LONDON, GEMADIKA.com – Investigasi mengejutkan mengungkap seorang pendonor sperma tanpa disadari memiliki mutasi genetik pemicu kanker. Pria itu telah menjadi ayah biologis dari setidaknya 197 anak di seluruh Eropa. Penyelidikan dilakukan oleh 14 lembaga penyiaran publik, termasuk BBC, yang berhasil membongkar skandal kesehatan reproduksi ini, dilansir Kumparan, Jumat (13/12/2024).

Sperma berasal dari seorang pria anonim yang dibayar untuk menyumbangkan spermanya sejak 2005 dan telah digunakan selama 17 tahun oleh wanita di berbagai negara.

Mutasi Tersembunyi
Pendonor dinyatakan sehat dan lolos skrining donor standar. Namun, DNA di beberapa selnya mengalami mutasi sebelum ia lahir yang merusak gen TP53—gen penting yang mencegah sel tubuh berubah menjadi kanker.

Sebagian besar tubuh pendonor tidak mengandung bentuk TP53 berbahaya, tetapi hingga 20% sperma donor mengandungnya. Setiap anak yang lahir dari sperma terinfeksi akan memiliki mutasi tersebut di seluruh sel tubuh mereka.

Anak-anak yang mewarisi mutasi ini didiagnosis mengidap sindrom Li Fraumeni dengan risiko kanker seumur hidup hingga 90 persen, termasuk kanker payudara dan kanker pada masa kanak-kanak.

“Ini adalah diagnosis yang mengerikan dan sangat menantang bagi sebuah keluarga. Ada beban untuk hidup dengan risiko tersebut selamanya. Jelas ini sangat menghancurkan,” jelas Profesor Clare Turnbull, ahli genetika kanker dari Institute of Cancer Research.

Menyebar ke 14 Negara
Bank Sperma Eropa Denmark yang menjual sperma tersebut mengungkapkan pendonor beserta anggota keluarganya tidak mengidap penyakit apa pun. Mutasi semacam itu tidak terdeteksi melalui skrining genetik standar.

Sperma donor telah digunakan oleh 67 klinik kesuburan di 14 negara, seperti Jerman, Irlandia, Spanyol, Yunani, Islandia, hingga Georgia. Bahkan seorang warga negara Inggris telah melakukan perjalanan ke Denmark untuk perawatan kesuburan menggunakan sperma ini.

Korban Berjatuhan
Para dokter yang menangani kasus kanker pada anak-anak terkait donor sperma ini menyampaikan kekhawatiran mereka dalam pertemuan European Society of Human Genetics tahun ini.

Dari 67 anak yang teridentifikasi saat itu, 23 anak membawa varian gen berisiko, dan 10 di antaranya telah didiagnosis menderita kanker. Melalui permintaan akses informasi publik serta wawancara dengan dokter dan keluarga pasien, terungkap setidaknya ada 197 anak yang lahir dari donor tersebut.

Jumlah pasti anak yang mewarisi varian gen berbahaya masih belum diketahui, sehingga kasus ini menjadi perhatian serius di dunia kesehatan reproduksi.

“Kami memiliki beberapa anak yang sudah mengidap dua jenis kanker berbeda dan beberapa di antaranya telah meninggal di usia yang sangat muda,” ujar Dr. Edwige Kasper, ahli genetika kanker di Rouen University Hospital, Prancis.

Pemberitahuan kepada Orang Tua
Wanita penerima donor telah diberi tahu tentang temuan ini. Salah satunya Céline (bukan nama sebenarnya), ibu tunggal di Prancis yang anaknya lahir dari sperma donor 14 tahun lalu dan ternyata memiliki mutasi kanker tersebut.

Céline menerima telepon dari klinik kesuburan di Belgia, meminta putrinya segera diperiksa.

Ia tidak menyimpan dendam terhadap pendonor, namun mempertanyakan mengapa diberikan sperma tidak aman yang berisiko bagi kesehatan anaknya.

Para orang tua yang menerima donor sperma dan khawatir diminta menghubungi klinik yang mereka datangi di negara masing-masing untuk pemeriksaan lebih lanjut. (*)

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami