JOMBANG, GEMADIKA.com – Gelombang dukungan mengalir dari seluruh penjuru Nusantara. Ratusan pengurus Nahdlatul Ulama tingkat wilayah dan cabang menyuarakan komitmen yang sama: mengawal keputusan para sesepuh dan mustasyar yang berkumpul di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Sabtu (6/12/2025).

Komitmen ini mengemuka dalam forum virtual yang digelar Ahad (7/12/2025), dipandu langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, atau yang akrab disapa Gus Yahya.

Lebih dari 400 pimpinan PWNU dan PCNU hadir dalam pertemuan yang berlangsung penuh kehangatan namun serius ini, seperti dilansir dari berbagai media.

Pertemuan di Tebuireng sehari sebelumnya, Sabtu (6/12/2025), menjadi titik penting dalam dinamika internal organisasi Islam terbesar di Indonesia ini. Para tokoh kunci hadir, termasuk mantan Wakil Presiden Prof KH Ma’ruf Amin, Rais Aam PBNU KH Said Aqil Siradj, KH Anwar Manshur, dan KH Umar Wahid, bersama sejumlah mustasyar lainnya.

Kehadiran para kiai sepuh ini bukan sekadar formalitas. Gus Yahya dalam forum daring menggambarkan betapa terharu menyaksikan dedikasi mereka. Para ulama itu, sebagian sudah memasuki usia 80 tahun lebih, rela menempuh perjalanan walau kondisi fisik tak lagi prima.

Yang menarik dari pertemuan tersebut adalah kesempatan yang diberikan para sesepuh kepada Gus Yahya untuk menjelaskan semua persoalan secara terbuka. Tidak tanggung-tanggung, penjelasan disertai dokumen lengkap yang melibatkan Bendahara Umum PBNU Sumantri Suwarno dan Sekjen PBNU Amin Said Husni.

“Saya diberi ruang untuk menjawab setiap pertanyaan dengan detail. Alhamdulillah, kesempatan itu saya gunakan sebaik-baiknya,” ungkap Gus Yahya, dikutip Senin (8/12/2025).

Yang ditekankan Gus Yahya bukanlah soal siapa benar atau salah secara personal, melainkan bagaimana menjaga sistem organisasi tetap kokoh. Ia menggunakan istilah Arab untuk menjelaskan: organisasi adalah manzumah (sistem) yang pondasinya adalah nizham (aturan dan prinsip).

Baca juga :  Tragedi Salim Kancil: Ketika Suara Penolak Tambang Dibungkam Secara Tragis

“Kalau pondasi ini goyah, organisasi bisa mundur seratus tahun. Ini bukan soal saya atau orang lain, tapi soal kelangsungan NU,” tegasnya.

Forum daring kemudian menjadi ajang para pengurus daerah menyampaikan sikap. Yang mencuat adalah kesatuan pandangan meski datang dari berbagai wilayah dengan karakteristik berbeda.

Dari Bengkulu, Rais Syuriyah PWNU KH Hasbullah Ahmad meluruskan narasi yang menurutnya keliru. Ada yang menganggap ketua umum sedang melawan para kiai, padahal faktanya justru sebaliknya.

“Ini kesalahpahaman besar. Yang terjadi adalah upaya mengingatkan semua pihak untuk patuh pada aturan, bukan membangkang,” jelasnya tegas.

KH Hasbullah menegaskan PWNU Bengkulu berdiri penuh di belakang keputusan para sesepuh dan mendorong Gus Yahya beserta Sekjen untuk terus mengawal organisasi melewati badai.

Pandangan menarik datang dari Bangka Belitung. Ketua PWNU setempat, Masmuni Mahatma, menyampaikan prinsip yang sederhana namun mendasar: jabatan adalah hal kecil, aturan organisasi adalah hal besar.

“Siapa pun yang menjadi ketua umum atau rais aam, mereka hanyalah pelaksana. Yang permanen dan harus dijaga adalah AD/ART,” ujarnya lantang.

Masmuni menyatakan seluruh jajaran PWNU dan PCNU di Bangka Belitung mengambil sikap mengikuti rekomendasi para sesepuh di Tebuireng, karena mereka dipandang punya perspektif jernih tanpa muatan kepentingan pribadi.

Senada disuarakan Ketua PWNU Sulawesi Selatan, Prof KH Hamzah Harun Al-Rasyid. Ia mengingatkan soal prinsip dasar: seseorang yang diangkat oleh sebuah forum hanya bisa diberhentikan oleh forum yang sama.

“Ini bukan soal suka atau tidak suka. Ini soal tata kelola organisasi yang benar,” katanya.

Prof Hamzah menilai jalan terbaik saat ini adalah islah—perdamaian internal. Jika cara damai tidak tercapai, maka kembali ke koridor AD/ART adalah pilihan yang tidak bisa ditawar.

Keprihatinan mendalam disampaikan Ketua PCNU Kota Malang, KH Isroqunnajah. Ia menyoroti fenomena saling serang di media sosial yang bahkan menyeret nama-nama kiai ke dalam pusaran perdebatan yang tidak sehat.

Baca juga :  Viral Dugaan Ketidaksesuaian Pengisian BBM di SPBU Perak Jombang, Konsumen dan Operator Adu Mulut

“Kami sangat tidak rela melihat para kiai kita menjadi bahan bullying di dunia maya. Ini bukan cara warga NU yang santun,” ujarnya dengan nada prihatin.

Menurutnya, hasil pertemuan Tebuireng memberikan arah yang jelas: kembalikan semua persoalan ke tatanan yang semestinya, bukan ke ranah emosi dan saling menjatuhkan di ruang publik.

Usai pertemuan dengan para sesepuh, Gus Yahya menyatakan sikap terbuka untuk menempuh jalur perdamaian. Ia mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih yang mendalam kepada para kiai yang telah meluangkan waktu dan tenaga.

“Betapa beruntungnya kami masih punya sesepuh yang begitu peduli. Di usia mereka yang sudah senja, mereka masih memikirkan nasib jam’iyyah tercinta ini,” ucapnya penuh haru.

Semua pertanyaan yang disampaikan melalui utusan Rais Aam KH Miftachul Akhyar telah dijawab tuntas dengan dukungan dokumen resmi. Ini menjadi modal bagi warga NU untuk memahami duduk persoalan secara objektif.

Di penghujung forum, para pengurus wilayah dan cabang mencapai kesepakatan untuk mengikuti langkah-langkah yang digariskan para mustasyar dan sesepuh. Mereka akan menunggu proses organisatoris berikutnya dengan sabar, sambil terus menjaga keutuhan internal.

Yang jelas, pertemuan Tebuireng dan forum daring yang menyusul menjadi pengingat penting: Nahdlatul Ulama yang telah berdiri hampir satu abad bukanlah milik segelintir orang, melainkan amanah bersama yang harus dijaga dengan sistem dan aturan yang telah disepakati.

Kini mata tertuju pada langkah-langkah konkret yang akan diambil sesuai mekanisme organisasi untuk mewujudkan islah dan mengembalikan fokus pada misi besar NU dalam mengayomi umat dan berkontribusi bagi bangsa. (Red)

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami