JAKARTA, GEMADIKA.com — Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang terus bergelombang, Bank Indonesia (BI) tampil optimistis dan penuh persiapan. BI memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 berada pada kisaran 4,9–5,7 persen, didukung oleh konsumsi dan investasi yang meningkat, serta ekspor yang cukup baik di tengah perlambatan ekonomi dunia.
Untuk mewujudkan proyeksi tersebut, BI telah memetakan lima strategi utama yang dirancang sebagai benteng ketahanan ekonomi nasional dari berbagai ancaman, baik dari dalam maupun luar negeri.
Lima Tantangan Global yang Harus Diwaspadai
Sebelum berbicara strategi, penting memahami ancaman yang dihadapi. Lima tantangan global yang perlu terus dicermati adalah berlanjutnya kebijakan tarif AS, melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia, tingginya utang pemerintah dan suku bunga negara maju, tingginya kerentanan dan risiko sistem keuangan dunia, serta maraknya uang kripto dan stablecoins pihak swasta.
5 Strategi BI untuk Jaga Ekonomi Tetap Tangguh
Kebijakan moneter 2026 dirancang pro-stability dan pro-growth dengan tetap membuka ruang penurunan suku bunga BI Rate guna mendorong pertumbuhan ekonomi. Berikut lima pilar strategi yang disiapkan BI:
1. Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah Stabilisasi rupiah dilakukan melalui intervensi di pasar valas luar negeri dan domestik, pengelolaan devisa hasil sumber daya alam, serta pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder.
2. Pengendalian Inflasi Inflasi akan tetap dijaga rendah dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen pada 2026 dan 2027 didukung konsistensi kebijakan moneter, kebijakan fiskal, eratnya sinergi pengendalian inflasi baik di pusat maupun di daerah, dan penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional.
3. Penguatan Sinergi Fiskal-Moneter Sinergi fiskal-moneter diperkuat lewat koordinasi KSSK, tidak hanya untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan menjalankan UU P2SK, tetapi juga mendorong pembiayaan, konsolidasi perbankan, pendalaman pasar keuangan, serta perlindungan konsumen.
4. Akselerasi Pendalaman Pasar Keuangan Bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran didukung dengan akselerasi pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA) sesuai dengan BPPU 2030 untuk memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter, pengembangan pasar sekunder yang modern dan berstandar internasional, serta perluasan instrumen pembiayaan perekonomian.
5. Kebijakan Makroprudensial Pro-Growth Kebijakan makroprudensial dan kebijakan sistem pembayaran pada 2026 tetap diarahkan untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Indonesia Tetap Tangguh di Tengah Gejolak
Indonesia memiliki peluang mempertahankan pertumbuhan di atas 5 persen dan memperkuat posisi sebagai ekonomi emerging market yang tangguh di Asia, dengan strategi yang tepat dan respons kebijakan yang adaptif.
BI-Rate sebesar 4,75 persen merupakan cerminan sikap akomodatif dengan tetap mengedepankan kehati-hatian, menjaga inflasi yang terkendali di kisaran target 2,5 persen ±1 persen sebagai hasil dari manajemen inflasi inti yang efektif.
Lima strategi ini diharapkan menjadi fondasi kokoh bagi Indonesia untuk menavigasi tahun 2026, tahun yang penuh tantangan, namun juga penuh peluang bagi bangsa yang terus bergerak maju.




