BANGKALAN, GEMADIKA.com – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bangkalan untuk yang pertama kalinya menggelar acara Sosialisasi Program Publik DAK Non Fisik BOP. Museum dan Taman Budaya tahun 2025 di Gedung Merdeka Jl. Letnan sunarto 58 Pangeranan Bangkalan. Selasa (20/05).

Kegiatan sosialisasi tersebut dihadiri oleh berbagai kalangan, seperti para tokoh budaya, korwil bidang pendidikan, perwakilan sekolah dari tingkat SD/SMP/SMA, TACB, penggiat seni dan pemerhati budaya.

Kabid Kebudayaan Disbudpar Bangkalan, Hendra Gemma Dominant, mengatakan, Ini merupakan program khusus yang didanai dengan anggaran DAK (dana alokasi khusus) untuk menyosialisasikan museum dengan sasaran siswa sekolah.

Baca juga :  Viral Dugaan Ketidaksesuaian Pengisian BBM di SPBU Perak Jombang, Konsumen dan Operator Adu Mulut

“Tujuan program tersebut adalah mengenalkan museum cakraningrat pada generasi muda, yang di peruntukkan kepada siswa/i dari tingkat SD sampai dengan SMA,” ungkapnya.

Korwil usulkan kolaborasi antara Disbudpar dan Dispendik terkait memasukkan koleksi museum dalam buku berbahasa daerah. (Nardi/Media Gemadika)

Menurut pria yang gemar memainkan alat musik gitar ini menambahkan, khusus program publik akan dibagi menjadi sembilan sub kegiatan. Salah satunya, Stand up comedy bahasa madura, Lomba membuat logo museum, Vlog budaya, dan lain-lain.

“Karena dengan adanya peningkatan target PAD kami harus memunculkan inovasi baru, dengan memodifikasi kegiatan yang sudah ada,” imbuhnya.

Baca juga :  Tragedi Salim Kancil: Ketika Suara Penolak Tambang Dibungkam Secara Tragis

Sementara itu, saat acara berlangsung ada beberapa usulan yang memungkinkan adanya kolaborasi antara Disbudpar dan Dispendik Kab. Bangkalan terkait memasukkan koleksi museum dalam buku berbahasa daerah.

“Inilah yang sebenarnya menjadi urgensi bagi kita untuk bersama-sama saling berkolaborasi melestarikan budaya dan mempromosikan museum cakraningrat. Nantinya kami harus terlebih dahulu mengidentifikasi koleksi mana yang paling relevan untuk diterbitkan dalam buku bahasa daerah. Ini bisa berdasarkan nilai sejarah, nilai budaya,” tutup Hendra. (nardi)

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami