JAKARTA, GEMADIKA.com – BPJS Kesehatan memastikan tetap memberikan jaminan pelayanan kesehatan bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang mengalami gangguan kesehatan akibat konsumsi makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG), selama kondisi tersebut tidak termasuk Kejadian Luar Biasa (KLB).

Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, menegaskan bahwa pihaknya tetap akan melayani peserta yang terdampak selama masih dalam kategori kasus biasa.

“Setiap ada keluhan yang dirasakan oleh peserta JKN dan kebetulan juga mendapatkan manfaat berupa makanan, kemudian sakit, kita akan tetap layani dengan JKN selama tidak terjadi KLB,” kata Prihati di Jakarta, Selasa, seperti dikutip dari ANTARA.

Namun demikian, ia menjelaskan bahwa apabila kondisi tersebut telah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa oleh pemerintah daerah, maka pembiayaan penanganan akan menjadi tanggung jawab pemerintah daerah setempat.

Baca juga :  Hotman Paris Bantah Iri Tak Jadi Menteri, Balik Minta Natalius Pigai Mundur Jika Tak Mampu

Sementara itu, Pelaksana Tugas Deputi Promosi dan Kerja Sama Badan Gizi Nasional (BGN), Gunalan, menyampaikan bahwa selama ini pihaknya telah menanggung biaya pengobatan bagi penerima manfaat yang mengalami gangguan kesehatan akibat program tersebut.

“Memang kejadian luar biasa yang terjadi di mana-mana itu bisa ditanggung dengan JKN, tetapi karena prosesnya mungkin sedikit membutuhkan waktu, biasanya itu kami tanggung dulu dari BGN sendiri, dari bidang keuangan menanggung dulu, nanti ada pertemuan sendiri dengan BPJS Kesehatan untuk menghitung bagaimana tentang biaya dari KLB,” katanya.

Dari sisi cakupan program, Gunalan mengungkapkan bahwa Program Makan Bergizi Gratis telah menjangkau sekitar 61,79 juta masyarakat. Jumlah tersebut terdiri dari 49,58 juta peserta didik dan 12,21 juta non-peserta didik, termasuk ibu hamil, ibu menyusui, serta balita.

Baca juga :  Jakarta Disebut ‘Zona Merah’ Begal, Warga Diminta Utamakan Keselamatan

Program ini menjadi salah satu prioritas pemerintah dalam menekan angka stunting di Indonesia. Berbeda dengan program sebelumnya yang hanya memberikan asupan gizi satu kali dalam sebulan, melalui MBG distribusi makanan kini dilakukan hingga enam hari dalam sepekan.

“Karena kalau selama ini, program stunting kita hanya memberikan makanan atau asupan gizi itu satu kali sebulan. Nah, saat ini dengan Program MBG, itu kita berikan enam hari dalam seminggu,” paparnya.

Gunalan juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menyukseskan program pembangunan gizi nasional.

“Kami meyakini bahwa keberhasilan program pembangunan gizi tidak dapat dilakukan secara sektoral, dibutuhkan kerja sama yang kuat, terintegrasi, dan berkelanjutan,” ucap Gunalan.

Sumber:

Dikutip dari laporan ANTARA

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami