MEDAN, GEMADIKA.com – Opini yang dilontarkan Riza Fakhrumi Tahir terkait “nasib Hendri Yanto Sitorus makin tak jelas” menuai kritik keras dari kalangan internal Partai Golkar Sumatera Utara. Tulisan tersebut dinilai bukan sebagai analisis politik yang objektif, melainkan upaya membangun kegaduhan di tengah proses konsolidasi partai menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Sumut.
Kritik tersebut disampaikan oleh Ir. Alpan Alpis, Pengurus Partai Golkar Deli Serdang sekaligus Sekretaris DPC Ormas MKGR Deli Serdang. Ia menilai narasi yang dibangun Riza terlalu sarat emosi dan miskin rujukan terhadap mekanisme serta keputusan resmi partai.
“Ketika peluang politik di Musda tidak ada, sebagian orang memilih jalur opini untuk merusuh suasana. Ini bukan hal baru,” ujar Alpan, Kamis.
Menurut Alpan, publik juga memahami posisi Riza Fakhrumi Tahir yang selama ini dikenal berada dalam orbit politik Musa Rajekshah (Ijeck). Oleh karena itu, opini bernada pesimistis tersebut dinilai sarat kepentingan untuk mempertahankan pengaruh lama yang kian menyempit seiring menguatnya arus regenerasi di tubuh Golkar Sumut.
“Musda itu forum resmi. Yang menentukan bukan loyalitas lama atau suara opini, tapi mekanisme dan keputusan kolektif. Kalau tidak punya tiket maju, jangan mengubah politik jadi cerita horor,” sindirnya.
Alpan menegaskan, hingga saat ini tidak ada satu pun keputusan resmi Partai Golkar yang menyatakan masa depan politik Hendri Yanto Sitorus telah berakhir atau berada dalam kondisi tidak jelas. Oleh karena itu, penggunaan istilah “nasib makin tak jelas” disebutnya sebagai bentuk kekeliruan berpikir dalam membaca dinamika politik partai.
“Golkar bukan panggung mistis. Tidak ada ‘nasib’, yang ada aturan. Kalau aturan tidak berpihak, jangan diganti dengan ramalan,” tegasnya.
Ia juga mengkritisi penggunaan diksi seperti “boneka” dan “oligarki” dalam tulisan Riza. Menurut Alpan, istilah tersebut lebih bernuansa provokatif dibandingkan analisis yang bertumpu pada fakta dan mekanisme organisasi.
“Semakin keras istilah yang dipakai, semakin terlihat ketiadaan pijakan argumennya. Ini agitasi, bukan analisis,” tambahnya.
Lebih lanjut, Alpan mengingatkan pentingnya peran moral seorang senior dalam dunia politik, khususnya dalam memberikan teladan kepada generasi penerus.
“Sudahlah Om Riza, di hari tua ini kita jangan kerap memberi hal-hal mistis dan menanamkan ketakutan pada generasi berikutnya,” ujarnya lugas.
Ia menambahkan, “Baiknya di usia sepuh ini, hati Pak Riza seharusnya dipenuhi prasangka-prasangka baik. Senior itu mestinya meneduhkan, bukan menghantui.”
Menurut Alpan, proses regenerasi di Partai Golkar tidak pernah ditentukan oleh opini pesimistis ataupun loyalitas masa lalu, melainkan oleh kerja nyata, kesiapan kader, serta kepatuhan terhadap mekanisme partai.
“Musda bukan audisi opini. Yang lolos bukan yang paling ribut, tetapi yang siap secara mekanisme. Saat peluang maju tidak ada, merusuh dengan narasi bukanlah jalan yang terhormat,” pungkasnya.
(Selamet)




