JAKARTA, GEMADIKA.com – Pola pengasuhan yang tidak konsisten ternyata dapat memengaruhi perkembangan emosional anak. Dalam dunia psikologi, kondisi ini dikenal sebagai anxious attachment atau keterikatan cemas, yaitu pola hubungan yang membuat anak merasa tidak yakin apakah kebutuhan emosionalnya akan selalu dipenuhi oleh orang tua atau pengasuh.
Psikolog perkembangan Jessica Young, PhD, menjelaskan bahwa anxious attachment dapat terbentuk ketika orang tua atau pengasuh terkadang memberikan perhatian dan respons yang baik, tetapi pada kesempatan lain justru bersikap tidak konsisten, kurang responsif, atau tidak hadir secara emosional.
“Anxious attachment dapat terbentuk jika pengasuh terkadang perhatian dan responsif, tetapi di waktu lain tidak tersedia secara emosional atau bersikap mengabaikan,” ujar Young, seperti dikutip dari Parents, Kamis (16/7/2026).
Kondisi tersebut dapat memengaruhi rasa aman anak hingga berdampak pada hubungan sosial, kepercayaan diri, dan kemampuan mengelola emosi.
- Sulit Berpisah dengan Orang Tua
Anak yang mengalami anxious attachment umumnya sangat bergantung kepada orang tua. Mereka bisa menangis berlebihan saat ditinggal sekolah, menolak bermain sendiri, atau selalu ingin berada di dekat orang tua.
Meski demikian, psikolog mengingatkan agar kondisi ini dibedakan dengan kecemasan berpisah yang masih normal pada usia balita. Yang perlu diwaspadai adalah ketika ketakutan tersebut terus berlanjut hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti enggan bersekolah atau sulit bersosialisasi.
- Memiliki Kepercayaan Diri Rendah
Anak dengan anxious attachment cenderung membutuhkan pengakuan dan pujian secara terus-menerus. Mereka sering merasa ragu terhadap kemampuan sendiri dan takut melakukan kesalahan.
Dalam kehidupan sehari-hari, anak mungkin enggan mencoba hal baru atau memilih menyimpan masalah karena merasa semua kesulitan yang dialaminya merupakan kesalahannya sendiri.
Menurut Jessica Young, pola pengasuhan yang tidak konsisten membuat anak terus mencari kepastian.
“Hal ini dapat menciptakan ketidakpastian dan kecemasan pada anak sehingga mereka lebih membutuhkan kepastian,” jelasnya.
- Sangat Sensitif terhadap Kritik
Teguran atau koreksi yang sebenarnya ringan dapat diterima secara berlebihan oleh anak yang memiliki keterikatan cemas.
Psikolog Jasmine Reed, MA, PsyD, mengatakan anak dapat menganggap kritik sebagai tanda bahwa dirinya tidak lagi disayangi atau diterima.
Akibatnya, mereka menjadi takut melakukan kesalahan, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun saat berinteraksi dengan teman sebaya.
- Emosi Mudah Meledak
Anak juga cenderung mengalami ledakan emosi ketika menghadapi situasi yang membuatnya merasa ditolak atau tidak dihargai.
Mereka bisa menangis, marah, atau mengalami meltdown karena belum mampu mengungkapkan perasaan yang sebenarnya sedang dialami.
“Mereka memiliki respons emosional yang intens ketika ditolak atau menerima kritik dalam bentuk apa pun,” ungkap Reed.
Tidak Semua Anak Mengalami Hal yang Sama
Para psikolog menegaskan bahwa munculnya satu atau dua tanda di atas belum tentu berarti seorang anak mengalami anxious attachment.
Setiap anak memiliki karakter dan tahap perkembangan yang berbeda. Oleh karena itu, apabila orang tua merasa perilaku anak mulai mengganggu aktivitas sehari-hari atau berlangsung dalam jangka panjang, konsultasi dengan dokter anak maupun psikolog menjadi langkah terbaik untuk memperoleh penilaian dan penanganan yang tepat.
Dengan dukungan emosional yang konsisten, komunikasi yang hangat, serta pola pengasuhan yang responsif, anak dapat tumbuh dengan rasa aman dan mampu membangun hubungan yang sehat di masa depan.
Dilansir dari Kompascom.


