GROBOGAN, GEMADIKA.comSanggar Seni Sasono Budoyo Pulokulon terus berkomitmen melestarikan seni dan budaya Jawa di tengah arus modernisasi. Berdiri sejak 23 Desember 2020, sanggar ini menjadi wadah bagi anak-anak dan masyarakat untuk berkegiatan positif sekaligus menjaga warisan budaya lokal.

Pelatih tari sekaligus pendiri sanggar, Sri Utami, menjelaskan bahwa pendirian sanggar berawal dari masa pandemi Covid-19. Saat itu, kegiatan belajar mengajar dihentikan dan anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu bermain gawai.

“Dulu saat Corona, anak-anak nggak boleh masuk sekolah. Karena tidak ada kegiatan, mereka fokus ke HP. Akhirnya saya dan suami, Pak Agus, berpikir untuk mendirikan sanggar agar anak-anak punya kegiatan positif dan tidak kecanduan HP,” ujar Sri Utami.

ibu sri utami dan pak agus, pemilik sanggar seni sasono budoyo.

Nama Sasono Budoyo dipilih karena memiliki makna yang luas. Tidak hanya berfokus pada tari, sanggar ini juga mengembangkan berbagai cabang seni seperti kerawitan dan musik.

“Kalau hanya sanggar tari, fokusnya sempit. Tapi kalau sanggar seni, bisa mencakup banyak hal. Dulu kami juga berencana membuka pelatihan permadani, meski belum berjalan,” tambahnya.

Sanggar Seni Sasono Budoyo terbuka bagi siapa pun tanpa memungut biaya. Hingga kini, pendaftaran masih gratis dan hanya memerlukan fotokopi KIA serta foto ukuran 2×3. Pesertanya berasal dari berbagai usia, mulai dari anak-anak PAUD hingga pelajar SMA/SMK. Untuk kerawitan, bahkan diikuti oleh para guru PAUD dan TK.

Sejak berdiri, sanggar ini telah melatih lebih dari 100 peserta. Saat ini, jumlah murid aktif sekitar 70–80 orang. Latihan rutin digelar setiap Sabtu pukul 15.00 di halaman SD Negeri 3 Polo Kulon, sementara pelatihan vokal dilakukan setiap Minggu.

Baca juga :  Ketahanan Pangan Jadi Prioritas, Kapolres Rembang Turun ke Lahan Jagung

Meski belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah desa maupun kabupaten, Sri Utami dan para pelatih tetap bersemangat. Bahkan, saat perayaan hari ulang tahun sanggar yang pertama, mereka secara mandiri menggelar pertunjukan wayang kulit di Balai Desa Pulokulon.

“Kami ingin warga tahu bahwa di Pulokulon ada sanggar seni, supaya orang tua yang punya anak bisa ikutkan anaknya bergabung,” tuturnya.

sasono budoyo ikut memeriahkan di acara TMMD ke 126/grobogan di desa karangharjo.

Selain fokus pada pelatihan rutin, Sanggar Seni Sasono Budoyo juga aktif dalam berbagai kegiatan masyarakat. Salah satunya dengan ikut memeriahkan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-126 di Desa Karangharjo, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan. Dalam kegiatan tersebut, sanggar menampilkan tari-tarian tradisional yang menggambarkan semangat gotong royong dan kecintaan terhadap budaya Jawa.

“Kami senang bisa ikut ambil bagian dalam TMMD ke-126 di Karangharjo. Ini bentuk nyata kontribusi kami dalam melestarikan budaya sekaligus memperkuat rasa kebersamaan di masyarakat,” kata Sri Utami.

Sri Utami berharap pemerintah ke depan dapat memberikan perhatian lebih kepada sanggar-sanggar seni lokal yang berperan menjaga budaya daerah. Pasalnya, biaya penyewaan kostum untuk pentas cukup mahal, sementara sanggar belum memiliki perlengkapan sendiri.

Baca juga :  Respons DLH Rembang, SPPG Padaran Genjot Perbaikan Sistem IPAL

“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah desa, kabupaten, maupun pusat. Karena setiap kali mau tampil, kami masih harus sewa kostum, dan biayanya cukup besar,” ungkapnya.

Sanggar Seni Sasono Budoyo juga bertekad terus mengembangkan tari-tarian khas Purwokerto agar tidak punah. Sri Utami menilai, di tengah banyaknya minat terhadap tari kreasi dan campursari, seni tradisional harus tetap dijaga agar tidak tergeser.

“Wong Jawa ya harus nguri-uri budayane. Kami ingin tarian tradisional asli Purwokerto bisa diangkat kembali dan tidak kalah dengan budaya modern,” ujarnya.

Bagi masyarakat yang ingin bekerja sama atau menggunakan jasa sanggar untuk acara hiburan, dapat menghubungi Sri Utami atau Agus Renang secara langsung. Sanggar ini juga memiliki akun media sosial di TikTok dan YouTube dengan nama Sanggar Seni Sasono Budoyo.

Dalam setiap penampilan, sanggar ini mampu menampilkan berbagai tarian tradisional seperti tari klasik, tari kuda-kuda, Bundan Payung, Bundan Kendi, tari Merak, hingga tari Gambyong Parianom, Gambyong Mari Kangen, dan Gambyong Panen. Selain itu, mereka juga menyediakan penampilan vokal dan sinden, meskipun masih dalam tahap pengembangan.

Dengan semangat pelestarian budaya dan kerja keras tanpa pamrih, Sanggar Seni Sasono Budoyo terus menjadi bukti nyata bahwa kecintaan terhadap seni dan budaya Jawa masih hidup di tengah masyarakat Banyumas. (Redaksi)

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami