DELI SERDANG, GEMADIKA.com — Di balik tembok tinggi dan jeruji besi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pancur Batu, harapan baru mulai tumbuh. Lapas Pancur Batu menjalin kerja sama strategis di bidang pendidikan dengan PKBM Samera Indonesia untuk menghadirkan pendidikan kesetaraan dan pendidikan khusus bagi warga binaan.
Rencana kerja sama ini dibahas dalam pertemuan antara jajaran Lapas Pancur Batu dan PKBM Samera Indonesia. Pertemuan tersebut dihadiri Kepala SPNF PKBM Samera Indonesia, Laila Sari, S.Pd., M.Psi, bersama para tutor pendidikan kesetaraan. Sementara dari pihak Lapas, Kepala Lapas Tri Bowo diwakili Theo Panggabean, Kepala Subseksi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan (Bimkemaswat).
Melalui kolaborasi ini, warga binaan yang sebelumnya terputus dari pendidikan formal akan mendapat akses pendidikan Paket A, Paket B, dan Paket C, setara jenjang SD, SMP, dan SMA. Program ini dirancang agar warga binaan memiliki bekal pendidikan yang layak sebagai modal hidup setelah bebas nanti.
Tak hanya pendidikan kesetaraan, kerja sama ini juga mencakup pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kondisi psikologis dan kebutuhan individual warga binaan. Pendekatan pembelajaran akan dibuat lebih humanis dan adaptif dengan situasi di lingkungan pemasyarakatan.
Pihak Lapas Pancur Batu menegaskan bahwa pendidikan merupakan bagian penting dari proses pembinaan, bukan sekadar pelengkap. Pendidikan diyakini mampu membentuk pola pikir, meningkatkan keterampilan, serta menyiapkan warga binaan agar lebih siap kembali ke masyarakat dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Sementara itu, PKBM Samera Indonesia menyatakan komitmennya untuk menghadirkan pendidikan nonformal yang berorientasi pada pemulihan karakter, penguatan mental, dan penghargaan terhadap nilai kemanusiaan.
Ke depan, kedua belah pihak akan memformalkan kerja sama ini melalui nota kesepahaman (MoU) dan perjanjian teknis, termasuk pemetaan kebutuhan belajar serta penyesuaian metode pembelajaran dengan kondisi lapas.
Kolaborasi ini menjadi penegasan bahwa lembaga pemasyarakatan bukanlah akhir dari segalanya. Pendidikan hadir sebagai jembatan perubahan, memberi kesempatan bagi warga binaan untuk bangkit, berdaya, dan kembali ke masyarakat dengan masa depan yang lebih baik.
(W.Ardiansyah)





Tinggalkan Balasan Batalkan balasan