar yang melanda UEA pada tahun 2024 membuat banyak perusahaan kini lebih proaktif dalam mengantisipasi cuaca ekstrem. Sejumlah perusahaan besar di UEA kini memprioritaskan kebijakan kerja jarak jauh (remote working) saat prakiraan cuaca menunjukkan kondisi ekstrem untuk melindungi keselamatan karyawan.
Yordania: Wilayah Ibu Kota Terancam Banjir Bandang
Di Yordania, Departemen Meteorologi mengidentifikasi sejumlah wilayah yang paling rentan terhadap banjir bandang. Direktur Departemen Meteorologi Yordania, Raed Al-Khattab, memberikan penjelasan ilmiah tentang fenomena cuaca ekstrem yang sedang terjadi.
Menurutnya, penguatan sistem cuaca saat ini disebabkan oleh pergerakan massa udara dingin dan lembap dari wilayah utara yang bertemu dengan sistem tekanan rendah di permukaan bumi. Kombinasi kedua faktor ini menciptakan kondisi atmosfer yang sangat tidak stabil.
“Keselarasan sistem atmosfer atas dan permukaan meningkatkan ketidakstabilan, sehingga hujan lebat dan bahkan hujan es berpotensi terjadi,” jelas Al-Khattab kepada media setempat.
Ia menyebut wilayah tengah seperti Amman (ibu kota Yordania), Balqa, dan Madaba sebagai area yang paling berisiko tinggi terhadap banjir bandang. Selain itu, Lembah Yordania dan kawasan Laut Mati juga masuk dalam daftar wilayah rawan bencana.
Al-Khattab menjelaskan bahwa topografi wilayah-wilayah tersebut yang berupa dataran tinggi dan lembah mempercepat akumulasi air hujan. Air yang turun dari dataran tinggi akan mengalir dengan deras ke lembah, meningkatkan potensi banjir bandang yang dapat terjadi secara tiba-tiba dan mematikan.
Fenomena Cuaca Global dan Perubahan Iklim
Para ahli meteorologi regional menyatakan bahwa intensitas cuaca ekstrem di kawasan Arab yang biasanya kering dan panas ini kemungkinan berkaitan dengan perubahan pola cuaca global. Pertemuan antara massa udara dingin dari utara dengan udara hangat di kawasan Timur Tengah menciptakan kondisi atmosfer yang tidak stabil.
Fenomena ini juga dipengaruhi oleh perubahan suhu permukaan laut dan pola sirkulasi udara regional yang semakin tidak menentu akibat perubahan iklim global.
Rangkaian peringatan dari berbagai badan meteorologi di kawasan Arab ini menegaskan bahwa cuaca ekstrem kini meluas dan semakin tidak terduga di wilayah yang selama ini dikenal dengan iklim gurun yang kering.
Kondisi ini memaksa pemerintah negara-negara di kawasan Timur Tengah untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat sistem peringatan dini serta langkah mitigasi bencana untuk melindungi warga dari dampak hujan deras, hujan es, dan banjir bandang yang berpotensi mematikan.
Otoritas di berbagai negara terus memantau perkembangan cuaca dan mengimbau masyarakat untuk tetap berada di dalam ruangan, menghindari perjalanan yang tidak mendesak, dan selalu mengikuti informasi terbaru dari lembaga meteorologi setempat.




