CIREBON, GEMADIKA.com – Keresahan melanda warga Desa Cigobang, Kecamatan Pasaleman, Kabupaten Cirebon. Sejak empat bulan terakhir, kebun kelapa sawit seluas sekitar empat hektare mulai bermunculan di kawasan bukit dan lereng perbukitan yang sebelumnya merupakan hutan hijau.

Jalan setapak yang biasa dilalui warga untuk mencari kayu atau menuju ladang, kini dipenuhi deretan tanaman kelapa sawit yang tumbuh di ketinggian sekitar 28 meter di atas permukaan laut. Pemandangan ini langsung memicu penolakan keras dari masyarakat.

Khawatir Krisis Air Semakin Parah

Sara (55), salah seorang warga Desa Cigobang, mengaku sangat resah dengan masuknya perkebunan sawit di wilayahnya. Ia khawatir dampak jangka panjang justru akan merugikan masyarakat, terutama generasi mendatang.

“Kalau toh bakal merugikan masyarakat, apalagi untuk anak cucu kita,” ujar Sara saat diwawancarai selepas mengecek keberadaan lokasi sawit, Kamis (25/12/2025) sore, seperti dilansir Tribun Cirebon.

Menurutnya, air menjadi kebutuhan utama warga Cigobang yang memang dikenal sebagai wilayah rawan krisis air. Ia khawatir jika sawit terus dikembangkan di kawasan bukit dan lereng, sumber air masyarakat akan terdampak.

“Kalau toh merugikan nanti anak cucu kita, air bisa kena sama sawit. Saya mohon bagi pemerintahan, khususnya pusat, diperhatikan,” jelasnya.

Sara berharap pemerintah tidak tinggal diam dan segera menindaklanjuti penolakan warga terhadap perkebunan sawit tersebut.

“Kalau bisa mah ditindaklanjuti, kalau bisa jangan sampai ada sawit di wilayah kita,” ucapnya.

Baca juga :  Tragis! Pedagang Gerobak di Bekasi Meninggal Usai Tertabrak Mobil Program Gizi Pemerintah

Pegiat Lingkungan Tegas Menolak

Kekhawatiran serupa juga disuarakan oleh pegiat lingkungan. Hipal Surdiniawan dari Sawala Buana, Kecamatan Pasaleman, secara tegas mengkritisi alih fungsi kawasan hutan menjadi perkebunan sawit.

“Ya sebagai pegiat lingkungan, sangat menolak adanya perkebunan sawit di wilayah kami,” ujar Hipal, seperti dikutip Tribun Cirebon.

Menurutnya, kawasan hutan Cigobang memiliki vegetasi yang masih sangat baik dan berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

“Apalagi kan hutannya sangat indah. Kalau memang vegetasinya bagus,” ucapnya.

Hipal menekankan bahwa hutan di sekitar Cigobang merupakan kawasan penyangga mata air yang sangat vital bagi masyarakat.

“Karena kita menjaga mata air di sekitaran hutan Cigobang, Kecamatan Pasaleman, akan lebih indah kalau hutan itu benar-benar hutan, bukan sawit,” jelasnya.

Lahan Milik Perseorangan dengan Skema Kerja Sama

Berdasarkan informasi yang dihimpun Tribun Cirebon, lahan yang ditanami kelapa sawit tersebut merupakan lahan perseorangan milik masyarakat dan sebagian dikelola bersama oleh sebuah perusahaan.

Perusahaan tersebut mengakomodir penanaman sawit melalui skema kerja sama, mulai dari penyewaan lahan hingga sistem bagi hasil dengan pemilik lahan.

Namun, warga yang menolak perkebunan sawit menilai kerja sama tersebut tetap berpotensi menimbulkan dampak lingkungan serius, terutama terhadap cadangan air tanah dan risiko kekeringan yang bisa semakin parah.

Ancaman Longsor di Musim Hujan

Masyarakat juga mencemaskan potensi bencana alam. Penanaman kelapa sawit secara masif di area bukit dan lereng perbukitan dikhawatirkan dapat memicu longsor, terutama saat musim hujan tiba.

Baca juga :  Healing Tipis-tipis Jadi Trend, Ini Cara Anak Muda Melepas Penat Tanpa Harus Liburan Mahal

Lereng yang sebelumnya ditopang oleh vegetasi hutan dinilai menjadi lebih rentan ketika dialihfungsikan menjadi perkebunan sawit.

Dampak Ekologis Perkebunan Sawit

Secara ekologis, kelapa sawit dikenal sebagai tanaman dengan kebutuhan air yang tinggi. Perkebunan sawit kerap dikaitkan dengan penurunan cadangan air tanah di sekitarnya, terutama jika ditanam secara masif di kawasan perbukitan dan lereng.

Akar sawit yang relatif dangkal juga dinilai tidak sekuat vegetasi hutan alami dalam menahan struktur tanah. Kondisi ini dikhawatirkan dapat mempercepat aliran permukaan saat hujan deras, sehingga meningkatkan risiko erosi dan longsor.

Selain itu, alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit juga berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem. Hilangnya tutupan hutan dapat berdampak pada berkurangnya keanekaragaman hayati serta terganggunya mata air yang selama ini menjadi sumber kehidupan warga.

Harapan kepada Pemerintah

Kini, warga Desa Cigobang berharap pemerintah daerah hingga pusat turun tangan, meninjau langsung kondisi di lapangan dan memastikan keselamatan lingkungan serta keberlanjutan sumber air bagi masyarakat tidak dikorbankan atas nama ekspansi perkebunan.

Kekhawatiran ini membuat warga dan pegiat lingkungan menilai keberadaan perkebunan sawit di atas bukit dan lereng perbukitan bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan menyangkut keselamatan lingkungan dan keberlangsungan hidup masyarakat dalam jangka panjang.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami