KUDUS, GEMADIKA.com – Bencana tanah longsor melanda jalur Colo di kawasan Pegunungan Muria, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut sejak siang hari. Peristiwa ini tidak hanya memutus akses transportasi vital, tetapi juga melumpuhkan aktivitas ekonomi warga, khususnya di Desa Japan, Kecamatan Dawe.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus mencatat sebanyak 127 titik tanah longsor tersebar di beberapa kecamatan, terutama di wilayah perbukitan Kecamatan Gebog dan Dawe. Bencana ini menyebabkan 596 jiwa atau 233 kepala keluarga terpaksa mengungsi ke lokasi aman.

Informasi Longsor Menyebar Lewat Media Sosial

Salah seorang warga Desa Japan, Setyadika Firmansyah, mengungkapkan bahwa informasi longsor diterimanya sekitar lima menit setelah kejadian. Saat itu, ia mendapat kabar dari ibunya melalui pesan singkat, yang kemudian dengan cepat menyebar melalui grup WhatsApp dan media sosial.

“Alhamdulillah masih diberi keselamatan. Meski ada rasa khawatir akan adanya longsor susulan, kami berusaha tetap tenang dan saling menguatkan,” ujar Setyadika kepada NU Online, Kamis (15/1/2026).

Dika, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa longsor dipicu oleh intensitas hujan yang tinggi dalam beberapa hari terakhir. Puncaknya terjadi pada hari kejadian, ketika hujan deras berlangsung seharian penuh tanpa henti. Kondisi tersebut menyebabkan debit air sungai meningkat drastis dan memicu amblesan tanah di sekitar badan jalan.

Material Longsor Tutup Jalan dan Sungai

Material longsoran berupa batuan, tanah, dan aspal menutupi sebagian badan jalan, bahkan menghambat aliran sungai. Akibatnya, akses distribusi dan logistik warga terganggu parah karena kendaraan bermuatan besar tidak dapat melintas sama sekali.

Saat ini, jalur tersebut hanya bisa dilewati sepeda motor dan mobil berukuran kecil dengan hati-hati. Kondisi ini membuat pasokan kebutuhan pokok dari pasar menjadi tidak lancar.

“Untuk sementara pasokan kebutuhan pokok dari pasar masih ada, tetapi distribusinya tidak lancar karena keterbatasan akses,” jelas Dika.

Ekonomi Warga Terancam Lumpuh

Dampak longsor sangat dirasakan pada sektor ekonomi warga. Jalur Colo selama ini dikenal sebagai akses utama peziarah menuju kawasan Muria yang menjadi penggerak ekonomi masyarakat setempat, terutama dari sektor wisata religi, perhotelan, kuliner, dan jasa transportasi.

Sejak longsor terjadi, jumlah bus peziarah yang masuk ke wilayah tersebut menurun drastis. Para pedagang, pemilik warung makan, dan penyedia jasa lainnya langsung merasakan dampak ekonomi yang signifikan.

“Yang paling kami khawatirkan adalah aktivitas ekonomi. Jalur Colo ini jalur utama. Jika tidak segera ada solusi, dampaknya akan sangat besar bagi warga,” ungkap Dika dengan nada prihatin.

Ketergantungan ekonomi masyarakat pada jalur ini membuat pemulihan akses jalan menjadi prioritas mendesak. Jika terlambat ditangani, kerugian ekonomi akan semakin meluas dan mengancam kesejahteraan ribuan warga yang menggantungkan hidup dari aktivitas wisata religi.

127 Titik Longsor, 33 Rumah Rusak

Berdasarkan data terkini BPBD Kabupaten Kudus, bencana longsor tidak hanya terjadi di jalur Colo. Total 127 titik longsor tercatat tersebar di beberapa kecamatan, dengan konsentrasi terbesar di wilayah perbukitan Kecamatan Gebog dan Dawe.

Bencana ini berdampak pada 33 rumah warga yang rusak dengan tingkat kerusakan bervariasi. Sejumlah akses jalan desa juga mengalami kerusakan, memperparah isolasi beberapa permukiman.

Selain longsor, cuaca ekstrem yang disertai angin kencang juga memicu bencana lain. Tercatat 14 pohon tumbang menimpa lima kendaraan dan menyebabkan kerusakan pada sejumlah fasilitas umum, termasuk fasilitas pendidikan dan tempat ibadah.

Penanganan Darurat dan Pengungsian

BPBD Kudus bersama relawan gabungan dari berbagai organisasi, TNI, Polri, dan dinas terkait terus melakukan upaya penanganan darurat. Langkah-langkah yang diambil meliputi evakuasi warga terdampak, pendirian dan operasional dapur umum, pendistribusian bantuan logistik, serta asesmen dan pembaruan data secara berkala.

Sebagian warga yang rumahnya rusak atau berada di area rawan longsor susulan terpaksa mengungsi ke lokasi yang telah disiapkan. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 233 kepala keluarga atau 596 jiwa berada di titik-titik pengungsian yang tersebar di beberapa lokasi.

Para pengungsi mendapat bantuan berupa makanan siap saji, air bersih, selimut, obat-obatan, dan perlengkapan sanitasi. Pemerintah daerah juga terus memantau kondisi cuaca dan potensi bencana susulan yang dapat mengancam keselamatan warga.

Warga Diminta Tetap Waspada

Meski upaya penanganan terus dilakukan, warga diminta untuk tetap waspada terhadap potensi longsor susulan, terutama jika hujan deras masih terus terjadi. Daerah-daerah yang rawan longsor sebaiknya dihindari, dan warga yang tinggal di lereng bukit diimbau untuk siap mengungsi jika kondisi memburuk.

Pemerintah Kabupaten Kudus berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Jawa Tengah dan pemerintah pusat untuk mempercepat penanganan dan pemulihan infrastruktur yang rusak, terutama jalur Colo yang menjadi nadi ekonomi masyarakat di kawasan Pegunungan Muria.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami