GROBOGAN, GEMADIKA.com — Petani di Dusun Sendang Sari, Desa Tambirejo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, kembali menghadapi persoalan klasik yang hingga kini belum menemukan solusi efektif. Serangan burung emprit yang datang bergerombol kerap merusak tanaman padi, menyebabkan hasil panen warga menyusut signifikan.
Serangan burung emprit terjadi sejak tanaman padi mulai tumbuh hingga memasuki fase berbuah. Burung-burung tersebut mematuki bulir padi di area persawahan, sehingga banyak tanaman yang rusak sebelum masa panen tiba. Kondisi ini membuat petani tidak memperoleh hasil sebanding dengan biaya, tenaga, dan waktu yang telah mereka keluarkan sejak masa tanam.

“Sudah capek-capek nandur, ngrawat, ngenteni nganti meteng, tapi pas waktune panen malah kebagi karo burung emprit,” keluh Bapak Sarah, warga Dusun Sendang Sari yang juga menjabat sebagai Sekretaris Desa Tambirejo, saat ditemui tim Gemadika.com.
Ia mengungkapkan, serangan burung emprit hampir selalu terjadi setiap musim panen. Berbagai upaya telah dilakukan petani, mulai dari memasang orang-orangan sawah, tali plastik, hingga bunyi-bunyian untuk mengusir burung. Namun, langkah-langkah tersebut dinilai belum mampu menekan serangan secara maksimal.
Meski demikian, di balik keluhan tersebut, Bapak Sarah menyampaikan pandangan hidup yang penuh keikhlasan. Ia menilai kondisi itu sebagai bagian dari dinamika kehidupan yang patut disikapi dengan rasa syukur.
“Ini lah kehidupan. Kita harus selalu bersyukur. Hidup itu bukan hanya berbagi dengan sesama manusia, tapi juga dengan makhluk hidup lainnya, termasuk burung emprit,” ujarnya sambil tersenyum.
Sikap tersebut mencerminkan kearifan lokal warga Tambirejo dalam menjaga keseimbangan antara usaha pertanian dan kelestarian alam. Namun demikian, para petani berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah desa maupun instansi terkait di bidang pertanian, agar dapat ditemukan solusi yang tepat dan berkelanjutan.
Dukungan berupa inovasi teknologi pertanian ramah lingkungan atau pendampingan intensif diharapkan mampu membantu petani mengurangi kerugian, tanpa harus merusak keseimbangan ekosistem yang selama ini dijaga.
Penulis: Joko Purnomo
Editor: Rini




