RIAU, GEMADIKA.com – Dunia sedang terpesona dengan seorang bocah berusia 11 tahun asal Kuantan Singingi (Kuansing), Riau.
Rayyan Arkan Dikha namanya, sosok cilik yang berhasil mencuri perhatian internasional melalui aksi tariannya yang memukau di Festival Pacu Jalur.
Dengan percaya diri mengenakan pakaian adat Kuansing berwarna hitam lengkap dengan penutup kepala dan kacamata lebar yang khas, Dikha berdiri tegap di ujung jalur sebutan untuk sampan panjang yang digunakan dalam pacu jalur. Gerak tarinya yang energik dan penuh karakter berhasil memimpin semangat para pendayung dewasa di belakangnya.
Fenomena viral ini dimulai ketika video aksi Dikha menyebar luas di media sosial. Tak disangka, gerakan khas bocah asal Riau ini kemudian ditiru oleh berbagai kalangan, mulai dari pemain sepak bola Eropa, pesohor luar negeri, hingga artis Tanah Air seperti Luna Maya.
Meski kini menjadi sorotan dunia, Dikha ternyata baru menekuni seni menari di pacu jalur selama tiga tahun terakhir. Bakat yang membuatnya viral ini tidak datang begitu saja—ia rajin berlatih untuk mengasah kemampuannya.
“Ya senang, tidak menyangka juga. Bangga lihatnya,” kata ibu Dikha, Rani Ridawati, saat berbincang dengan detiksumut, Senin (7/7/2025).
Kepiawaian menjaga keseimbangan badan di ujung jalur sambil berjoget memang bukan hal mudah. Dikha rutin berlatih bersama anak-anak pacuan lainnya, mengasah kemampuannya menjadi anak joki saat jalur Tuah Koghi Dubalang Ghajo berpacu melawan arus Sungai Kuantan.
“Ikut menari di jalur sudah 3 tahun terakhir ini. Kalau latihan sepekan 3 kali. Itu latihan waktu pacu,” ungkap Rani.
Bakat luar biasa Dikha rupanya tidak datang dari langit. Ayahnya, Jufriono (40), juga merupakan atlet pacu jalur yang berpengalaman. Pria yang akrab disapa Jufri ini tercatat sebagai anak pacuan dari jalur Tuah Koghi Dubalang Ghajo—jalur yang sama yang kini ditunggangi sang putra.
Tradisi olahraga air ini sudah mengalir dalam darah keluarga besar mereka. Adik Jufriono pun merupakan atlet pacu jalur, menjadikan keluarga ini sebagai dinasti atlet pacu jalur turun-temurun.
“Ayahnya atlet pacu jalur juga, adek ayahnya juga atlet. Ya keluarga besar memang atlet pacu jalur, ayahnya ini sudah main sejak dia masih remaja,” jelas Rani.
Yang menarik, kemampuan menari Dikha berkembang secara otodidak saat mengikuti pacu jalur. Dalam keseharian, bocah yang tinggal di Kari, Kuantan Singingi ini bukanlah seorang penari profesional.
“Keseharian bukan penari, jadi itu spontan saja di atas jalur, belajar otodidak saja nari kebiasaan di jalur. Bisa jadi besar nanti dia lanjutkan ayahnya jadi anak pacuan,” tutur Rani.
Rayyan Arkan Dikha lahir pada 28 Desember 2014, kini berusia 11 tahun. Bocah yang bersekolah di SD 013 Desa Pintu Gobang, Kari, ini menjalani kehidupan seperti anak seusianya—bersekolah, bermain, dan berlatih pacu jalur.
Namun, kesederhanaan hidupnya kontras dengan dampak global yang ia ciptakan. Video aksinya tidak hanya viral di Indonesia, tetapi juga menjangkau berbagai negara, memperkenalkan budaya pacu jalur ke mata dunia.
Festival Pacu Jalur yang membuat Dikha viral sebenarnya merupakan tradisi bersejarah yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kemendikbudristek sejak 2014. Tradisi perlombaan balap perahu ini diselenggarakan setiap tahun di Sungai Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau.
Secara bahasa, “pacu” berarti perlombaan, sedangkan “jalur” merujuk pada perahu. Tradisi ini telah dikenal sejak abad ke-17, ketika masyarakat menggunakan perahu untuk mengangkut hasil bumi dan sebagai alat transportasi menyusuri Sungai Batang Kuantan.
Menariknya, pacu jalur pernah menjadi agenda resmi di era kolonial Belanda sebagai bagian perayaan ulang tahun Ratu Wilhelmina yang lahir 31 Agustus. Setelah Indonesia merdeka, tradisi ini tetap dilestarikan sebagai festival menyambut HUT RI di bulan Agustus.
Dalam tradisi pacu jalur, perahu bukan sekadar alat perlombaan. Setiap pembuatan jalur melibatkan nilai adat, spiritual, dan filosofi yang mendalam. Prosesnya dimulai dengan ritual adat setelah kayu besar ditebang dari hutan, dilanjutkan dengan pembuatan secara gotong royong melibatkan ahli kayu.
Perahu yang digunakan dalam perlombaan memiliki panjang hingga puluhan meter untuk memuat 50-60 pendayung. Selain pendayung, jalur juga ditumpangi tukang concang (pemberi aba-aba), tukang pinggang (juru mudi), penari jalur anak seperti Dikha, dan tukang onjay masing-masing dengan tugas khusus untuk menerobos arus Sungai Kuantan hingga garis finish.
Viralnya aksi Dikha membawa dampak positif bagi promosi budaya Indonesia. Pacu jalur kini semakin dikenal sebagai olahraga air yang menantang sekaligus festival yang sarat budaya lokal. Hal ini membuktikan bahwa kekayaan budaya Indonesia memiliki daya tarik universal yang mampu menyatukan berbagai kalangan di seluruh dunia. (*)




