JAKARTA, GEMADIKA.com – Saraf kejepit tidak selalu dipicu oleh aktivitas berat seperti mengangkat beban atau cedera saat berolahraga. Sejumlah kebiasaan sehari-hari yang tampak sepele ternyata dapat memberikan tekanan berulang pada saraf sehingga meningkatkan risiko terjadinya gangguan tersebut.
Karena prosesnya berlangsung perlahan, banyak orang tidak menyadari penyebabnya hingga muncul gejala seperti nyeri, kesemutan, mati rasa, bahkan kelemahan otot.
Apa Itu Saraf Kejepit?
Mengacu pada informasi dari Mayo Clinic, saraf kejepit (pinched nerve) merupakan kondisi ketika saraf mengalami tekanan dari jaringan di sekitarnya, seperti tulang, otot, tendon, atau bantalan tulang belakang (diskus).
Tekanan tersebut dapat mengganggu fungsi saraf sehingga memicu berbagai keluhan, mulai dari rasa nyeri, kesemutan, mati rasa, hingga berkurangnya kekuatan otot.
Saraf kejepit dapat terjadi di berbagai bagian tubuh. Pada leher dan punggung, kondisi ini sering berkaitan dengan bantalan tulang belakang yang menonjol (herniated disc). Sementara pada punggung bawah, saraf kejepit dapat menyebabkan nyeri yang menjalar hingga ke kaki atau dikenal sebagai linu panggul (sciatica).
Kebiasaan Sehari-hari yang Meningkatkan Risiko Saraf Kejepit
Berikut tiga kebiasaan yang sering dilakukan tanpa disadari dapat meningkatkan risiko saraf kejepit.
- Terlalu Lama Berada dalam Posisi yang Sama
Duduk berjam-jam di depan komputer, berbaring dalam posisi yang sama, atau terlalu lama menyilangkan kaki dapat memberikan tekanan terus-menerus pada saraf.
Mempertahankan satu posisi tubuh dalam waktu lama membuat saraf lebih rentan mengalami kompresi, terlebih jika tubuh jarang digerakkan.
Untuk mengurangi risikonya, disarankan rutin mengubah posisi tubuh, berdiri, berjalan singkat, atau melakukan peregangan setiap beberapa jam, terutama bagi pekerja yang banyak duduk.
- Terlalu Sering Melakukan Gerakan Berulang
Aktivitas yang dilakukan secara berulang tanpa jeda juga menjadi salah satu penyebab saraf kejepit.
Contohnya adalah mengetik dalam waktu lama, menggunakan mouse komputer, bekerja di lini produksi, maupun melakukan olahraga dengan gerakan yang sama secara terus-menerus.
Tekanan berulang pada area tertentu dapat memicu iritasi dan penekanan saraf. Oleh karena itu, memberikan waktu istirahat singkat dan melakukan peregangan otot secara berkala sangat dianjurkan.
- Membiarkan Postur Tubuh Membungkuk
Postur tubuh yang buruk juga menjadi faktor risiko yang sering diabaikan.
Mengutip Journal of Hand Therapy, posisi tubuh yang statis dan postur yang tidak ergonomis dapat meningkatkan tekanan langsung pada saraf, menyebabkan otot memendek, serta memicu ketidakseimbangan otot yang akhirnya menekan saraf.
Kebiasaan yang perlu diwaspadai antara lain menunduk terlalu lama saat menggunakan ponsel (text neck), membungkuk ketika bekerja menggunakan laptop, maupun posisi tidur yang terus memberikan tekanan pada satu sisi tubuh.
Walaupun awalnya tidak menimbulkan keluhan, tekanan yang berlangsung terus-menerus dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko terjadinya saraf kejepit.
Pencegahan Lebih Baik daripada Mengobati
Saraf kejepit bukan hanya dipengaruhi oleh cedera atau aktivitas fisik berat. Kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari juga dapat menjadi penyebab apabila terus dilakukan tanpa memperhatikan posisi tubuh maupun waktu istirahat.
Menjaga postur tubuh tetap baik, rutin bergerak, melakukan peregangan, serta menghindari duduk atau bekerja terlalu lama dalam satu posisi merupakan langkah sederhana yang dapat membantu menjaga kesehatan saraf dan mengurangi risiko terjadinya saraf kejepit.
Dilansir dari CNNIndinesia.



Tinggalkan Balasan Batalkan balasan