Kasus yang mengguncang ini kini mulai terungkap akar masalahnya. Faizah dilaporkan berubah menjadi temperamental dan sering melakukan kekerasan terhadap anak-anaknya serta suami sejak mengetahui suaminya berselingkuh. Rumah tangga mereka sudah tidak harmonis sejak lima tahun lalu.
Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak, mengonfirmasi bahwa AI telah ditetapkan sebagai tersangka. Namun mengingat usianya yang masih 12 tahun, anak tersebut tidak ditahan di penjara.
“Sudah kita tetapkan sebagai tersangka. Posisi anak di rumah aman,” kata Jean.
Dijerat Pasal KDRT, Bukan Pembunuhan Berencana
Polisi tidak menjerat AI dengan pasal pembunuhan berencana mengingat statusnya sebagai anak di bawah umur. Sebaliknya, ia dijerat menggunakan pasal Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) sesuai ketentuan perlindungan anak.
Berdasarkan hasil penyelidikan dan pemeriksaan berbagai pihak, Jean merinci bahwa siswi SD ini membunuh ibu kandungnya karena dendam yang terpendam. Ia tidak terima melihat kakaknya sering diperlakukan kasar oleh sang ibu.
Pemicu: Kakak Dipukuli dengan Ikat Pinggang dan Sapu
Titik puncak kemarahan AI terjadi pada 22 November 2025, ketika ia menyaksikan kakaknya dipukuli oleh ibunya menggunakan ikat pinggang dan sapu.
“Amarah si anak melihat kakaknya saat 22 November dipukuli menggunakan ikat pinggang, sapu,” jelas Jean.
Bekas kekerasan tersebut bahkan masih terlihat jelas di tubuh sang kakak hingga saat ini. Luka memar berwarna biru tampak di bagian betis, paha, dan tangan.
“Ada memar di kaki, betis, dan tangan yang sangat biru,” tambahnya.
Kekerasan Berulang Sejak Lama
Kejadian pada 22 November bukanlah yang pertama kali. AI mengaku sudah berkali-kali menyaksikan ibunya memarahi bahkan memukul kakaknya dan ayahnya. Dirinya sendiri juga kerap menjadi korban kemarahan sang ibu.
“Dia melihat korban berkali-kali memarahi kakaknya bahkan bapaknya,” ungkap Jean.
AI juga sering dimarahi hingga dicubit oleh ibunya. Akumulasi kekerasan fisik dan psikologis inilah yang diduga memicu dendam mendalam pada diri anak berusia 12 tahun tersebut.
Akar Masalah: Perselingkuhan dan Rumah Tangga Retak
Penyelidikan polisi mengungkap bahwa perubahan sikap Faizah yang menjadi temperamental dipicu oleh masalah rumah tangga yang sudah berlangsung sejak lima tahun silam. Faizah diketahui menjadi galak setelah mengetahui suaminya, Alham, berselingkuh.
Kondisi rumah tangga yang tidak harmonis ini membuat Faizah melampiaskan amarahnya kepada anak-anak dan suaminya. Lingkaran kekerasan ini terus berlanjut hingga akhirnya memicu tragedi pembunuhan oleh anak kandungnya sendiri.
Sosok Pelaku: Siswi Cerdas yang Tertekan
Pihak sekolah AI mengungkapkan bahwa pelaku merupakan siswi yang sangat cerdas dan tidak pernah bermasalah di lingkungan sekolah. Kejadian ini mengejutkan banyak pihak yang mengenal AI sebagai anak yang baik.
Kasus ini menjadi pengingat pahit tentang dampak buruk kekerasan dalam rumah tangga terhadap psikologi anak. Tekanan mental yang dialami AI akibat menyaksikan kekerasan berulang pada keluarganya diduga menjadi faktor utama yang mendorongnya melakukan tindakan tragis tersebut.
Polisi masih terus mendalami kasus ini, termasuk pemeriksaan kondisi psikologis pelaku dan mencari solusi terbaik untuk masa depan anak-anak dalam keluarga tersebut.





Tinggalkan Balasan Batalkan balasan