BLORA, GEMADIKA.com – Aksi Tumpah Tebu yang digelar ribuan petani di depan Pabrik Gula (PG) GMM Todanan, Kabupaten Blora, Senin (1/6/2026), tidak hanya menjadi ajang penyampaian tuntutan terkait nasib petani tebu. Di tengah gelombang aspirasi yang mengemuka, aksi tersebut juga menjelma menjadi panggung demokrasi rakyat melalui sesi mimbar bebas yang memberi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pandangan, kritik, dan harapan secara terbuka.
Melalui mimbar bebas tersebut, petani, mahasiswa, aktivis, hingga tokoh masyarakat bergantian menyuarakan berbagai persoalan yang mereka hadapi, mulai dari tingginya biaya produksi pertanian, mahalnya harga pupuk, ketidakpastian harga jual tebu, hingga kesejahteraan petani yang dinilai masih perlu mendapat perhatian serius dari para pemangku kebijakan.

Koordinator aksi, Exy Wijaya, mengatakan mimbar bebas sengaja disiapkan agar masyarakat dapat berbicara secara langsung tanpa dibatasi latar belakang maupun status sosial.
”Kami ingin memberikan ruang yang sama bagi semua pihak untuk menyampaikan suara mereka. Petani harus didengar karena merekalah yang merasakan langsung dampak berbagai kebijakan di lapangan,” ujarnya di sela kegiatan.
Menurut Exy, aksi tersebut bukan sekadar penyampaian keluhan, melainkan juga upaya menghadirkan fakta-fakta yang dialami petani sehari-hari agar menjadi perhatian para pemangku kepentingan.
Di tengah ribuan peserta yang memadati lokasi aksi, satu per satu warga naik ke atas panggung untuk menyampaikan pendapat. Beragam aspirasi disuarakan, mulai dari persoalan produksi hingga harapan terhadap kebijakan pemerintah yang lebih berpihak kepada petani.
Sejumlah mahasiswa yang hadir turut memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyampaikan pandangan kritis mengenai tata niaga gula nasional dan perlunya regulasi yang mampu melindungi petani kecil.
Mereka menilai keberadaan mimbar bebas menjadi bentuk pendidikan demokrasi yang nyata di tengah masyarakat.
”Masyarakat bisa belajar menyampaikan pendapat secara terbuka dan tertib. Ini menunjukkan bahwa aspirasi dapat disuarakan tanpa harus mengedepankan tindakan yang merugikan pihak lain,” katanya.
Selain petani dan mahasiswa, sejumlah tokoh masyarakat juga menyampaikan pandangan mengenai pentingnya menjaga ketahanan pangan nasional melalui peningkatan kesejahteraan petani.
Mereka menegaskan bahwa sektor pertanian merupakan fondasi penting yang tidak boleh diabaikan dalam pembangunan daerah maupun nasional.
Sepanjang kegiatan berlangsung, suasana aksi terpantau kondusif. Massa menyampaikan aspirasi secara bergantian sambil membawa berbagai simbol perjuangan petani, termasuk tumpukan tebu yang sengaja dihadirkan di lokasi aksi sebagai representasi hasil kerja keras masyarakat pedesaan.
Keberadaan mimbar bebas dalam aksi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat masih memilih jalur demokratis untuk menyampaikan tuntutan mereka.
”Ketika masyarakat diberikan ruang untuk berbicara dan didengar, maka demokrasi berjalan sebagaimana mestinya. Aspirasi yang disampaikan secara terbuka dan damai merupakan bagian penting dari kehidupan berbangsa,” ujar Exy.
Aksi Tumpah Tebu sekaligus menjadi pengingat bahwa persoalan yang dihadapi petani tidak hanya menyangkut satu kelompok tertentu, melainkan berkaitan dengan ketahanan pangan, perekonomian daerah, dan masa depan sektor pertanian secara keseluruhan.
Melalui mimbar bebas tersebut, suara-suara dari akar rumput mendapatkan ruang untuk disampaikan secara langsung kepada publik maupun para pengambil kebijakan.





Tinggalkan Balasan Batalkan balasan