JAKARTA, GEMADIKA.com – Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan penataan ulang anggaran (refocusing) sekaligus evaluasi menyeluruh terhadap penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Salah satu langkah yang tengah dikaji adalah menghentikan penyaluran program bagi sekolah-sekolah yang dinilai berasal dari kalangan mampu atau memiliki kemandirian ekonomi yang baik.
Kepala BGN, Nanik S. Deyang, menyatakan bahwa bantuan MBG seharusnya diprioritaskan bagi kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan intervensi gizi dari pemerintah.
Menurutnya, peserta didik yang berasal dari keluarga berkecukupan umumnya telah memperoleh asupan gizi yang memadai di lingkungan keluarga masing-masing. Karena itu, pemerintah perlu memastikan anggaran negara digunakan secara lebih efektif dan tepat sasaran.
“Sekolah-sekolah yang secara ekonomi sudah mampu tentu perlu dievaluasi. Program ini harus lebih difokuskan kepada kelompok yang memang membutuhkan dukungan gizi dari negara,” ujar Nanik dalam keterangannya usai pelantikan di Jakarta.
Langkah evaluasi tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kualitas pelaksanaan Program MBG sekaligus memastikan manfaatnya dirasakan oleh kelompok yang paling membutuhkan.
Ke depan, fokus penyaluran program akan diarahkan kepada peserta didik di wilayah kurang mampu, sekolah-sekolah di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta kelompok rentan lainnya.
Selain pelajar, kelompok prioritas yang akan menjadi perhatian dalam program tersebut meliputi santri, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui yang membutuhkan dukungan pemenuhan gizi untuk meningkatkan kualitas kesehatan dan sumber daya manusia.
BGN juga tengah melakukan evaluasi terhadap target penerima manfaat yang sebelumnya mencapai sekitar 63 juta orang. Peninjauan ini dilakukan agar program tidak hanya berorientasi pada jumlah penerima, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata terhadap perbaikan status gizi masyarakat.
Pemerintah menegaskan bahwa Program MBG tetap menjadi salah satu program prioritas nasional dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia. Namun demikian, efektivitas penggunaan anggaran dan ketepatan sasaran penerima manfaat menjadi aspek penting yang terus diperkuat dalam pelaksanaannya.
Melalui evaluasi tersebut, pemerintah berharap bantuan gizi dapat lebih merata dan benar-benar menjangkau masyarakat yang membutuhkan, sehingga tujuan meningkatkan kualitas kesehatan dan kesejahteraan generasi muda Indonesia dapat tercapai secara optimal.




