BANGKALAN, GEMADIKA.com – Puluhan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bangkalan memadati depan kantor Pemkab Bangkalan pada Senin, (19/01/26). Aksi ini untuk menagih janji politik Bupati Bangkalan Lukman Hakim. Tagar #ResetBangkalan muncul sebagai bentuk kekecewaan mahasiswa atas kinerja dan kepemimpinan Bupati Bangkalan. Senin, (20/01/26).
Dalam aksi yang berlangsung di depan pagar pemkab sempat terjadi ketegangan antara mahasiswa dan aparat kepolisian. Hal itu di karenakan Bupati tidak segera menemui para demonstran.
Guna mengurangi gesekan aparat penegak hukum (APH) bergerak mundur hingga di depan pintu masuk Kantor Pemkab. Sampai waktu yang di tentukan Bupati tak kunjung keluar hingga situasi memanas dan terjadi aksi saling dorong, pukul, dan lempar antara massa dengan aparat keamanan.
“Kami tidak ada urusan dengan APH, tolong jangan hadang kami. Kami hanya ingin Bupati keluar,” ungkap Isro’ Mi’roj, korlap aksi.
Karena suasana semakin tegang APH berupaya membubarkan massa dengan menyemprotkan air menggunakan water canon. Tindakan itu menyebabkan sound system milik massa aksi rusak.

“Kami hanya menuntut janji politik bupati, APH malah merusak atribut dan melukai anggota kami,” tegas Isro’.
Dalam aksi tersebut, aktivis HMI menuntut untuk peningkatan kinerja birokrasi dalam pelayanan publik, penataan sistem tata kelola pendidikan, peningkatan kesejahteraan guru, perbaikan infrastruktur sekolah, menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan pelayanan kesehatan, menyelesaikan persoalan sampah, serta memberikan perhatian terhadap kesejahteraan para petani.
“Apabila tuntutan ini tidak diindahkan atau tidak terealisasi dalam waktu 7×24 jam, maka kami akan kembali menggelar aksi lanjutan dengan jumlah massa yang lebih besar,” pungkasnya.
Setelah mendengar kericuhan yang terjadi di depan kantornya, Bupati Bangkalan akhirnya menemui massa dan menyampaikan permohonan maaf atas insiden bentrokan antara mahasiswa dan aparat kepolisian.
“Tidak ada unsur kesengajaan kami membiarkan mahasiswa menunggu lama. Sejak pagi kami menunggu massa, namun karena belum datang, kami masih menerima dua tamu lain,” jelasnya.
Menanggapi isu adanya kesengajaan membenturkan mahasiswa dengan aparat, Lukman membantah keras tudingan tersebut.
“Itu tidak benar dan tidak bertanggung jawab. Mahasiswa adalah bagian dari kami. Justru kami berterima kasih karena telah menjadi kontrol agar birokrasi Bangkalan bisa lebih baik,” tutupnya. (nardi)




