GROBOGAN, GEMADIKA.com – Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Grobogan pada Rabu (18/6) dini hari telah memicu bencana banjir yang mengganggu transportasi kereta api.

Tanggul Sungai KB 1 di Kecamatan Gubug jebol sekitar pukul 03.11 WIB, menyebabkan air sungai meluap dan menggenangi jalur rel kereta api.

Kejadian ini bermula ketika intensitas hujan yang sangat tinggi menyebabkan debit air Sungai KB 1 meningkat drastis.

Tekanan air yang luar biasa akhirnya merobohkan tanggul sepanjang sekitar 20 meter, menciptakan celah yang memungkinkan air sungai mengalir deras ke area sekitarnya.

Air yang meluap dari sungai tidak hanya menggenangi lahan persawahan, tetapi juga terus bergerak menuju jalur rel kereta api yang menghubungkan Desa Rejosari dan Desa Mangunsari. Kondisi ini menyebabkan sebagian rel kereta api tertutup air, sehingga mengganggu kelancaran operasional transportasi kereta api di jalur tersebut.

Baca juga :  Pemdes Genengsari Komitmen Tingkatkan Kesehatan Balita Lewat Program Posyandu

Seorang warga yang menyaksikan langsung kejadian ini merekam video dan menyampaikan kronologi peristiwa:

“Telah terjadi hujan deras sehingga air sungai di KB 1 meluap dan tanggulnya jebol sekitar 20 meter. Air langsung mengenangi sawah menuju Desa Mangunsari,” ujar perekam video dalam rekaman yang kemudian beredar di media sosial.

Banjir yang melanda jalur rel kereta api ini langsung berdampak pada operasional transportasi kereta api. Sejumlah perjalanan kereta api harus dilakukan secara bergantian dan dengan kehati-hatian ekstra karena sebagian rel masih dalam kondisi tergenang air.

Baca juga :  Pameran Filateli di Kota Lama Semarang Hidupkan Kembali Jejak Sejarah Pendudukan Jepang

Meskipun demikian, Manager Humas KAI Daop 4 Semarang, Franoto Wibowo, memberikan jaminan keamanan jalur kereta api:

“Jalur KA aman,” kata Franoto saat dikonfirmasi.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan, Wahju Darmawan, mengonfirmasi kejadian tersebut dan menyatakan bahwa pihaknya sedang melakukan pendataan serta fokus pada upaya penanganan darurat.

“Iya, masih mengumpulkan data, sementara fokus penanganan dulu,” ujar Wahju saat dikutip dari JPNN.com.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami