MAKKAH, GEMADIKA.com – Jutaan jemaah haji memadati pelataran Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, untuk melaksanakan Tawaf Ifadah, salah satu rukun haji yang wajib ditunaikan setelah rangkaian puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Pemandangan yang terlihat pada Jumat (31/5/2026) pagi itu berbeda dari hari-hari sebelumnya. Jika saat memulai ibadah haji para jemaah mengenakan dua lembar kain ihram berwarna putih, kini banyak di antara mereka menjalani Tawaf Ifadah dengan pakaian bebas. Perubahan tersebut menjadi penanda bahwa sebagian besar larangan ihram telah berakhir setelah rangkaian ibadah utama haji ditunaikan.
Sejak pagi hari, pelataran Masjidil Haram telah dipenuhi jutaan jemaah dari berbagai negara. Mereka bergerak perlahan mengelilingi Kakbah di tengah padatnya arus manusia yang terus berdatangan untuk menyempurnakan rukun haji.
Meski fisik terkuras setelah menjalani prosesi Armuzna yang melelahkan, suasana haru justru mendominasi wajah para jemaah. Tawaf Ifadah menjadi momen refleksi sekaligus penanda bahwa perjalanan spiritual yang telah lama dinantikan perlahan mendekati penghujung.
Bagi banyak jemaah, setiap putaran tawaf terasa begitu bermakna. Tatapan mata yang tertuju ke Kakbah seolah menghadirkan perasaan syukur, haru, dan sedih secara bersamaan karena sebentar lagi mereka akan meninggalkan Tanah Suci.
“Rasa sedih itu mendadak muncul karena kami menyadari akan segera meninggalkan Tanah Suci,” ungkap Duiseno, salah seorang jemaah dengan suara bergetar menahan haru.
Selain rasa haru, para jemaah juga menyimpan harapan besar agar nilai-nilai ibadah yang diperoleh selama berada di Tanah Suci dapat terus terjaga setelah kembali ke tanah air.
“Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana cara kami menjaga, merawat, dan mempertahankan kemabruran ibadah ini setelah kembali ke kehidupan sehari-hari nanti,” ujar Sanie, jemaah haji lainnya.
Keinginan untuk kembali mengunjungi Baitullah juga menjadi harapan yang banyak dipanjatkan para jemaah di sela-sela ibadah mereka.
“Harapannya kami ingin kembali lagi ke sini untuk ziarah, tawaf, dan sai. Mungkin nanti tidak sendiri lagi, melainkan bersama keluarga besar kami,” ujar Najibul sembari menyeka air mata.
Tidak hanya mendoakan diri sendiri, banyak jemaah juga menitipkan doa bagi keluarga, sahabat, dan kerabat di tanah air. Nama-nama orang tercinta disebut dalam setiap doa dengan harapan suatu saat mereka juga mendapat kesempatan menunaikan ibadah ke Tanah Suci.
Usai menyelesaikan tujuh putaran Tawaf Ifadah, para jemaah melanjutkan rangkaian ibadah dengan melaksanakan sai antara Bukit Shafa dan Marwah. Meski kelelahan masih terasa, semangat untuk menyempurnakan seluruh rukun haji membuat mereka tetap melangkah dengan penuh keyakinan.
Momen Tawaf Ifadah ini menjadi pengingat bahwa perjalanan haji bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan juga perjalanan batin yang meninggalkan kesan mendalam. Meski rangkaian ibadah segera berakhir, nilai-nilai spiritual yang diperoleh selama berada di Tanah Suci diharapkan terus menjadi bekal dalam kehidupan sehari-hari setelah kembali ke tanah air.




