GROBOGAN, GEMADIKA.com – Momen haru terjadi di Dusun Sumberagung, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Rabu (17/9/2025) sore.
Jenazah Saadah, seorang pekerja migran Indonesia (PMI) yang telah mengabdi selama 30 tahun di Malaysia, akhirnya tiba di kampung halaman setelah meninggal dunia pada Senin (15/9/2025).
Kedatangan jenazah disambut dengan isak tangis Titin, anak semata wayang Saadah yang sudah bertahun-tahun menanti kepulangan sang ibu. Yang membuat kisah ini semakin menyentuh, pemulangan jenazah ini dimungkinkan berkat kebaikan hati presenter sekaligus anggota DPR RI nonaktif, Uya Kuya, yang membiayai seluruh proses repatriasi.
Saadah, warga Desa Sumberagung yang berangkat ke Malaysia pada tahun 1995, tidak pernah kembali ke tanah air selama tiga dekade.
Status sebagai PMI ilegal atau nonprosedural menjadi kendala utama dalam proses pemulangan jenazahnya ke Indonesia.
Uya Kuya, yang memiliki nama asli Surya Utama, bersama istrinya Astrid Khairunnisa, datang langsung ke lokasi untuk memastikan jenazah almarhumah Saadah tiba di kampung halaman tanpa kekurangan suatu apa pun.
“Kabar duka itu pertama kali saya terima sehari sebelumnya dari sahabat saya yaitu Miss Yuni, pegiat PMI di Hongkong. Yuni menyampaikan ada permintaan tolong dari Titin, anak semata wayang Saadah, agar jenazah ibunya bisa dipulangkan ke tanah air,” ungkap Uya.
Menurutnya, Saadah diketahui telah bekerja di Malaysia sejak 1995 dan tidak pernah pulang selama 30 tahun. Kondisi ini tentu sangat menyedihkan, terutama bagi Titin yang harus merasakan kehilangan tanpa sempat bertemu ibunya dalam waktu yang sangat lama.
Proses pemulangan jenazah kali ini berjalan relatif cepat dibanding biasanya.
“Biasanya pemulangan jenazah membutuhkan waktu beberapa hari, bahkan bisa berminggu-minggu jika dari Taiwan. Tapi kali ini prosesnya berjalan cepat karena kebetulan di Malaysia ada tanggal merah,” jelas pemilik akun Instagram @king_uyakuya tersebut.
Awalnya, Uya dan istrinya berencana berangkat langsung ke Malaysia untuk mengurus administrasi pemulangan. Namun, niat tersebut urung karena proses administrasi sudah selesai ditangani. Mereka kemudian langsung menuju Semarang sebelum akhirnya tiba di Grobogan.
“Tadi malam saya dapat kabar kalau jenazah bisa langsung dipulangkan pagi hari,” tambahnya.
Perjalanan jenazah Saadah tidak sepenuhnya mulus. Jenazah yang semula dijadwalkan mendarat di Bandara Ahmad Yani Semarang akhirnya dialihkan ke Bandara Yogyakarta. Dari Yogyakarta, jenazah kemudian dibawa menuju kampung halaman di Grobogan.
Tindakan mulia Uya Kuya ini bukanlah hal baru dalam rekam jejaknya. Jauh sebelum menjadi anggota DPR RI, ia sudah aktif dalam advokasi perlindungan PMI.
Komitmennya terhadap nasib para pekerja migran Indonesia telah ia tunjukkan selama bertahun-tahun.
“Mayoritas pengikut saya di Instagram dan YouTube adalah PMI. Tiga sampai empat tahun terakhir saya aktif membantu pemulangan teman-teman PMI yang bermasalah, termasuk yang meninggal dunia,” ungkap Uya.
Ia menjelaskan bahwa tidak semua pemulangan jenazah PMI bisa difasilitasi oleh pemerintah, terutama bagi mereka yang berstatus nonprosedural atau ilegal. Kondisi inilah yang mendorongnya untuk terus membantu para PMI yang membutuhkan.
“Negara tidak bisa memulangkan mereka. Jadi selama ini yang kami bantu rata-rata memang PMI nonprosedural,” jelasnya.
Kisah Saadah menjadi cerminan dari ribuan PMI Indonesia yang bekerja di luar negeri dengan status ilegal.
Mereka terpaksa memilih jalan ini karena berbagai faktor ekonomi dan sosial, namun harus menanggung konsekuensi berat, termasuk kesulitan untuk pulang ke tanah air.
Kehadiran sosok seperti Uya Kuya memberikan secercah harapan bagi para PMI dan keluarganya. Tindakan nyata berupa bantuan pemulangan jenazah ini menunjukkan bahwa solidaritas dan kepedulian terhadap sesama masih ada di tengah masyarakat.
Dengan tiba nya jenazah Saadah di kampung halaman, setidaknya keluarga yang ditinggalkan dapat merasakan kedamaian setelah bertahun-tahun berpisah.
Meskipun pertemuan ini terjadi dalam kondisi yang menyedihkan, kehadiran jenazah sang ibu memberikan kesempatan bagi Titin dan keluarga untuk mengucapkan selamat tinggal dengan layak. (Mond)




