JAKARTA, GEMADIKA.com – Harga kopi Arabika di pasar global dilaporkan menyentuh titik terendah dalam 18 bulan terakhir pada Sabtu (6/6/2026). Penurunan ini dipicu oleh meningkatnya pasokan dari negara produsen utama serta melemahnya permintaan di tengah kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih.
Berdasarkan data perdagangan komoditas, harga kopi Arabika mengalami tekanan dalam beberapa pekan terakhir hingga akhirnya turun ke level terendah sejak akhir 2024. Kondisi ini menjadi perhatian pelaku pasar, khususnya eksportir dan petani kopi di berbagai negara penghasil.
Analis komoditas menilai, salah satu faktor utama penurunan harga adalah panen melimpah di negara produsen besar seperti Brasil dan Kolombia. Ketersediaan stok yang tinggi membuat pasokan di pasar global meningkat signifikan.
Di sisi lain, permintaan kopi dari sejumlah negara konsumen utama cenderung stagnan. Inflasi dan ketidakpastian ekonomi global turut memengaruhi daya beli serta konsumsi kopi, terutama di pasar premium yang didominasi jenis Arabika.
Penurunan harga ini memberikan dampak beragam. Bagi industri hilir seperti pelaku usaha kopi dan kafe, kondisi ini dapat menjadi peluang karena biaya bahan baku menurun. Namun, bagi petani kopi, terutama skala kecil, harga rendah berpotensi menekan pendapatan.
Di Indonesia, yang juga dikenal sebagai salah satu produsen kopi Arabika, fluktuasi harga global turut memengaruhi harga di tingkat petani. Meski demikian, faktor kualitas dan permintaan ekspor tetap menjadi penentu utama harga di dalam negeri.
Pelaku industri berharap adanya stabilisasi harga dalam beberapa bulan ke depan seiring dengan penyesuaian produksi dan potensi peningkatan permintaan global.(red)





Tinggalkan Balasan Batalkan balasan