JAKARTA, GEMADIKA.com – Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang kian memanas, Bank Indonesia (BI) tidak tinggal diam. Bank sentral Republik Indonesia ini telah merancang lima strategi bauran kebijakan untuk memastikan ekonomi nasional tetap tumbuh kokoh dan stabil sepanjang 2026.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan optimisme bahwa perekonomian Indonesia ke depan akan lebih baik dengan pertumbuhan yang lebih tinggi dan berdaya tahan, dengan tetap mewaspadai ketidakpastian global yang tinggi. Tantangan yang Mengintai

Bukan tanpa alasan BI bergerak cepat. Tahun 2026 diperkirakan masih diwarnai sejumlah tantangan, di antaranya ketidakpastian pasar global akibat kebijakan proteksionisme Amerika Serikat, melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia, utang tinggi, suku bunga negara maju, hingga risiko sistem keuangan global yang meningkat. Meski begitu, Indonesia menunjukkan ketahanan yang relatif baik. Fundamental makroekonomi Indonesia yang solid menjadi faktor kunci ketahanan ini, inflasi terkendali, disiplin fiskal terjaga dengan defisit di bawah 3 persen PDB, cadangan devisa memadai, dan sistem perbankan yang sehat dengan rasio kecukupan modal (CAR) yang tinggi. 5 Strategi Andalan Bank Indonesia

Pro-Stability dan Pro-Growth Kebijakan moneter 2026 diarahkan untuk menjaga stabilitas (pro-stability) dengan tetap memanfaatkan ruang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi (pro-growth). Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan komitmen tersebut melalui kebijakan suku bunga acuan BI-Rate yang dipertahankan di level 4,75 persen sepanjang Januari hingga April 2026.

Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah BI akan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi pada sasaran 2,5±1 persen. Stabilisasi rupiah dilakukan melalui intervensi di pasar valas luar negeri dan domestik, pengelolaan devisa hasil sumber daya alam, serta pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder.

Perluasan Akses Pembiayaan Strategi ketiga menitikberatkan pada perluasan akses pembiayaan untuk menopang program hilirisasi dan industrialisasi. Koordinasi KSSK diperkuat dan kebijakan makroprudensial dilonggarkan melalui kenaikan Insentif Likuiditas Makroprudensial menjadi Rp423 triliun, yang diarahkan ke sektor prioritas Asta Cita, dengan target pertumbuhan kredit 9–12 persen pada 2026.

Percepatan Ekonomi Digital Strategi keempat diarahkan untuk mempercepat ekonomi digital nasional melalui perluasan penggunaan QRIS, BI-FAST, dan digitalisasi transaksi. Target nilai transaksi digital payment mencapai Rp88,31 triliun pada 2026. Secara bersamaan, BI juga bereksperimen menerbitkan Digital Rupiah sebagai alat pembayaran digital resmi untuk merespons perkembangan kripto dan stablecoin.

Penguatan Kerja Sama Internasional Strategi kelima difokuskan pada penguatan kerja sama investasi dan perdagangan internasional untuk mendukung hilirisasi dan pembiayaan, dengan pendekatan bilateral dan regional. Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2026

Dengan lima strategi tersebut, Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 4,9–5,7 persen, didukung oleh konsumsi dan investasi yang meningkat, serta ekspor yang cukup baik di tengah perlambatan ekonomi dunia. Kabar baiknya, pertumbuhan di kuartal awal sudah menunjukkan sinyal positif. Akselerasi ekonomi pada kuartal I-2026 didorong oleh lonjakan konsumsi rumah tangga akibat peningkatan kepercayaan pelaku ekonomi, dengan momentum Lebaran menjadi faktor utama yang memicu permintaan domestik. Gubernur BI Perry Warjiyo pun menegaskan sinergi erat dengan pemerintah terus dijaga.

“Kami bersama pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan dengan Pak Menteri Keuangan bersinergi sangat-sangat erat. Kami terus berkomunikasi,” ujar Perry Warjiyo, Rabu (22/4/2026).

Cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2026 tercatat mencapai US$148,2 miliar atau setara pembiayaan 6 bulan impor, menunjukkan fondasi ekonomi yang kuat.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami