JAKARTA, GEMADIKA.com – Monosodium glutamate (MSG) atau yang lebih dikenal sebagai micin telah lama digunakan sebagai penyedap rasa untuk memperkuat cita rasa gurih (umami) pada berbagai jenis masakan. Meski umum digunakan di seluruh dunia, MSG masih sering dikaitkan dengan anggapan dapat menyebabkan sakit kepala atau pusing setelah dikonsumsi.

Lantas, benarkah anggapan tersebut?

Apa Itu MSG?

MSG merupakan garam natrium dari asam glutamat, yaitu asam amino yang secara alami juga terdapat pada berbagai bahan makanan seperti tomat, jamur, keju parmesan, rumput laut, dan daging.

Mengutip Healthline, MSG diproduksi melalui proses fermentasi bahan seperti tebu, bit gula, atau molase. Hasil fermentasi tersebut menghasilkan glutamat yang berfungsi memperkuat cita rasa umami sehingga makanan terasa lebih lezat.

Apakah MSG Benar-Benar Menyebabkan Pusing?

Hingga saat ini, berbagai penelitian belum menemukan bukti ilmiah yang kuat bahwa konsumsi MSG dalam jumlah normal dapat menyebabkan sakit kepala atau pusing pada sebagian besar orang.

Menurut Mayo Clinic, belum ada bukti yang konsisten bahwa MSG menjadi penyebab gejala seperti sakit kepala, wajah memerah, kesemutan, mual, atau lemas pada kebanyakan orang. Kalaupun muncul, gejala tersebut umumnya ringan dan hanya dialami oleh sebagian kecil individu.

Anggapan bahwa MSG menyebabkan pusing berawal dari istilah Chinese Restaurant Syndrome yang muncul pada akhir 1960-an, ketika sejumlah orang melaporkan mengalami keluhan setelah menyantap makanan di restoran China. Namun, berbagai penelitian lanjutan belum mampu membuktikan bahwa MSG menjadi penyebab utama keluhan tersebut.

Baca juga :  Psikolog Ungkap Kalimat yang Sebaiknya Diucapkan Orang Tua Saat Anak Tantrum, Jangan Langsung Minta Diam

Harvard Health Publishing juga menyebutkan bahwa MSG tidak layak mendapat reputasi sebagai bahan pangan yang berbahaya karena sebagian besar penelitian menunjukkan penggunaannya dalam jumlah wajar aman bagi mayoritas masyarakat.

Hanya Sebagian Kecil Orang yang Sensitif

Meski demikian, sebagian kecil orang memang dilaporkan memiliki sensitivitas terhadap MSG atau dikenal sebagai MSG Symptom Complex.

Harvard Health Publishing memperkirakan kelompok yang sensitif terhadap MSG jumlahnya kurang dari satu persen populasi.

Gejala yang mungkin muncul antara lain:

Sakit kepala
Wajah memerah
Berkeringat
Mual
Kesemutan atau mati rasa
Kelelahan

Gejala tersebut umumnya muncul dalam waktu sekitar dua jam setelah mengonsumsi makanan yang mengandung MSG dan biasanya bersifat ringan serta akan hilang dengan sendirinya.

Ahli saraf Fred Cohen, yang dikutip detikHealth, juga menjelaskan bahwa bukti ilmiah saat ini belum cukup untuk menyimpulkan MSG sebagai penyebab sakit kepala dalam konsumsi sehari-hari. Pada sejumlah penelitian, keluhan baru muncul ketika MSG diberikan dalam dosis yang jauh lebih tinggi dibandingkan penggunaan normal pada makanan.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Merasa Pusing?

Jika mengalami pusing setelah mengonsumsi makanan yang mengandung MSG, tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa penyedap rasa tersebut menjadi penyebabnya.

Apabila gejala tergolong ringan, beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

Minum air putih yang cukup.
Beristirahat sejenak.
Memantau apakah keluhan berangsur membaik.

Namun, apabila gejala terus berulang atau disertai sesak napas, nyeri dada, jantung berdebar, atau pembengkakan pada wajah dan tenggorokan, segera mencari pertolongan medis untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.

Baca juga :  Narapidana Lapas Takalar Panen Sawi dan Terung, Bekal Keterampilan Menuju Kehidupan Baru

MSG Aman Dikonsumsi dalam Jumlah Wajar

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan batas konsumsi MSG hingga sekitar 120 mg per kilogram berat badan per hari.

Sementara itu, Federation of American Societies for Experimental Biology (FASEB) menyebut konsumsi sekitar 3 gram MSG per hari masih tergolong aman bagi sebagian besar orang.

Menariknya, MSG mengandung natrium sekitar sepertiga lebih rendah dibandingkan garam dapur. Karena itu, penggunaan MSG secara tepat justru dapat membantu mengurangi penggunaan garam tanpa mengorbankan cita rasa masakan.

Tips Membuat Nasi Goreng Lebih Sehat

Selain menggunakan MSG secara bijak, kualitas bahan makanan juga perlu diperhatikan. Salah satu menu yang dapat dimodifikasi menjadi lebih sehat adalah nasi goreng.

Beberapa tips yang dapat diterapkan:

Gunakan nasi merah, nasi cokelat, atau nasi multigrain untuk meningkatkan asupan serat.
Gunakan minyak secukupnya, seperti minyak kanola atau minyak zaitun.
Perbanyak sayuran, seperti wortel, brokoli, paprika, jagung, atau kacang polong.
Tambahkan sumber protein seperti telur, ayam tanpa kulit, ikan, tahu, atau tempe.
Gunakan bumbu dan MSG secukupnya agar rasa tetap gurih tanpa perlu menambahkan garam berlebihan.

Dengan penggunaan yang tepat, MSG tetap dapat menjadi bagian dari pola makan yang sehat. Yang lebih penting adalah menjaga keseimbangan gizi melalui konsumsi makanan bergizi, memperbanyak sayuran, serta mengontrol penggunaan garam dan penyedap sesuai kebutuhan.

Dilansir dari Detikhelt.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami