JAKARTA, GEMADIKA.com – Harapan besar untuk mengabdi kepada negara justru berujung kekecewaan bagi Tri Agus (27), peserta seleksi manajer Koperasi Merah Putih yang mengaku mengalami berbagai kendala teknis saat mengikuti Computer Assisted Test (CAT) di Kantor Badan Kepegawaian Negara (BKN) Pusat, Cililitan, Jakarta, Rabu (06/05/2026).

Tri yang saat ini bekerja sebagai petugas keamanan di salah satu rumah sakit di Jakarta mengaku mengikuti rekrutmen tersebut demi mewujudkan cita-cita kedua orang tuanya yang telah meninggal dunia.

“Motivasi saya ikut rekrutmen ini demi mewujudkan cita-cita kedua orang tua, yang sudah tiada,” kata Tri.

Ingin Mengabdi untuk Negara

Tri mengaku tertarik mengikuti rekrutmen nasional calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih karena melihat program tersebut sebagai bagian dari upaya penguatan ekonomi rakyat.

“Saya ingin ikut serta dalam pengabdian untuk negara, lebih-lebih ini fokus pada perkembangan ekonomi rakyat melalui program prioritas bapak presiden,” ungkapnya.

Dengan penuh semangat, Tri menjalani seluruh tahapan pendaftaran hingga akhirnya mendapatkan jadwal mengikuti tes CAT pada 6 Mei 2026.

Namun, saat pelaksanaan ujian berlangsung, ia mengaku menemukan berbagai persoalan teknis yang dinilai mengganggu konsentrasi peserta.

Keluhkan Sistem Error

Tri menyebut sistem komputer yang digunakan dalam tes diduga mengalami gangguan, mulai dari kursor bergerak sendiri hingga jawaban yang berubah otomatis.

“Mouse bergerak sendiri, jawaban yang sudah dipilih bisa berubah, bahkan soal yang sudah dilewati bisa kembali lagi. Untuk memilih jawaban juga harus klik berkali-kali,” katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat peserta kesulitan mengerjakan soal secara maksimal, terlebih waktu pengerjaan yang dinilai sangat terbatas.

“Dengan waktu seperti itu, idealnya satu menit harus menjawab 8 sampai 10 soal. Tapi kenyataannya, waktu habis bukan karena menjawab soal, melainkan karena sistem yang bermasalah,” ujarnya.

Tri juga mengaku banyak peserta lain merasakan hal serupa selama ujian berlangsung.

“Kami sempat mempertanyakan ke panitia, apakah CAT sebelumnya sudah dicek atau belum. Tapi tidak ada respons berarti dari panitia saat itu,” tambahnya.

Harap Jadi Evaluasi

Meski merasa dirugikan, Tri mengaku tetap berusaha menyelesaikan ujian dengan maksimal dan berharap persoalan tersebut menjadi perhatian serius penyelenggara.

“Kalau dibilang dirugikan, tentu iya. Tapi sebagai peserta, kami hanya bisa berharap ke depan sistem dan alatnya benar-benar diperbaiki,” tuturnya.

Ia bahkan menilai pengalaman ujian yang dijalaninya belum mencerminkan proses seleksi yang ideal.

“Menurut kami, itu bukan ujian, tapi seperti iseng-iseng berhadiah,” tutupnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak penyelenggara terkait keluhan para peserta mengenai dugaan gangguan sistem dalam pelaksanaan tes tersebut.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami