JAKARTA, GEMADIKA.COM – Amerika Serikat (AS) dan Iran dikabarkan telah mencapai kesepakatan awal untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz yang sebelumnya menjadi sorotan dunia akibat meningkatnya tensi konflik di kawasan Timur Tengah.
Laporan tersebut pertama kali diungkap media Amerika Serikat, New York Times (NYT), yang menyebut kesepakatan itu menjadi bagian dari negosiasi terkait program nuklir Iran dan keamanan kawasan Teluk.
Berdasarkan informasi dari seorang pejabat AS yang enggan disebutkan identitasnya, Iran disebut bersedia memusnahkan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi sebagai bagian dari komitmen awal dalam perundingan tersebut. Sebagai imbalannya, jalur pelayaran Selat Hormuz akan kembali dibuka secara normal dan aktivitas kapal internasional dipastikan lebih aman.
Meski demikian, kesepakatan itu disebut belum sepenuhnya final karena masih menunggu persetujuan resmi Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.
Selain itu, mekanisme pemusnahan uranium Iran juga masih dalam tahap pembahasan lanjutan antara kedua negara.
Media Fox News turut melaporkan bahwa pemerintah AS membuka peluang pemberian pelonggaran sanksi terhadap Iran apabila Teheran benar-benar menjalankan komitmennya terkait pengurangan stok uranium yang diperkaya tinggi.
“Rencana kami adalah menangani seluruh pasokan material yang diperkaya milik mereka,” ujar seorang pejabat Washington seperti dikutip media AS tersebut.
Dalam laporan lain, CBS News menyebut pemerintah AS menilai rancangan kesepakatan terbaru ini jauh lebih kuat dibanding perjanjian nuklir Iran tahun 2015 pada masa Presiden Barack Obama.
Kesepakatan awal tersebut juga dikabarkan mencakup pencabutan pembatasan terhadap kapal-kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran. Sementara itu, Komando Pusat AS (CENTCOM) bersama negara-negara Teluk disebut akan berkoordinasi menjaga keamanan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur perdagangan minyak terpenting di dunia. Ketegangan di kawasan itu sebelumnya sempat memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas pasokan energi internasional.
Hingga saat ini, baik Gedung Putih maupun pemerintah Iran belum memberikan pernyataan resmi terkait kabar kesepakatan tersebut. Namun jika benar terealisasi, langkah ini dinilai dapat menjadi titik awal meredanya konflik geopolitik di Timur Tengah sekaligus memberikan dampak positif bagi stabilitas ekonomi global.





Tinggalkan Balasan Batalkan balasan