JAKARTA, GEMADIKA.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan akan menurunkan produksi batu bara dan nikel di tahun 2026 ini. Langkah strategis ini diambil dengan dua tujuan utama: menjaga harga komoditas tetap kompetitif di pasar global dan melestarikan cadangan tambang untuk generasi mendatang.
“Jadi produksi kita akan turunkan supaya harga bagus dan tambang kita untuk cucu kita. Bangsa ini harus berjalan terus, lingkungan kita jaga dan ini juga terjadi tidak hanya di batu bara termasuk nikel kita akan sesuaikan kebutuhan industri dan suplai ore nikel kita,” terang Bahlil dalam Konferensi Pers Kinerja Sektor ESDM 2025, Kamis (8/1/2026).
Produksi Batu Bara Turun 24%
Menteri Bahlil menaksirkan bahwa produksi batu bara di tahun ini hanya akan mencapai sekitar 600 juta ton, turun cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
“Kurang lebih 600 juta ton,” ungkap Bahlil.
Sebagai perbandingan, pada tahun 2025, realisasi produksi batu bara Indonesia mencapai 790 juta ton. Artinya, pemerintah akan memangkas produksi sebesar 190 juta ton atau sekitar 24 persen dari tahun lalu.
Penurunan produksi ini bukan tanpa alasan. Selain untuk mengendalikan harga di pasar internasional, kebijakan ini juga bagian dari upaya pemerintah untuk menjaga kelestarian lingkungan dan memastikan cadangan batu bara masih tersedia untuk masa depan.
Nikel Disesuaikan Kebutuhan Industri
Sementara untuk nikel, Bahlil mengakui belum bisa menyampaikan angka pasti terkait penurunan produksi. Namun, ia menegaskan bahwa produksi nikel akan disesuaikan dengan kebutuhan industri dalam negeri, terutama industri hilirisasi yang sedang dikembangkan pemerintah.
“Kami akan sesuaikan dengan kebutuhan industri dan kita akan bikin pemerataan, maksudnya industri-industri besar harus beli ore nikel dari pengusaha tambang. Jangan ada monopoli kita ingin perusahaan daerah kuat supaya ada kolaborasi, supaya hilirisasi berkeadilan. Kita support tapi harus berkolaborasi,” tegas Bahlil.
Anti-Monopoli, Dorong Kolaborasi
Kebijakan penyesuaian produksi nikel ini juga dimaksudkan untuk menciptakan pemerataan ekonomi di sektor pertambangan. Bahlil menekankan pentingnya menghindari praktik monopoli, di mana industri besar harus membeli bijih nikel (ore) dari pengusaha tambang lokal, termasuk perusahaan daerah.
Langkah ini sejalan dengan visi pemerintah untuk mewujudkan hilirisasi yang berkeadilan. Artinya, manfaat ekonomi dari pertambangan nikel tidak hanya dinikmati oleh korporasi besar, tetapi juga oleh pengusaha tambang kecil dan daerah penghasil nikel.
“Kita ingin perusahaan daerah kuat supaya ada kolaborasi, supaya hilirisasi berkeadilan,” tambah Bahlil.
Jaga Harga di Pasar Global
Penurunan produksi batu bara dan nikel juga merupakan strategi untuk menjaga stabilitas harga kedua komoditas tersebut di pasar internasional. Dengan mengurangi pasokan, diharapkan harga bisa naik atau minimal tetap stabil di level yang menguntungkan bagi Indonesia.
Dalam beberapa tahun terakhir, harga batu bara sempat mengalami fluktuasi tajam akibat oversupply dan perubahan permintaan global. Sementara harga nikel juga tertekan karena produksi Indonesia yang sangat besar, sehingga mempengaruhi harga pasar dunia.
Kebijakan pembatasan produksi ini diharapkan bisa memberikan ruang bagi harga untuk menguat kembali, sehingga penerimaan negara dari sektor pertambangan tetap optimal meski volume produksi berkurang.
Cadangan untuk Generasi Mendatang
Aspek keberlanjutan juga menjadi perhatian utama dalam kebijakan ini. Bahlil menegaskan bahwa cadangan tambang Indonesia harus dijaga agar generasi mendatang masih bisa menikmati kekayaan sumber daya alam negeri ini.
“Tambang kita untuk cucu kita. Bangsa ini harus berjalan terus, lingkungan kita jaga,” ujar Bahlil.
Dengan mengurangi laju produksi, umur tambang bisa diperpanjang dan dampak kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan dapat diminimalisir. Ini merupakan bagian dari komitmen Indonesia terhadap pembangunan berkelanjutan dan pelestarian lingkungan hidup.




