JAKARTA, GEMADIKA.com — Di tengah ramainya perbincangan soal kendaraan listrik di Indonesia hari ini, ada sebuah fakta sejarah yang nyaris terlupakan. Bahwa bangsa ini sebenarnya pernah selangkah lebih maju, jauh sebelum kata “mobil listrik” akrab di telinga masyarakat umum.

Cerita ini bermula dari sebuah bengkel kampus di Depok, sekitar 29 tahun silam.

Lahir dari Tangan Mahasiswa

Pada Juli 1997, sepuluh mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Universitas Indonesia (UI) berhasil mewujudkan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya di Indonesia. sebuah kendaraan bertenaga listrik yang mereka rancang dan bangun sendiri dari nol. Proyek ambisius ini rampung dalam waktu sembilan bulan, di bawah komando Sabda Firman Jusuf selaku ketua tim.

Kendaraan yang kemudian dikenal dengan nama KAL ini bukan sekadar pajangan. Ia benar-benar bisa berjalan. Ditenagai empat baterai berkapasitas masing-masing 12 volt dan 120 AH, KAL mampu melaju hingga 20 km/jam di jalan datar, mengangkut enam orang sekaligus, dan bertahan hingga 75 menit sebelum kehabisan daya.

Baca juga :  Disegel Dishub, Omzet Parkir Ilegal di Blok M Diduga Tembus Rp100 Juta per Hari

Untuk membuat KAL, sepuluh mahasiswa yang diketuai Sabda Firman Jusuf menyelesaikannya dalam waktu sembilan bulan. Mereka mendapat bantuan dari PT Roda Naga Karya untuk bisa menyelesaikan prototipe pertama itu,” demikian laporan harian Kompas, 25 Juli 1997.

Memang, dibanding teknologi global saat itu General Motors misalnya, sudah menghadirkan mobil listrik berkecepatan 100 km/jam dengan pengisian induktif KAL tergolong sederhana. Tapi bukan soal kecepatan yang menjadi ukurannya. Ini soal keberanian berpikir melampaui zaman.

Impian Ibu Kota yang Tak Kesampaian

KAL lahir bukan tanpa alasan. Pemerintah DKI Jakarta kala itu sedang mencari solusi untuk masalah transportasi kota. mengganti bemo dan ojek dengan kendaraan yang lebih bersih dan efisien. Mobil listrik dilirik sebagai jawaban.

Bersamaan dengan itu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) lewat Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik juga tengah menggodok ide serupa. Salah satu rencana yang sempat bergulir adalah memodifikasi kendaraan konvensional populer seperti Timor dan Kijang. mencabut mesin bakarnya dan menggantinya dengan motor listrik. Prototipe kendaraan khusus pun sempat dirancang, mulai dari mobil golf, ambulans, hingga mobil patroli.

Baca juga :  Dalih “Siap Ganti Rugi” Tuai Kecaman: Alun-Alun Dibangun dari Uang Rakyat, Publik Soroti Perizinan terhadap Pasar Malam di Jantung Kota Galang

Namun semua itu tak pernah benar-benar lepas landas. Ekosistem pendukung belum ada, teknologi baterai masih mahal dan terbatas, dan dukungan industri belum cukup kuat. KAL pun perlahan menghilang dari pemberitaan, menjadi kenangan yang tersimpan rapi di lembar-lembar arsip surat kabar lama.

Warisan yang Layak Dikenang

Hari ini, ketika SPKLU sudah mulai menjamur di berbagai kota dan kendaraan listrik bukan lagi barang langka di jalanan Indonesia, ada baiknya kita sejenak menoleh ke belakang.

KAL bukan hanya sebuah prototipe tua. Ia adalah bukti bahwa semangat inovasi anak bangsa sudah menyala jauh sebelum waktunya, hanya butuh lingkungan yang tepat untuk benar-benar menyala terang.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami