JAKARTA, GEMADIKA.com – Dampak perang di Timur Tengah kini mulai menghantam perekonomian Asia, termasuk Indonesia. Setelah sebelumnya berhasil menahan krisis energi, banyak negara kini menghadapi tekanan baru yang lebih berat seiring konflik yang tak kunjung mereda.

Gangguan pada jalur vital energi dunia, terutama di Selat Hormuz, memicu lonjakan harga minyak dan mengganggu pasokan global. Kondisi ini berdampak langsung pada kenaikan biaya transportasi, listrik, hingga kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Awalnya, sejumlah negara Asia sempat mengambil langkah cepat dengan menerapkan penghematan energi. Namun, kebijakan tersebut dirancang hanya untuk jangka pendek dengan asumsi konflik akan segera berakhir.

Kini, setelah perang berlangsung lebih lama dari perkiraan, tekanan ekonomi mulai meluas ke berbagai sektor. Tarif penerbangan meningkat, ongkos logistik melonjak, dan beban biaya energi semakin terasa di tingkat rumah tangga.

Dampak Meluas, Jutaan Orang Terancam Miskin

Laporan United Nations Development Programme memperkirakan sekitar 8,8 juta orang berisiko jatuh ke dalam kemiskinan akibat dampak konflik ini. Kerugian ekonomi di kawasan Asia-Pasifik bahkan diproyeksikan mencapai US$299 miliar.

Analis dari Brookings Institution, Samantha Gross, mengatakan bahwa kelompok paling rentan akan menjadi pihak pertama yang terdampak.

“Negara-negara yang memiliki sumber daya paling sedikit untuk merespons, atau konsumen yang paling tidak mampu membayar, adalah pihak yang pertama kali merasakan semuanya,” ujarnya.

Baca juga :  Jangan Salah Paham! Ini Perbedaan Trading dan Saham yang Wajib Diketahui Pemula

Lonjakan harga minyak menjadi pemicu utama tekanan ini. Harga minyak Brent yang sebelumnya diasumsikan berada di kisaran US$70 per barel kini melonjak mendekati US$120 per barel.

Pemerintah Dihadapkan pada Pilihan Sulit

Kenaikan harga energi memaksa pemerintah di berbagai negara Asia mengambil keputusan sulit: mempertahankan subsidi dengan beban fiskal besar atau menguranginya dengan risiko kenaikan harga bagi masyarakat.

Analis energi independen, Ahmad Rafdi Endut, memperingatkan potensi krisis lanjutan.

“Begitu subsidi habis dan inflasi mulai naik, negara-negara bisa menghadapi apa yang saya sebut sebagai ‘bom waktu fiskal’,” katanya.

India hingga Asia Tenggara Mulai Tertekan

India menjadi salah satu negara yang merasakan dampak berlapis. Kebijakan pengalihan energi untuk rumah tangga justru mengurangi pasokan bagi industri pupuk, memicu kekhawatiran pada sektor pertanian.

Perdana Menteri Narendra Modi bahkan menyerukan penghematan nasional, mulai dari penggunaan produk lokal hingga pengurangan perjalanan luar negeri.

Di Filipina, pemerintah menerapkan sistem kerja empat hari untuk menghemat bahan bakar. Sementara itu, Thailand terpaksa menghentikan subsidi solar karena keterbatasan anggaran.

Vietnam juga menghadapi dampak serius, termasuk berkurangnya penerbangan akibat keterbatasan bahan bakar, yang berdampak langsung pada sektor pariwisata.

Baca juga :  DPRD Majene Kunjungi Kominfo Sulbar, Bahas Layanan Digital hingga Penanganan Blank Spot

Negara Rentan Hadapi Tekanan Berat

Negara dengan kondisi ekonomi lebih lemah seperti Pakistan dan Bangladesh menghadapi tekanan lebih besar akibat lonjakan biaya impor energi.

Cadangan devisa mereka semakin tergerus, sementara kebutuhan energi tetap tinggi.

Menurut para analis, negara-negara tersebut kini berada dalam posisi sulit antara menjaga stabilitas ekonomi atau meningkatkan utang negara.

Pemulihan Tidak Akan Cepat

Para ahli memperingatkan bahwa dampak perang tidak akan langsung hilang meski konflik berakhir.

Analis dari Eurasia Group, Henning Gloystein, mengatakan bahwa gangguan energi bisa berlangsung lama.

“S ituasi kekurangan bahan bakar ini akan menjadi lebih buruk,” ujarnya.

Sementara itu, ekonom Asian Development Bank, Albert Park, menegaskan bahwa risiko geopolitik kini menjadi faktor utama yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi kawasan.

“Makin lama konflik berlangsung, dampak negatifnya akan semakin besar,” katanya.

Arah Baru Kebijakan Energi Asia

Dalam jangka panjang, krisis ini mendorong negara-negara Asia mempercepat diversifikasi energi, mulai dari mencari pemasok baru hingga mengembangkan energi terbarukan seperti tenaga surya dan nuklir.

Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap jalur energi global yang rentan terganggu konflik.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami