Berikut hasil perbaikan dan pengembangan berita Anda:


JUDUL UTAMA

UGM Bangun 100 Huntara Pascabanjir Aceh, Warga Dilatih Jadi Tukang Konstruksi

JUDUL ALTERNATIF (SEO-Friendly) Pemulihan Pascabanjir Aceh: UGM dan Rumah Zakat Latih Warga Bangun Hunian Sendiri


TEKS BERITA

ACEH UTARA, GEMADIKA.com – Universitas Gadjah Mada (UGM) mengambil peran aktif dalam pemulihan pasca banjir di Sumatera dengan pendekatan inovatif: memberdayakan warga terdampak untuk membangun hunian sementara mereka sendiri. Program ini menempatkan warga bukan sebagai penerima bantuan pasif, melainkan sebagai subjek utama pemulihan dengan dukungan keilmuan dan pendampingan teknis dari kampus.

Salah satu inisiatif nyata adalah pelatihan keterampilan konstruksi bagi warga untuk mendukung pembangunan 100 unit Hunian Sementara (Huntara) di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara. Program ini menjadi bukti bahwa pemulihan pascabencana bisa dilakukan dengan memberdayakan masyarakat lokal.

Pelatihan Konstruksi untuk Warga

Pelatihan keterampilan konstruksi dilaksanakan pada 31 Desember 2025 dengan melibatkan tim ahli konstruksi dan kebencanaan dari Tim Tangguh Fakultas Teknik UGM. Sebanyak 14 peserta dari Desa Geudumbak dan sekitarnya mengikuti pelatihan intensif ini.

Ketua Tim, Ashar Saputra, Ph.D., menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan membekali warga dengan keterampilan konstruksi kayu yang aplikatif dan sesuai dengan desain hunian sementara yang dikembangkan UGM.

“Kami berangkat dari Yogyakarta dan langsung mendampingi pelatihan agar warga siap membangun hunian ini bersama-sama,” ujar Ashar, Jumat (2/1/2026).

Desain huntara yang diterapkan menggunakan pendekatan konstruksi sederhana agar mudah dipahami dan direplikasi oleh warga. Tim UGM mendampingi warga dalam memahami teknik pembangunan rumah papan berukuran 6×6 meter yang dapat diselesaikan dengan cepat namun tetap layak huni.

Baca juga :  Uang Rakyat Rp29 Milliar Untuk Parpol:SAPA Desak Buka Laporan Penggunaan.

“Kami melihat warga sangat cepat memahami teknologi konstruksi yang kami perkenalkan,” kata Ashar mengapresiasi antusiasme peserta pelatihan.

Menghadapi Tantangan di Lapangan

Pelaksanaan pembangunan di lapangan tidak lepas dari sejumlah tantangan nonteknis. Keterbatasan listrik, air bersih, serta kondisi jalan yang berlumpur akibat hujan terus-menerus memerlukan penyesuaian dalam proses kerja.

Meski demikian, pendampingan tetap berjalan dengan memaksimalkan sumber daya yang tersedia dan kreativitas tim serta warga dalam mencari solusi.

“Di lokasi ini tantangan utamanya memang listrik, air bersih, dan akses, tapi itu masih bisa kami atasi bersama warga,” tutur Ashar dengan optimis.

Antusiasme Warga: Kunci Keberhasilan

Antusiasme warga menjadi modal penting dalam pelaksanaan pembangunan huntara. Keterlibatan mereka dalam setiap tahap pekerjaan tidak hanya mempercepat proses, tetapi juga menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap hunian yang dibangun.

Warga tidak sekadar menunggu bantuan dari pihak luar, tetapi aktif berkontribusi sebagai bagian dari tim pembangunan. Mereka terlibat langsung dalam mengukur, memotong kayu, merakit, hingga finishing rumah mereka sendiri.

“Warga sangat bersemangat karena mereka bisa ikut membangun rumahnya sendiri dan melihat hasilnya secara langsung,” ujar Ashar menggambarkan semangat gotong royong yang tumbuh di lokasi.

Kolaborasi dengan Rumah Zakat

Kolaborasi dengan mitra kemanusiaan turut memperkuat pelaksanaan program di lapangan. Dalam pembangunan 100 unit huntara ini, UGM bekerja sama dengan Rumah Zakat yang mendukung pendanaan dan fasilitasi kebutuhan dasar selama proses pembangunan.

Perwakilan Rumah Zakat, Ar Razi Izzatul Yazid, menjelaskan bahwa sinergi ini memungkinkan pendekatan keilmuan dari UGM diterapkan secara efektif di lokasi terdampak.

Baca juga :  Sambut Iduladha 1447 H, Pemkab Nagan Raya Gelar Gerakan Pangan Murah di 10 Kecamatan

“Kami menyiapkan genset serta mengupayakan sumur dan toren air agar pembangunan huntara dapat berjalan lancar,” jelas Yazid menjelaskan dukungan infrastruktur yang diberikan.

Keterampilan Baru untuk Masa Depan

Selain penyediaan hunian, kolaborasi ini juga menekankan peningkatan kapasitas warga melalui transfer pengetahuan konstruksi. Metode konstruksi yang diperkenalkan menjadi pengetahuan baru yang dapat dimanfaatkan warga dalam jangka panjang, bahkan untuk membangun rumah permanen atau membantu warga lain.

Dampak positif ini dirasakan langsung oleh warga yang terlibat dalam pembangunan. Mereka tidak hanya mendapat hunian baru, tetapi juga keterampilan yang bisa menjadi sumber penghidupan.

“Bagi warga di sini, ini menjadi wawasan baru bahwa dengan papan pun bisa membangun rumah yang kuat dan layak,” ungkap Yazid menjelaskan perubahan perspektif warga tentang konstruksi rumah kayu.

Dampak Signifikan bagi Pemulihan

Kehadiran hunian sementara dinilai memberi dampak signifikan bagi penyintas banjir dalam fase pemulihan. Hunian memungkinkan warga kembali tinggal dengan aman, nyaman, serta menjaga privasi keluarga yang sempat terganggu saat mengungsi.

Keterlibatan warga dalam pembangunan juga membuka peluang pemulihan ekonomi lokal. Warga yang terlibat mendapat upah, sementara yang memiliki keterampilan bisa membuka peluang usaha jasa konstruksi di masa mendatang.

“Warga sangat bersyukur karena bisa kembali memiliki hunian yang aman dan melanjutkan penghidupan mereka setelah bencana,” pungkas Yazid.

Program pembangunan huntara berbasis pemberdayaan masyarakat ini menjadi model pemulihan pascabencana yang berkelanjutan. Warga tidak hanya pulih dari sisi fisik dengan memiliki tempat tinggal, tetapi juga secara ekonomi dengan keterampilan baru yang dimiliki.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami