GROBOGAN, GEMADIKA.com – Kabupaten Grobogan bukan sekadar hamparan sawah dan ladang jagung. Di balik julukan “Kota Swike” yang melekat erat, kabupaten yang berada di jalur strategis Semarang–Solo–Surabaya ini menyimpan kekayaan kuliner legendaris yang cita rasanya sudah dikenal hingga ke luar daerah. Dan di balik kelezatan itu, tersimpan potensi ekonomi besar yang kini tengah diperjuangkan pemerintah daerah agar ribuan pelaku UMKM kuliner lokal bisa benar-benar naik kelas.
Saat matahari terbenam di Purwodadi, kawasan Alun-Alun dan sekitarnya seolah hidup kembali. Ratusan lapak berjejer menyajikan Swike sup katak berbumbu jahe dan bawang putih yang menjadi ikon kota ini berdampingan dengan Garang Asem, Ayam Pencok, hingga Mie Tek-Tek Mbah Margini yang sudah menemani lidah warga selama puluhan tahun. Di Wirosari, Ayam Bakar Noroyono dengan dagingnya yang empuk dan bumbu meresap hingga ke tulang tak kalah melegenda. Sementara di pasar tradisional Purwodadi, jajanan seperti Nasi Pager, Emping Jagung, Becek Bebek, dan Nasi Jagung rumahan masih setia menanti penggemarnya.
Nama Swike Cik Ping di Jalan Kolonel Sugiono bahkan sudah melampaui batas kota cabangnya kini berdiri di Semarang dan Yogyakarta, menjadi bukti nyata bahwa kuliner Grobogan mampu bersaing di panggung yang lebih luas.
Potensi Besar, Tantangan Nyata
Kuliner Grobogan unggul secara alami — resep asli turun-temurun, bahan baku lokal melimpah, harga terjangkau, dan lokasi strategis di jalur lintas Jawa. Namun sebagian besar pelakunya masih berstatus usaha mikro dengan berbagai keterbatasan, mulai dari pengetahuan standar kebersihan dan keamanan pangan, kemasan yang sederhana, minimnya kemampuan pemasaran digital, hingga sulitnya mengakses permodalan dan mengurus izin edar.
Akibatnya, banyak hidangan lezat yang selama ini hanya dikenal warga lokal padahal pasarnya jauh lebih luas.
Disperindag Bergerak, UMKM Mulai Naik Kelas
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Grobogan, Pradana Setyawan, S.Pt., M.P., yang kembali dikukuhkan Bupati Grobogan pada awal 2026 untuk melanjutkan kepemimpinannya, menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak tinggal diam melihat potensi besar yang belum tergarap maksimal ini.
Salah satu terobosan penting adalah kehadiran Unit Pelaksana Teknis (UPT) BPOM di Grobogan. Kini pelaku usaha tidak perlu lagi menempuh perjalanan jauh ke Semarang hanya untuk mengurus Sertifikasi Laik Higiene, Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT), atau Nomor Izin Edar (PIRT) semua bisa diakses lebih dekat dan lebih mudah.
Disperindag juga rutin menggelar pelatihan teknik produksi higienis, pembuatan kemasan menarik dan ramah lingkungan, inovasi produk tanpa menghilangkan cita rasa asli, hingga penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI). Dengan bekal ini, produk kuliner lokal Grobogan semakin layak masuk ke minimarket, pusat oleh-oleh, bahkan dikirim ke luar kota.
Di sisi pemasaran, pedagang kuliner Grobogan mulai diajarkan memanfaatkan media sosial, mendaftar di aplikasi pesan antar, dan membuka toko daring. Produk unggulan daerah pun rutin diikutsertakan dalam pameran tingkat provinsi maupun nasional untuk memperluas jangkauan pasar.
Kawasan kuliner seperti Alun-Alun, Katamso, dan Taman Kota terus diperbaiki fasilitasnya agar pengunjung betah dan pedagang semakin percaya diri melayani. Program kemitraan, Kredit Usaha Rakyat (KUR), dan pembentukan paguyuban pedagang turut membuka akses permodalan sekaligus mendorong pengelolaan usaha yang lebih profesional.
Kuliner Grobogan pun kini mulai diposisikan sebagai daya tarik wisata tersendiri. Festival kuliner rutin, peta rute wisata makan, hingga promosi “Jelajah Rasa Grobogan” digagas untuk menarik semakin banyak wisatawan berkunjung dan menikmati langsung kekayaan cita rasa daerah ini.
Sinergi Kunci Keberhasilan
Dukungan pemerintah tentu tidak bisa berdiri sendiri. Para pelaku usaha perlu berani meningkatkan standar kebersihan, mulai mencatat keuangan, aktif belajar pemasaran digital, dan menjaga keaslian rasa sambil terus berinovasi.
Jika sinergi ini terjalin kuat, bukan tidak mungkin Swike, Garang Asem, Ayam Bakar Noroyono, dan jajanan khas Grobogan lainnya tidak hanya menggugah selera — tetapi juga menjadi sumber kesejahteraan nyata bagi ribuan keluarga, bahkan menembus pasar nasional dan ekspor.


