INUVIK, GEMADIKA.com – Menjalani ibadah Ramadan di wilayah Arktik menghadirkan pengalaman yang sangat berbeda bagi umat Muslim. Di Kota Inuvik, matahari hampir tidak pernah terbenam saat musim panas, sehingga menimbulkan tantangan tersendiri dalam menjalankan ibadah puasa dan salat.
Imam setempat, Saleh Hasabelnabi, mengaku bahwa pengalamannya menghadapi fenomena alam tersebut untuk pertama kalinya terasa mengejutkan.
“Pertama kali itu seperti kejutan. Aku tidak percaya. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku berdoa lima kali, matahari masih bersinar,” ujarnya.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, komunitas Muslim di Inuvik memutuskan mengikuti waktu di Mekkah sebagai acuan jadwal salat dan puasa. Penyesuaian ini dilakukan agar ibadah tetap dapat dijalankan secara teratur meskipun kondisi alam setempat tidak memungkinkan penentuan waktu berdasarkan matahari.
Di kota kecil yang terletak di kawasan tundra Arktik itu, terdapat sebuah masjid yang dikenal dengan julukan “Little Mosque on the Tundra.” Masjid tersebut menjadi pusat kegiatan keagamaan bagi sekitar 100 hingga 120 umat Muslim yang tinggal di wilayah tersebut.
Di tempat inilah mereka berkumpul untuk berbuka puasa bersama atau iftar, menikmati hidangan rumahan seperti masakan khas Sudan, sekaligus mempererat kebersamaan di tengah hamparan tundra yang luas dan suhu udara yang bisa sangat rendah.
Salah satu jemaat, Mohamed Asad Behrawar, mengungkapkan bahwa menyesuaikan diri dengan fenomena alam tersebut bukanlah hal mudah.
“Ini pengalaman yang berbeda,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa meskipun sebelumnya pernah tinggal di Edmonton—yang juga memiliki durasi siang yang panjang saat musim panas—kondisi di Inuvik tetap terasa lebih menantang.
Sementara itu, seorang warga senior komunitas Muslim setempat, Abadallah el-Bekai, menilai bahwa menjalani Ramadan di wilayah Arktik memberikan pengalaman spiritual yang unik.
Pria berusia 75 tahun asal Palestina yang telah menetap di Inuvik selama sekitar 25 tahun tersebut mengatakan bahwa kondisi lingkungan yang terpencil justru memperkuat rasa kebersamaan dan solidaritas di antara anggota komunitas kecil tersebut.
Menurutnya, Ramadan di wilayah yang ekstrem seperti ini mengajarkan pentingnya rasa syukur dan saling mendukung satu sama lain.
Pengalaman Ramadan di bawah fenomena “matahari tengah malam” ini menunjukkan bagaimana umat Muslim di berbagai belahan dunia mampu menyesuaikan praktik ibadah dengan kondisi geografis yang berbeda-beda.
Di Inuvik, adaptasi tersebut bukan sekadar penyesuaian teknis terhadap waktu ibadah, tetapi juga cara menjaga makna spiritual Ramadan di tengah cahaya matahari yang hampir tidak pernah padam.
(Sumber: KOMPAS.com)




