AMSTERDAM, GEMADIKA.com – Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa membawa dampak serius di Belanda. Selain memicu lonjakan angka kematian, cuaca panas berkepanjangan juga mengganggu aktivitas pariwisata hingga operasional transportasi publik.

Lembaga Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Belanda (RIVM) mencatat sebanyak 911 kematian berlebih selama periode 22 Juni hingga 5 Juli 2026 dibandingkan angka kematian normal pada periode yang sama.

Meski penyebab pasti setiap kasus kematian belum dapat dipastikan, RIVM menilai gelombang panas sangat mungkin menjadi faktor utama yang memicu peningkatan tersebut.

Wilayah Selatan dan Timur Paling Terdampak

Mengutip laporan NL Times, Jumat (17/7/2026), peningkatan angka kematian terjadi hampir di seluruh wilayah Belanda. Namun, daerah selatan dan timur menjadi kawasan yang paling terdampak karena mengalami suhu tertinggi selama gelombang panas berlangsung.

Baca juga :  Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan arah pengembangan wellness tourism sebagai salah satu fokus pariwisata berkualitas Indonesia dalam konferensi pers di Jakarta.

Fenomena tersebut turut memperkuat kekhawatiran terhadap dampak perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem di berbagai negara Eropa.

Jaringan pemantau kematian European Mortality Monitoring (EuroMOMO) bahkan memperkirakan sekitar 10.650 kematian di berbagai negara Eropa berkaitan dengan gelombang panas yang terjadi dalam periode tersebut.

“Terjadinya angka berlebih seperti ini dalam situasi saat ini sangat tidak biasa. Angkanya begitu tinggi,” ujar Kepala Dokter Statens Serum Institut Denmark, Lasse Vestegaard.

Wisata dan Transportasi Ikut Terganggu

Gelombang panas juga berdampak pada sektor pariwisata di Belanda. Sejumlah objek wisata melakukan penyesuaian jam operasional untuk melindungi pengunjung dari suhu ekstrem.

Salah satunya Kebun Binatang Burgers Zoo di Arnhem yang membuka kawasan wisata lebih awal agar pengunjung dapat menikmati fasilitas saat suhu udara masih relatif sejuk.

Beberapa taman hiburan lainnya juga menerapkan kebijakan serupa, bahkan ada yang memilih menutup operasional pada hari-hari tertentu ketika suhu dianggap terlalu berbahaya.

Baca juga :  Argentina Luncurkan Kereta Wisata Tenaga Surya, Susuri Lembah Berusia 10.000 Tahun di Pegunungan Andes

Di sektor transportasi, perusahaan kereta api di Belanda terpaksa mengurangi jadwal perjalanan karena suhu tinggi berpotensi menyebabkan gangguan teknis.

Cuaca panas dapat membuat rangkaian kereta mengalami overheating, sementara sistem pendingin udara tidak mampu bekerja optimal akibat suhu malam yang tetap tinggi.

Kondisi tersebut meningkatkan risiko kerusakan teknis sehingga operator memilih mengurangi frekuensi perjalanan demi menjaga keselamatan penumpang dan keandalan layanan.

Gelombang panas yang terus melanda Eropa menjadi pengingat bahwa cuaca ekstrem tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga memengaruhi berbagai sektor kehidupan, mulai dari pariwisata, transportasi, hingga aktivitas ekonomi.

Dilansir dari Detiknews.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami