CIREBON, GEMADIKA.com – Kisah menyentuh hati seorang remaja bernama MM (17 tahun) dari Cirebon akhirnya berujung bahagia. Gadis yang sempat nekat menenggak cairan pembersih lantai karena putus asa tidak bisa melanjutkan sekolah, kini telah diterima di SMA Negeri 1 Cirebon.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memastikan bahwa MM telah resmi terdaftar sebagai siswa melalui jalur mutasi. Sebelumnya, remaja berprestasi ini sempat bersekolah di salah satu SMA di wilayah Tengah Tani, Cirebon, namun terpaksa berhenti karena keterbatasan biaya.
Hambatan yang Akhirnya Teratasi
Proses pendaftaran MM sempat menghadapi kendala teknis. Ijazah MTs-nya tertahan di sekolah sebelumnya karena tunggakan biaya sebesar Rp 2 juta. Namun, masalah ini segera teratasi setelah ajudan Gubernur turun langsung menemui pihak sekolah dan pesantren tempat MM pernah belajar.
Dedi Mulyadi menyampaikan kabar gembira ini melalui akun media sosialnya pada Senin (9/6/2025). Ia menegaskan komitmen pemerintah provinsi untuk memastikan tidak ada anak yang terhalang pendidikan karena masalah biaya.
“Ijazah itu telah ditebus setelah ajudannya menemui pihak sekolah dan pesantren tempat siswa belajar sebelumnya,” ungkap Dedi dalam keterangannya.
Jaminan Pendidikan Gratis
Lebih dari sekadar penerimaan siswa, Pemprov Jabar juga memberikan jaminan komprehensif untuk MM. Seluruh biaya yang akan ditanggung meliputi:
- Biaya pengobatan di rumah sakit
- Seragam sekolah lengkap
- Biaya pendidikan hingga lulus SMA
Dedi menegaskan visi pemerintahannya yang tidak ingin ada anak di Jawa Barat terhalang mendapat pendidikan hingga tingkat SMA karena masalah finansial.
Kritik Terhadap Kebijakan Pendidikan
Gubernur juga menyoroti praktik-praktik yang memberatkan siswa kurang mampu. Ia secara tegas melarang kegiatan studi tour, perpisahan, dan outing class yang sering membebani keluarga dengan biaya tambahan.
“Kebutuhan pendidikan seharusnya tidak dicampur dengan tuntutan gaya hidup konsumtif yang tidak relevan,” tegas Dedi.
Kisah di Balik Tragedi
Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bapeksi Kota Cirebon, Ahmad Faozan, yang kini menjadi kuasa hukum MM, mengungkap kronologi lengkap kejadian ini. MM merupakan anak yang cerdas dan berprestasi, terutama dalam kemampuan berpidato bahasa Inggris.
“Dalam hal ini, dia korban dari depresi karena kemiskinan. Dia tidak bisa melanjutkan SMA-nya,” jelas Faozan saat menjenguk MM di RSD Gunung Jati Kota Cirebon, Senin (9/6/2025).
Remaja asal Kabupaten Cirebon ini sempat bersekolah selama satu semester, namun terpaksa berhenti karena kesulitan biaya. Ia bahkan diusir dari tempat kos karena tidak mampu membayar.
Perjuangan yang Tidak Membuahkan Hasil
Untuk mewujudkan impian melanjutkan sekolah, MM bekerja sebagai pelayan toko buah dengan upah hanya Rp 20.000 per hari. Selama 15 hari bekerja, uang yang terkumpul masih jauh dari cukup untuk membiayai semua keperluan sekolah.
“Dia sudah berusaha dengan menjadi penjaga toko buah, tapi upahnya tidak mencukupi. Akhirnya dia depresi. Bayangan dia ingin sekolah, tetapi uang yang didapat sangat tidak mencukupi. Makanya dia putus asa dan minum racun,” ungkap Ahmad.
Insiden tragis terjadi pada Jumat (6/6/2025) sekitar pukul 23.30 WIB. Beruntung, teman MM mengetahui kejadian tersebut dan langsung membawa ke rumah sakit.
“Alhamdulillah dia (MM) bisa selamat,” kata Ahmad dengan lega.
Sorotan DPRD: Masalah yang Lebih Besar
Anggota DPRD Jawa Barat, Zaini Shofari, mengangkat isu yang lebih luas terkait pendidikan di Jawa Barat. Ia mengungkap data mengejutkan bahwa terdapat 658.831 anak usia sekolah yang terancam putus sekolah atau tidak bersekolah.
“Dua pekan lalu saya menyampaikan data statistik dari pendidikan tinggi menyebutkan 658 ribu usia sekolah terancam putus dan tidak bersekolah, DO dan tidak punya biaya karena salah satunya faktor kemiskinan,” ucap Ketua Fraksi PPP DPRD Jabar saat dihubungi, Selasa (10/6/2025).
Dari jumlah tersebut, 37,46 persen atau sekitar 246.798 siswa berada dalam tanggung jawab Pemprov Jabar. Zaini mengkritik fokus pemerintah yang lebih banyak pada program pengiriman siswa bermasalah ke barak militer ketimbang mengatasi akar masalah kemiskinan pendidikan.
“Angka 658 ribu harus mulai diurai terlebih pada tahun ajaran baru ini bukan terus mengandalkan judul (program) baru yang DPRD sendiri tidak pernah tahu,” tegasnya.
Harapan untuk Masa Depan
Saat ini, proses penerimaan murid baru di Jawa Barat sedang berlangsung. Gubernur Dedi berharap semua siswa dapat menjalani proses ini dengan lancar tanpa hambatan finansial.
Kasus MM menjadi pengingat penting bahwa pendidikan adalah hak setiap anak, terlepas dari kondisi ekonomi keluarga. Respons cepat pemerintah dalam menangani kasus ini diharapkan dapat menjadi contoh penanganan serupa di masa mendatang.




