EINDHOVEN, GEMADIKA.com – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini tidak hanya dimanfaatkan untuk mempercepat pekerjaan dokter di rumah sakit modern. Teknologi ini juga dinilai berpotensi memperluas akses layanan kesehatan, terutama bagi masyarakat di daerah yang masih kekurangan tenaga medis dan fasilitas kesehatan.

Chief Medical Officer Philips, dr. Carla Goulart Peron, mengatakan manfaat terbesar AI justru terletak pada kemampuannya membantu pemerataan layanan kesehatan hingga ke wilayah yang sulit dijangkau.

Menurutnya, pengalaman pribadi saat memulai praktik sebagai dokter spesialis obstetri dan ginekologi di Brasil menjadi bukti bagaimana keterbatasan tenaga ahli dapat memengaruhi pelayanan pasien.

Kala itu, ia menangani seorang ibu hamil yang mengalami perdarahan di sebuah rumah sakit umum. Meski tersedia mesin USG, dirinya belum memiliki kemampuan untuk mengoperasikannya secara optimal.

“Saya memiliki mesin USG, tetapi saya tidak tahu cara menggunakannya. Saya belum mendapatkan pelatihan yang tepat, dan itu nyata. Itu yang terjadi pada sebagian besar dokter yang baru memulai praktik mereka,” ujar dr. Carla dalam acara Philips Pulse Connect di Philips Customer Experience Center, Eindhoven, Belanda.

Karena keterbatasan pengalaman, ia harus menghubungi dokter senior melalui telepon sambil menjelaskan hasil gambar USG yang muncul di layar.

“Saya harus melakukan USG sambil memegang telepon di telinga, mencoba menggambarkan apa yang saya lihat di layar kepada rekan yang jauh lebih berpengalaman agar dapat mendiagnosis pasien tersebut,” katanya.

Baca juga :  Benarkah MSG Bikin Pusing? Ini Penjelasan Ilmiah dan Cara Aman Mengonsumsinya

AI Permudah Pemeriksaan Jarak Jauh

Menurut dr. Carla, perkembangan teknologi kini memungkinkan dokter berpengalaman melihat hasil pemeriksaan secara langsung melalui jaringan internet tanpa harus berada di lokasi yang sama.

Dokter spesialis dapat memberikan arahan secara real time kepada tenaga kesehatan di lapangan melalui koneksi Wi-Fi maupun jaringan 5G.

“Jika pengalaman saya terjadi hari ini, saya tidak perlu lagi menggambarkan apa yang saya lihat. Dokter lain dapat melihat citra yang sama melalui layar dan memberi arahan secara langsung,” jelasnya.

AI Dikembangkan untuk Skrining Kehamilan

Philips bersama Gates Foundation saat ini juga tengah mengembangkan teknologi USG berbasis AI yang dirancang membantu tenaga kesehatan melakukan skrining awal kehamilan, bahkan bagi petugas yang belum memiliki pelatihan khusus menggunakan USG.

Teknologi tersebut memungkinkan petugas melakukan pemindaian sederhana dengan menggerakkan alat beberapa kali secara horizontal dan vertikal.

Meski bukan pengganti pemeriksaan USG secara menyeluruh, AI mampu membantu proses triase untuk menentukan apakah kehamilan tergolong berisiko rendah atau membutuhkan rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.

“Ini bukan pemeriksaan USG penuh, tetapi dapat memberikan informasi penting untuk menentukan apakah pasien cukup ditangani di tempat atau perlu dirujuk ke pusat layanan yang mampu menangani kehamilan berisiko tinggi,” ujar dr. Carla.

Baca juga :  1 dari 4 Balita di Indonesia Alami Anemia, Kenali Gejalanya Sebelum Terlambat

Menurutnya, inovasi tersebut berpotensi meningkatkan keselamatan ibu dan bayi, khususnya di negara-negara yang masih mengalami kekurangan dokter spesialis kandungan maupun bidan.

Teknologi Bukan Satu-satunya Solusi

Meski optimistis terhadap perkembangan AI, dr. Carla menegaskan bahwa teknologi tidak bisa berdiri sendiri dalam menyelesaikan persoalan layanan kesehatan.

Ia menilai pembangunan infrastruktur kesehatan, sistem rujukan yang baik, serta peningkatan kompetensi tenaga kesehatan tetap menjadi faktor utama agar inovasi digital benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Teknologi dan AI adalah bagian dari solusi. Jika kita tidak membangun infrastruktur, AI tidak akan mampu menyelesaikan masalah sendirian,” tegasnya.

Ia menambahkan, masa depan AI bukan untuk menggantikan dokter, melainkan membantu menghadirkan layanan kesehatan yang lebih merata, mulai dari pencegahan penyakit, deteksi dini, skrining, hingga pemantauan pasien setelah menjalani perawatan.

“AI diharapkan mampu membawa pelayanan kesehatan menjangkau masyarakat yang selama ini sulit memperoleh akses. Melalui pengembangan teknologi dan proses yang kuat, kita dapat membangun kepercayaan sekaligus mendemokratisasi akses layanan kesehatan,” pungkasnya.

Dilansir dari Kompascom.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami