JAKARTA, GEMADIKA.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Presiden AS Donald Trump pada Jumat (6/3/2026) secara tegas menyatakan tidak akan ada kesepakatan dengan Iran selama negara itu tidak mau menyerah tanpa syarat.

Pernyataan tersebut ditulis Trump melalui platform media sosialnya, Truth Social.

“Tak akan ada kesepakatan kecuali Iran menyerah tanpa syarat,” tulis Trump, dikutip dari Al-Jazeera.

Trump melanjutkan, setelah penyerahan dilakukan dan terpilihnya pemimpin baru yang dapat diterima, Amerika Serikat bersama sekutu-sekutunya siap membantu Iran bangkit kembali.

“Setelah itu, dan setelah terpilihnya pemimpin yang hebat dan dapat diterima, kami dan banyak sekutu serta mitra kami yang luar biasa dan sangat berani, akan bekerja tanpa lelah membawa Iran kembali dari ambang kehancuran, menjadikannya lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat secara ekonomi daripada sebelumnya,” ucap Trump.

Latar Belakang Konflik

Ketegangan ini bermula dari serangan gabungan AS dan Israel terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, pada 28 Februari 2026, yang menimbulkan kerusakan dan korban sipil. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di seluruh Timur Tengah.

Konflik ini telah menyebar luas — memicu perang antara Hizbullah dan Israel, krisis pengungsi massal di Lebanon, serangan terhadap infrastruktur energi di negara-negara Teluk, hingga penutupan Selat Hormuz yang mengakibatkan lonjakan harga minyak global.

Iran: Lawan Hingga Peluru Terakhir

Iran merespons dengan keras. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, menegaskan negaranya tidak punya pilihan selain melawan.

“Prioritas Iran adalah memberikan perlawanan maksimal kepada agresor,” ungkap Khatibzadeh.

“Kita sedang diserang, diinvasi oleh Amerika dan Israel, dan mereka mencoba menimbulkan kerusakan maksimal pada Iran. Saat ini, warga negara saya terus-menerus dibombardir oleh Amerika dan Israel. Teheran terus-menerus diserang, dan kita tidak punya pilihan selain melawan hingga peluru terakhir yang kita miliki dan hingga tentara terakhir yang kita miliki,” tegasnya kepada kantor berita ANI.

Khatibzadeh juga menyoroti ancaman terhadap tatanan hukum internasional.

“Ini adalah pertempuran yang sangat heroik… bagi kita, dan kita harus menghentikan agresor dan kekejaman mereka di Iran… Sekarang hukum internasional sedang diserang, begitu pula Iran. Sayangnya, prinsip-prinsip hukum internasional telah diserang, dan kita harus bersatu melawan kekejaman ini,” kata Khatibzadeh.

Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut sejumlah negara telah menawarkan mediasi untuk mengakhiri konflik. Ia menegaskan Iran berkomitmen pada perdamaian, namun tetap siap membela diri.

“Mediasi harus ditujukan kepada mereka yang meremehkan rakyat Iran dan memicu konflik ini,” ujar Pezeshkian di media sosialnya.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami