REMBANG, GEMADIKA.com  – Sebuah pusaka budaya bernama Pataka Bumi Jawi diperkenalkan dalam rangkaian Gelar Budaya Santibadra 2026 yang digelar di Punden Tapaan Santibadra, Dukuh Ngasinan, Desa Warugunung, Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang, Senin (15/6/2026).

‎Pusaka tersebut diperkenalkan oleh penggiat sejarah Lasem, Danang Swastika, yang menjelaskan filosofi serta kisah sejarah yang melatarbelakangi pembuatannya.

‎Menurut Danang, Pataka Bumi Jawi akan disimpan di sekretariat sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya dan sejarah yang selama ini terus dijaga oleh komunitas Putra Wayah Lasem.

‎”Ini satu bentuk gunungan, atau tempat, atau wilayah. Bagian ini adalah tanduk kerbau atau banteng. Dalam bahasa pada era Ki Seng Dhang sekitar 230 sebelum Masehi, banteng betina itu dinamakan Jawi,” ujar Danang.

‎Selain bentuk tanduk yang menjadi simbol Jawi, Pataka Bumi Jawi juga menampilkan sosok ikan pesut. Danang menjelaskan, ikan pesut dipilih karena memiliki keterkaitan dengan kisah perjalanan Ki Seng Dhang yang menurut tradisi lisan berasal dari wilayah Sampit, Kalimantan.

‎”Ikan pesut ini dulunya dikenal sebagai hewan mitologi yang akrab di sungai-sungai Kalimantan. Sementara Ki Seng Dhang adalah tokoh dari Sampit yang kemudian berpindah ke wilayah Tanjung Putri, Pandangan, Kragan,” katanya.

‎Perpindahan tersebut, lanjut Danang, terjadi ketika daerah asal Ki Seng Dhang dilanda pagebluk atau wabah penyakit yang menyebabkan banyak korban jiwa.

‎”Saat itu terjadi wabah yang oleh masyarakat disebut sogrok weteng. Esuk lara sore mati, esuk lara sore mati. Akhirnya Ki Seng Dhang bersama keluarganya melakukan migrasi dan berlabuh di Tanjung Putri,” jelasnya.

‎Di kawasan pesisir tersebut, Ki Seng Dhang kemudian membangun kehidupan baru bersama keluarganya. Seiring berkembangnya wilayah pelabuhan yang ramai didatangi para pendatang dari berbagai daerah, terjadi proses akulturasi budaya melalui interaksi dan perkawinan antarmasyarakat.

‎Menurut Danang, setelah hampir dua puluh tahun menetap di kawasan itu, Ki Seng Dhang kemudian menyampaikan sebuah gagasan yang menjadi inspirasi lahirnya Pataka Bumi Jawi.

‎”Beliau mengatakan bahwa mereka sudah lama hidup di bumi itu dan bukan lagi orang Sampit. Beliau mengambil filosofi banteng betina atau Jawi. Dari situlah muncul ungkapan, ‘Bumine tak jenengno Bumi Jawa, wonge wong Jawi’,” tutur Danang.

‎Kisah tersebut, kata Danang, menjadi inspirasi utama lahirnya Pataka Bumi Jawi yang kini dijadikan simbol pemersatu masyarakat.

‎”Makanya lambang ini menjadi satu inspirasi bagi kami. Bahwa ini kita jadikan sebuah pusaka pemersatu Nusa Kendeng,” pungkasnya.

Baca juga :  Jembatan Armco Desa Pakis Mulai Dibangun, TNI dan Warga Gotong Royong Perkuat Akses Pertanian

Penulis : Aziz
Editor : Rini

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami