JAKARTA, GEMADIKA.com – Tragedi dimulai dari Jakarta. Affan Kurniawan, pemuda 21 tahun yang berprofesi sebagai pengemudi ojek daring, menjadi korban pertama yang gugur. Kamis malam yang kelam, 28 Agustus 2025, di sekitar Gedung DPR yang mencekam, Affan tewas terlindas kendaraan taktis Brimob saat situasi ricuh tak terkendali.
Kematian Affan bagai pemantik api. Kemarahan publik meledak, memicu gelombang protes yang menyebar ke berbagai daerah dengan intensitas yang semakin mengkhawatirkan.
Makassar dalam Kobaran Api
Puncak tragedi terjadi di Makassar, Sulawesi Selatan. Kota Daeng yang dikenal ramah ini berubah menjadi medan perang ketika Gedung DPRD dibakar massa yang murka. Empat nyawa berharga harus dibayar mahal:
- Sarinawati (26 tahun), seorang pegawai DPRD Makassar yang sedang bertugas
- Saiful Akbar (43 tahun), Plt. Kepala Seksi Kesra Kecamatan Ujung Tanah
- M. Akbar Basri (26 tahun), pegawai DPRD Makassar
- Rusmadiansyah (26 tahun), driver ojek daring yang tragis menjadi korban salah sasaran, dituduh sebagai intel dan dikeroyok hingga tewas
Duka dari Kota Budaya
Solo dan Yogyakarta, dua kota yang kental dengan nilai-nilai budaya Jawa, turut berduka. Di Solo, Sumari (60 tahun), seorang tukang becak yang sederhana, tewas akibat terkena imbas gas air mata saat kericuhan berlangsung.
Sementara di Yogyakarta, Rheza Sendy Pratama (21 tahun), mahasiswa Universitas Amikom yang penuh cita-cita, menghembuskan napas terakhir dengan kondisi tubuh penuh luka dan bekas injakan sepatu. Tragedi ini terjadi pada Minggu, 31 Agustus 2025, menandai berakhirnya gelombang protes yang mematikan.
Rekapitulasi Duka Bangsa
| Lokasi | Jumlah Korban | Identitas Korban |
|---|---|---|
| Jakarta | 1 orang | Affan Kurniawan (Ojol, 21 tahun) |
| Makassar | 4 orang | Sarinawati (26), Saiful Akbar (43), M. Akbar Basri (26), Rusmadiansyah (26) |
| Solo | 1 orang | Sumari (60 tahun) |
| Yogyakarta | 1 orang | Rheza Sendy Pratama (21 tahun) |
| TOTAL | 7 orang |
Respons Pemerintah: Antara Janji dan Tuntutan
Menghadapi tragedi berdarah ini, pemerintah bergerak cepat memberikan respons. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta langsung menjamin seluruh biaya terkait perawatan rumah sakit, pengurusan, dan pemakaman bagi korban, termasuk Affan Kurniawan dan 38 korban luka lainnya.
Komnas HAM tak tinggal diam. Lembaga penegak hak asasi manusia ini segera membuka posko pengaduan khusus korban unjuk rasa, sambil mengutip indikasi penggunaan kekuatan berlebih oleh aparat serta penahanan yang dilakukan secara sewenang-wenang.
Di level tertinggi, Presiden Prabowo Subianto memerintahkan penyelidikan transparan atas seluruh insiden—khususnya kematian Affan—serta meminta masyarakat untuk tetap tenang di tengah gejolak emosi yang memuncak.
Refleksi: Ketika Demokrasi Berharga Nyawa
Tragedi ini menunjukkan betapa seriusnya eskalasi unjuk rasa yang melibatkan berbagai kalangan—dari pekerja ojek daring, pegawai negeri, mahasiswa, hingga tukang becak. Keberagaman korban ini mencerminkan bahwa tidak ada yang aman ketika situasi politik memanas.
Meski pemerintah telah memberikan bantuan medis dan finansial serta membuka posko aduan hak asasi manusia, tuntutan masyarakat akan penyelidikan menyeluruh dan akuntabilitas aparat masih terus bergulir. Pertanyaan besarnya: kapan keadilan benar-benar tegak untuk ketujuh jiwa yang telah tiada?




