YOGYAKARTA, GEMADIKA.com – Museum Pusat TNI AU “Dirgantara Mandala” menyimpan salah satu pesawat paling ikonik dalam sejarah Angkatan Udara Indonesia, yaitu pesawat tempur Northrop F-5E Tiger II yang dijuluki “Sang Macan” oleh para penerbang TNI AU.

Pesawat buatan Amerika Serikat ini telah membuktikan ketangguhannya sejak era Perang Vietnam. Dengan bentuk badan yang panjang dan runcing, F-5E Tiger II mampu terbang dengan kecepatan supersonik hingga 1,6 Mach dan dilengkapi persenjataan canggih seperti sepasang Canon M.39 serta rudal udara ke udara AIM-9 P-2 Sidewinder yang terkenal mematikan pada masanya.

TNI AU mengoperasikan 16 unit pesawat ini, dengan 12 unit varian kursi tunggal (F-5E) dan 4 unit kursi ganda (F-5F) yang berbasis di Skadron Udara 14, Lanud Iswahyudi, Madiun, Jawa Timur. Pesawat yang mendapat julukan “Freedom Fighter” dari pabrikannya ini telah menjadi tulang punggung pertahanan udara Indonesia selama lebih dari tiga dekade, dari tahun 1980 hingga 2016.

“F-5E Tiger II merupakan salah satu alutsista terbaik yang pernah dimiliki TNI AU, dengan kemampuan terbang hingga ketinggian 50.500 kaki dan kecepatan 1,4 Mach di ketinggian jelajah 36.000 kaki,” jelas seorang pemandu di Museum Dirgantara Mandala.

Baca juga :  Istri di Bantul Nekat Serang Suami Saat Tidur, Motif Diduga Dipicu Perselingkuhan

Pesawat ini didukung oleh sepasang mesin J85-GE-13 Turbo Jet buatan General Electric yang memberikan daya jelajah hingga 1.387 mil dengan tangki penuh. Untuk keperluan tempur, F-5E memiliki radius operasi 195 mil dengan perlengkapan penuh atau 558 mil dengan tangki penuh dan dua bom di sayap.

Koleksi Pesawat Bersejarah di Museum Dirgantara Mandala

Selain F-5E Tiger II, Museum Dirgantara Mandala juga memamerkan berbagai pesawat bersejarah lainnya. Beberapa di antaranya:

  • Pesawat Amfibi PBY-5A Catalina PB-501 buatan AS
  • Pesawat Tempur/Serang Darat Douglas A-4E Skyhawk TT-0440
  • Pesawat Tempur BAE Systems Hawk 53 TT-5309
  • Replika pesawat Ultralight Wiweko Experimental Lightplane WEL-1 R.I X (pesawat pertama hasil produksi Indonesia)
  • Pesawat Tempur Mitsubishi A6M5 Zero 30-1153 buatan Jepang
  • Pesawat Pengebom B-25J Mitchell dan B-26 Invader
  • Pesawat Tempur legendaris P-51D Mustang P-338

Baru-baru ini, museum ini mendapat tambahan koleksi berupa 9 buah prototype bom buatan Dislitbangau yang bekerja sama dengan PT. Pindad dan PT. Sari Bahari. Bom-bom tersebut merupakan bom latih (BLA/BLP) dan bom tajam (BT) dengan daya ledak tinggi, yang digunakan sebagai amunisi pesawat Sukhoi Su-30, F-16, dan Super Tucano.

Baca juga :  Demi Kejar Pace, Pelari Terobos Lampu Merah di Jogja, Aksinya Picu Amarah Warganet

Sejarah Museum Dirgantara Mandala

Museum Pusat TNI AU “Dirgantara Mandala” digagas oleh TNI Angkatan Udara untuk mengabadikan peristiwa bersejarah yang terjadi di lingkungan TNI AU. Didirikan pada tanggal 4 April 1969 oleh Panglima Angkatan Udara Laksamana Roesmin Noerjadin, museum ini awalnya berada di Jakarta sebelum dipindahkan ke Yogyakarta pada 29 Juli 1978.

Pemilihan Yogyakarta sebagai lokasi museum didasarkan pada peran penting kota ini sebagai pusat kelahiran dan perkembangan TNI AU pada kurun waktu 1945-1949, serta sebagai tempat pendidikan para taruna Angkatan Udara.

Museum ini berlokasi di kompleks Pangkalan Udara Adisucipto, sekitar 6 kilometer arah timur dari pusat Kota Yogyakarta. Dengan luas area sekitar 4,2 hektar dan luas bangunan 8.765 m², museum ini menyimpan berbagai koleksi bersejarah TNI AU yang dipamerkan dalam ruangan-ruangan tematik.

Bagi pengunjung yang ingin menambah pengetahuan tentang sejarah dirgantara Indonesia, museum ini buka setiap hari mulai pukul 08.30 hingga 16.00 WIB dengan harga tiket hanya Rp10.000. Fasilitas yang tersedia cukup memadai, termasuk akses untuk pengguna kursi roda, toilet, dan restoran.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami