MAMUJU, GEMADIKA.com – Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia menjadi panggung penting bagi Pemerintah Sulawesi Barat untuk menyuarakan keprihatinan mendalam terhadap kondisi darurat sampah yang melanda provinsi ini. Wakil Gubernur Sulawesi Barat, Salim S Mengga, memimpin upacara peringatan bersejarah ini di halaman Kantor Gubernur Sulbar, Kamis (5/6/2025).

Dengan tema global “Hentikan Polusi Plastik”, upacara yang dihadiri seluruh jajaran Dinas Lingkungan Hidup Pemprov Sulbar beserta unsur Forkopimda ini bukan sekadar seremonial belaka. Melainkan deklarasi perang melawan ancaman nyata yang mengintai masa depan bumi.

Dalam sambutannya yang penuh semangat, Wakil Gubernur Sulbar Salim S Mengga menyampaikan bahwa Hari Lingkungan Hidup Sedunia menjadi momen refleksi mendalam atas kondisi bumi yang sedang menghadapi tiga krisis besar: perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi.

Bersama Gubernur Sulbar Suhardi Duka, Wakil Gubernur Salim S Mengga menegaskan komitmen pemerintah atas pentingnya kesadaran kolektif serta tindakan nyata dari seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah, masyarakat, maupun sektor swasta untuk menyelamatkan bumi dari ancaman plastik.

Baca juga :  Jelang Idul Adha 1447 H, Pemprov Sulbar Kumpulkan 17 Ekor Sapi Kurban

Ketiga krisis planet – perubahan iklim, hilangnya biodiversitas, dan pencemaran – telah memberikan dampak luas terhadap kesehatan manusia, keberlanjutan pembangunan, dan kualitas hidup masyarakat. Aktivitas manusia yang eksploitatif semakin mempercepat laju kerusakan alam, terutama melalui produksi dan konsumsi plastik yang tidak terkendali.

“Kondisi ini diperparah oleh pola pengelolaan sumber daya alam yang tidak berkelanjutan,” tegas Salim S Mengga.

Fakta mengejutkan terungkap: jika tidak ada intervensi serius, jumlah plastik yang bocor ke laut akan meningkat drastis hingga dapat mencemari laut, membunuh biota, dan mengancam ketahanan pangan laut.

Situasi Indonesia saat ini berada dalam fase darurat sampah, dengan 22 juta ton sampah masih dibuang ke lingkungan. Sebagian besar berasal dari kemasan dan kantong belanja yang digunakan sehari-hari. Jika tidak diatasi secara sistemik, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) akan kolaps dan pencemaran semakin parah.

Dampak ekonomi yang ditimbulkan pun tidak main-main: biaya pengelolaan yang tinggi, menurunnya pendapatan daerah wisata, dan kerugian nelayan akibat rusaknya alat tangkap. Belum lagi beban kesehatan masyarakat akibat paparan mikroplastik yang semakin mengkhawatirkan.

Baca juga :  Perkuat Kapasitas Pengawasan, APIP Inspektorat Sulbar Ikuti Sharing Session Pengelolaan Keuangan Daerah

“Kondisi ini menuntut pengelolaan menyeluruh dari hulu ke hilir dan perubahan paradigma konsumsi dan produksi masyarakat,” ujar Wakil Gubernur.

Dalam kesempatan bersejarah ini, Salim S Mengga secara khusus menyoroti peran strategis Generasi Muda Gen-Z dan Gen-Alpha sebagai pelopor perubahan melalui gaya hidup minim sampah.

Langkah-langkah sederhana namun berdampak besar seperti membawa tumbler, menolak plastik sekali pakai, mengomposkan sampah, hingga menjadi wirausaha lingkungan menjadi kunci transformasi menuju masa depan yang berkelanjutan.

Di akhir sambutannya yang menggugah, Wakil Gubernur menegaskan bahwa peringatan ini tidak hanya menjadikan Hari Lingkungan Hidup sebagai seremonial belaka, tetapi sebagai titik balik untuk aksi nyata.

Dengan semangat ‘Bumi tidak membutuhkan kita, tetapi kitalah yang membutuhkan bumi’, seluruh masyarakat diajak untuk memulai dari hal sederhana demi meninggalkan warisan lingkungan yang bersih dan sehat bagi generasi mendatang. (Antyka)

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami