JAKARTA, GEMADIKA.com – Kebiasaan minum air dingin setelah makan daging kerap dikaitkan dengan anggapan bahwa lemak dalam tubuh bisa membeku. Mitos ini kembali ramai dibicarakan, terutama saat momen Iduladha ketika konsumsi makanan berlemak seperti sate dan gulai meningkat.

Namun, anggapan tersebut dipastikan tidak benar oleh dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi-hepatologi dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH.

Menurutnya, makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh akan menyesuaikan dengan suhu tubuh, sehingga tidak mungkin menyebabkan lemak membeku di saluran pencernaan.

“Jadi enggak mungkin kita kalau minum air dingin masuk ke tenggorokan, masuk ke usus itu dalam bentuk yang masih dingin,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa tubuh memiliki mekanisme alami untuk mengatur suhu, sehingga baik minuman dingin maupun panas akan segera menyesuaikan dengan suhu tubuh.

“Tidak, pasti akan dirubah menjadi suhu tubuh. Dengan merubah menjadi suhu tubuh makanya tidak mungkin dia menyebabkan terjadinya seperti yang tadi ya, membeku atau menjadi mengeras. Tidak, justru tidak akan terjadi apa-apa. Mau dia minum air panas, air dingin, apakah kemudian lemak ataupun makannya itu akan menjadi beku setelah kita minum,” katanya.

Baca juga :  Tak Cukup Skincare, Dokter Ungkap Rahasia Kulit Sehat Harus Dirawat dari Dalam

Suhu Lambung Hanya Berubah Sementara

Penjelasan ini juga didukung oleh penelitian dalam jurnal Gut yang menunjukkan bahwa suhu di lambung memang dapat berubah sementara setelah mengonsumsi minuman dingin. Namun, suhu tersebut akan kembali mendekati suhu normal tubuh dalam waktu sekitar 20 hingga 30 menit.

Secara fisiologis, tubuh manusia memiliki sistem thermoregulation atau pengaturan suhu tubuh. Sistem ini memastikan bahwa makanan dan minuman tidak bertahan lama dalam kondisi suhu ekstrem di dalam saluran pencernaan.

Justru Gula yang Perlu Diwaspadai

Meski demikian, dr Aru mengingatkan bahwa hal yang perlu diperhatikan bukanlah suhu minuman, melainkan kandungan gula dalam minuman yang sering dikonsumsi bersama makanan berlemak, seperti es teh manis.

“Yang justru diperhatikan dengan es teh manis itu bukan es teh manisnya, tetapi manisnya, karbohidratnya, glukosanya,” ujarnya.

Baca juga :  Sekolah Rakyat Dinilai Setengah Mangkrak, Menteri PU Copot Pejabat dan Bongkar Penyebab Keterlambatan

Ia menambahkan bahwa konsumsi gula berlebih, terutama pada orang dengan risiko diabetes atau kolesterol tinggi, dapat meningkatkan kadar gula darah dan memicu pembentukan lemak dalam tubuh.

“Ada beberapa kondisi di mana gula darah yang tinggi kemudian disimpan oleh tubuh menjadi bentukan lemak atau kolesterol. Jadi gulanya yang justru berbahaya, bukan tehnya dan juga bukan dinginnya,” jelasnya.

Imbauan untuk Pola Makan Seimbang

Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak mudah percaya pada mitos yang belum terbukti secara ilmiah. Sebaliknya, penting untuk menjaga pola makan seimbang, membatasi konsumsi gula, serta memperhatikan porsi makanan selama perayaan Iduladha.

Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat dapat menikmati hidangan khas Iduladha tanpa khawatir terhadap informasi yang tidak benar, sekaligus tetap menjaga kesehatan tubuh.

Dilansie dari Detikhelt

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami