JAKARTA, GEMADIKA.com – Indonesia kembali mencatatkan prestasi membanggakan di kancah digital payment internasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) telah menjadi sistem pembayaran yang ditakuti oleh negara lain karena perkembangannya yang sangat pesat dan adopsi masif oleh masyarakat.
Pernyataan ini disampaikan Airlangga dalam acara CEO Insight rangkaian menuju 16th Kompas100 CEO Forum powered by PLN dengan tema “Menyatukan Arah Indonesia Maju: Energi, Investasi, Talenta, dan Keberlanjutan” pada Selasa (4/11/2025).
Data yang diungkapkan Airlangga menunjukkan betapa QRIS telah mengubah lanskap pembayaran digital Indonesia secara fundamental.
Pengguna QRIS 3 Kali Lipat Lebih Banyak dari Kartu Kredit
Menurut Airlangga, pencapaian paling mencolok adalah jumlah pengguna QRIS yang telah mencapai 56 juta pengguna. Angka fantastis ini bahkan melampaui jauh jumlah pengguna kartu kredit di Indonesia yang hanya sebanyak 17 juta.
“QRIS sudah 56 juta penggunanya, bandingkan dengan kartu kredit yang hanya 17 juta. Makanya (QRIS) ditakuti,” kata Airlangga.
Perbandingan ini sangat signifikan mengingat kartu kredit telah ada puluhan tahun di Indonesia, sementara QRIS baru diluncurkan secara nasional pada tahun 2020. Dalam waktu kurang dari lima tahun, QRIS berhasil meraih adopsi yang jauh lebih luas, menunjukkan keberhasilan luar biasa dalam menciptakan ekosistem pembayaran digital yang inklusif.
Kesuksesan ini bukan tanpa alasan. QRIS menawarkan kemudahan yang tidak dimiliki kartu kredit: tidak perlu kartu fisik, tidak ada persyaratan kredit yang ketat, dan bisa digunakan oleh siapa saja yang memiliki smartphone. Merchant pun lebih mudah mengadopsi QRIS karena biaya yang relatif rendah dan integrasi yang simpel.
Keberhasilan Inklusi Keuangan Digital Indonesia
Airlangga menjelaskan bahwa perkembangan pesat QRIS menunjukkan keberhasilan Indonesia dalam mendorong inklusi keuangan digital. Program ini berhasil menjangkau masyarakat yang sebelumnya sulit mengakses layanan perbankan formal atau tidak memenuhi syarat untuk memiliki kartu kredit.
QRIS telah memberdayakan jutaan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk menerima pembayaran digital dengan mudah dan murah. Pedagang kaki lima, warung makan, toko kelontong, hingga bisnis rumahan kini bisa menerima pembayaran cashless hanya dengan menempelkan kode QR di lapak mereka.
Dari sisi konsumen, QRIS memberikan kemudahan dan keamanan. Masyarakat tidak perlu membawa uang tunai dalam jumlah besar, transaksi tercatat secara digital sehingga memudahkan pengelolaan keuangan, dan risiko kehilangan uang atau uang palsu dapat diminimalkan.
Keberhasilan inklusi keuangan digital ini juga berkontribusi pada perekonomian nasional yang lebih terstruktur. Transaksi digital yang tercatat memudahkan pemerintah dalam melakukan monitoring ekonomi, pengumpulan pajak, dan perumusan kebijakan ekonomi yang lebih tepat sasaran.
QRIS Go International: Sudah Diterima di 5 Negara
Prestasi QRIS tidak berhenti di dalam negeri. Saat ini, metode pembayaran QRIS sudah bisa digunakan di sejumlah negara seperti Malaysia, Thailand, Jepang, China, dan Korea Selatan. Ini merupakan pencapaian luar biasa yang menunjukkan bahwa standar Indonesia diakui dan diadopsi di tingkat internasional.
Keberadaan QRIS di negara-negara tersebut memberikan kemudahan bagi wisatawan Indonesia yang berkunjung ke luar negeri.
Mereka tidak perlu repot menukar mata uang atau membawa banyak uang tunai. Cukup dengan smartphone dan aplikasi pembayaran digital Indonesia, mereka bisa bertransaksi di merchant yang menerima QRIS.
Sebaliknya, wisatawan dari negara-negara yang sudah terintegrasi dengan QRIS juga dapat menggunakan sistem pembayaran mereka saat berkunjung ke Indonesia, menciptakan pengalaman transaksi yang seamless dan meningkatkan kenyamanan wisata.
Ekspansi internasional QRIS ini juga membuka peluang bagi perusahaan fintech dan payment gateway Indonesia untuk menembus pasar global, memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemimpin inovasi digital di kawasan Asia.
Mengincar Uni Emirat Arab sebagai Mitra Berikutnya
Airlangga melanjutkan bahwa pemerintah tidak berhenti di lima negara tersebut. Saat ini, Indonesia tengah menjajaki kerja sama serupa dengan Uni Emirat Arab (UEA) agar transaksi lintas negara dapat dilakukan menggunakan QRIS.
Kerja sama dengan UEA sangat strategis mengingat Dubai dan Abu Dhabi merupakan destinasi favorit wisatawan Indonesia.
Selain itu, UEA juga menjadi hub bisnis internasional yang banyak dikunjungi pebisnis Indonesia untuk berbagai keperluan perdagangan dan investasi.
Jika kerja sama ini terwujud, akan semakin memudahkan jutaan wisatawan dan pebisnis Indonesia yang berkunjung ke Timur Tengah.
Mereka dapat bertransaksi dengan mudah tanpa khawatir soal nilai tukar atau biaya konversi mata uang yang mahal.
Lebih jauh, integrasi dengan UEA juga membuka peluang bagi Indonesia untuk memperluas jaringan QRIS ke negara-negara Timur Tengah lainnya, mengingat UEA memiliki pengaruh ekonomi yang kuat di kawasan tersebut.
Adopsi Standar Internasional: Kunci Kesuksesan QRIS
Salah satu faktor penting yang membuat QRIS mudah diterima di berbagai negara adalah karena sistem ini telah mengadopsi standar internasional.
Hal ini membuat QRIS kompatibel dan mudah diintegrasikan dengan sistem pembayaran negara lain tanpa perlu melakukan perubahan teknis yang rumit.
Standar internasional yang diadopsi QRIS memastikan bahwa sistem pembayaran ini dapat beroperasi secara interoperable dengan berbagai platform payment di dunia.
Pemerintah berkomitmen untuk terus memperluas jaringan QRIS ke lebih banyak negara agar transaksi antarnegara bisa semakin efisien dan murah.
Target jangka panjangnya adalah menjadikan QRIS sebagai salah satu sistem pembayaran digital paling diterima di kawasan Asia Pasifik, bahkan mungkin di tingkat global.
Dengan kemudahan integrasi ini, negara-negara lain yang ingin bekerja sama dengan Indonesia tidak perlu khawatir tentang kompleksitas teknis.
Mereka dapat dengan mudah menghubungkan sistem pembayaran mereka dengan QRIS, menciptakan ekosistem pembayaran digital lintas negara yang efisien.
Mengapa QRIS “Ditakuti” Negara Lain?
Pertanyaan yang menarik adalah: mengapa sistem pembayaran seperti QRIS bisa “ditakuti” oleh negara lain? Jawabannya terletak pada beberapa faktor strategis.
Pertama, dominasi pasar. Dengan 56 juta pengguna dan pertumbuhan yang terus meningkat, QRIS telah menciptakan ekosistem yang sangat besar. Negara lain yang memiliki sistem payment sendiri khawatir bahwa QRIS dapat menggerus market share mereka, terutama di segmen merchant dan konsumen yang mencari solusi pembayaran yang mudah dan murah.
Kedua, standar pembayaran. QRIS berpotensi menjadi standar de facto untuk pembayaran QR code di kawasan Asia. Jika semakin banyak negara mengadopsi atau terintegrasi dengan QRIS, maka sistem pembayaran lain yang tidak kompatibel akan tertinggal dan kehilangan relevansi.
Ketiga, kemandirian ekonomi digital. Kesuksesan QRIS menunjukkan bahwa negara berkembang seperti Indonesia mampu menciptakan inovasi digital yang tidak kalah dengan negara maju. Ini menantang narasi bahwa teknologi finansial canggih hanya bisa datang dari Silicon Valley atau negara-negara maju lainnya.
Keempat, biaya transaksi yang kompetitif. QRIS menawarkan biaya transaksi yang lebih rendah dibandingkan sistem pembayaran internasional seperti kartu kredit yang didominasi Visa dan Mastercard. Ini membuat merchant lebih tertarik mengadopsi QRIS, yang pada akhirnya menggeser market share payment gateway internasional.
Dampak Ekonomi dan Sosial QRIS
Keberhasilan QRIS membawa dampak yang sangat luas, baik secara ekonomi maupun sosial. Dari sisi ekonomi, QRIS telah mendorong formalisasi ekonomi dengan membawa transaksi yang sebelumnya cash-based masuk ke dalam sistem digital yang tercatat.
UMKM yang menggunakan QRIS memiliki data transaksi yang jelas, memudahkan mereka untuk mengakses pembiayaan dari bank atau fintech karena memiliki track record keuangan yang terverifikasi. Ini membuka akses modal yang sebelumnya sulit dijangkau oleh pelaku usaha kecil.
Bagi pemerintah, transaksi digital yang tercatat memudahkan pengumpulan pajak dan monitoring aktivitas ekonomi.
Data transaksi QRIS dapat menjadi sumber informasi berharga untuk merumuskan kebijakan ekonomi yang lebih tepat sasaran.
Dari sisi sosial, QRIS telah mendorong literasi digital masyarakat. Masyarakat yang sebelumnya tidak familiar dengan teknologi digital kini terbiasa menggunakan smartphone untuk bertransaksi.
Ini membuka pintu bagi adopsi layanan digital lainnya seperti e-commerce, e-government, dan berbagai inovasi digital yang meningkatkan kualitas hidup.




