SEMARANG, GEMADIKA.com – Di tengah perkembangan Kota Semarang yang semakin modern, terdapat sebuah lokasi yang hingga kini masih menyimpan nilai sejarah, budaya, dan spiritual yang kuat, yakni Tugu Soeharto yang berada di kawasan Gajahmungkur. Monumen yang berdiri di sekitar pertemuan aliran Kali Garang dan Kali Kreo tersebut menjadi salah satu ikon budaya yang selalu ramai dikunjungi masyarakat, khususnya saat malam 1 Suro.
Tugu Soeharto tidak hanya dikenal sebagai bangunan bersejarah, tetapi juga menjadi pusat pelaksanaan tradisi kungkum, yakni ritual berendam yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Jawa.
Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, kawasan tersebut memiliki kaitan dengan perjalanan Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, saat masih menjadi perwira militer dalam masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Konon, Soeharto muda pernah singgah dan melakukan semedi di kawasan pertemuan dua sungai tersebut ketika bergerilya di wilayah Semarang. Lokasi yang kala itu masih berupa kawasan hutan dan sungai yang sepi dipercaya memiliki energi spiritual yang kuat.
Setelah Soeharto menjabat sebagai presiden, sebuah monumen kemudian dibangun di lokasi tersebut dan dikenal sebagai Tugu Soeharto. Sejak saat itu, kawasan tersebut berkembang menjadi salah satu tempat yang sarat nilai sejarah dan tradisi masyarakat Jawa.
Pemerintah Kota Semarang melalui akun resminya menyebutkan bahwa Tugu Soeharto memiliki hubungan erat dengan kisah spiritual Presiden Soeharto.
“Tugu Soeharto sendiri merupakan bangunan bersejarah di Kota Semarang. Dalam cerita sejarahnya Tugu Soeharto memiliki hubungan spiritual Presiden kedua RI yaitu Soeharto. Presiden kedua RI ini melakukan tradisi kungkum atau berendam dan menancapkan tongkat di sana, nah titik tersebut yang menjadi Tugu Soeharto Semarang saat ini,” tulis Pemkot Semarang.
Tradisi Kungkum Malam 1 Suro
Salah satu tradisi yang paling dikenal di kawasan ini adalah ritual kungkum yang dilakukan setiap malam 1 Suro atau Tahun Baru Jawa.
Dalam budaya Jawa, malam 1 Suro dianggap sebagai waktu yang sakral untuk melakukan introspeksi diri, tirakat, dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Tradisi kungkum dilakukan dengan cara berendam di aliran sungai mulai tengah malam hingga menjelang subuh.
Masyarakat yang mengikuti ritual tersebut biasanya memiliki berbagai tujuan, mulai dari memohon keselamatan, kesehatan, kelancaran rezeki, hingga sebagai bentuk pembersihan diri secara lahir dan batin.
Sebagian pelaku ritual juga menjalani puasa mutih atau laku tirakat sebelum melakukan kungkum agar proses spiritual yang dijalankan lebih khusyuk.
Selain berendam, sejumlah masyarakat juga melakukan tradisi jamas pusaka, yaitu membersihkan benda-benda pusaka seperti keris, tombak, maupun golok sebagai bagian dari budaya Jawa yang masih lestari hingga saat ini.
Pertemuan Dua Sungai yang Diyakini Memiliki Energi Alam
Kepercayaan masyarakat terhadap Tugu Soeharto juga tidak lepas dari lokasinya yang berada di titik pertemuan Kali Garang dan Kali Kreo.
Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, pertemuan dua aliran sungai atau tempuran diyakini memiliki energi alam yang kuat. Karena itu, kawasan tersebut kerap dipilih sebagai lokasi berbagai ritual spiritual.
“Selain tempat ini terdapat monumen tugu sepanjang 8 meter, tempat tersebut juga sebagai tempat pertemuan dua sungai yaitu Kaligarang dan Kali Kreo,” tulis Pemkot Semarang.
Menjadi Destinasi Budaya dan Wisata Rakyat
Dalam beberapa tahun terakhir, suasana malam 1 Suro di kawasan Tugu Soeharto tidak hanya diisi kegiatan spiritual. Ratusan pedagang UMKM juga memanfaatkan momentum tersebut dengan membuka lapak di sepanjang kawasan Jalan Candi Pawon hingga Bendan Duwur.
Berbagai kuliner tradisional, minuman hangat, hingga wahana permainan anak turut meramaikan kawasan tersebut, menjadikan Tugu Soeharto sebagai perpaduan antara destinasi budaya, wisata sejarah, dan ruang interaksi masyarakat.
Meski demikian, hingga kini masih belum ditemukan catatan sejarah resmi mengenai waktu pasti pembangunan Tugu Soeharto maupun keterkaitannya dengan sejumlah kisah yang berkembang di masyarakat.
Menurut sejumlah sumber, tugu tersebut diperkirakan dibangun sekitar tahun 1970. Namun, pada bagian kaki tugu terdapat tulisan tanggal 30 September 1965 hingga 1 Oktober 1965, yang masih menjadi teka-teki dan memunculkan berbagai spekulasi sejarah.
Pemerhati sejarah Yunantyo menyebutkan bahwa hubungan antara tanggal tersebut dengan pembangunan Tugu Soeharto hingga kini masih belum dapat dipastikan.
“Tahun 1970 dibangun, tapi di kaki Tugu Soeharto tersebut ditulisi tanggal kejadian G30S yang meletus pada 30 September 1965 malam sampai 1 Oktober 1965. Masih teka-teki dan misteri,” ujarnya.
Hingga saat ini, Tugu Soeharto tetap menjadi salah satu ikon budaya unik di Kota Semarang yang memadukan sejarah, tradisi, dan kepercayaan masyarakat dalam satu kawasan yang terus hidup dari generasi ke generasi.



