JAKARTA, GEMADIKA.com – Ginjal merupakan salah satu organ vital yang bekerja paling keras dalam tubuh manusia. Setiap hari, sepasang organ ini menyaring sekitar 180 liter darah untuk membuang limbah, menjaga keseimbangan cairan tubuh, serta membantu mengontrol tekanan darah.

Namun, penyakit ginjal kronis (Chronic Kidney Disease/CKD) sering berkembang secara perlahan tanpa menimbulkan gejala yang jelas. Akibatnya, banyak penderita baru mengetahui kondisinya setelah fungsi ginjal mengalami penurunan yang sangat signifikan.

Dokter spesialis nefrologi dari Apollo Hospitals India, dr. Srivatsa A, menjelaskan bahwa ginjal memiliki kemampuan kompensasi yang sangat besar sehingga kerusakan pada organ tersebut kerap tidak disadari selama bertahun-tahun.

“Ginjal memiliki cadangan fungsional yang luar biasa. Unit penyaring yang sehat secara otomatis bekerja lebih keras untuk mengkompensasi unit yang rusak,” jelas dr. Srivatsa.

“Karena kompensasi ini, pasien secara rutin kehilangan hingga 80 persen fungsi ginjal sebelum mengalami satu pun tanda penyakit yang terlihat,” lanjutnya.

Mengapa Gejalanya Baru Muncul di Stadium Lanjut?

Menurut dr. Srivatsa, gejala baru mulai dirasakan ketika kemampuan ginjal sudah menurun drastis sehingga limbah dan racun menumpuk di dalam darah.

Baca juga :  Tanggapi Pernyataan Kontroversial, Ketua Umum IWO Indonesia Akan Kirimkan Surat dan Siap Temui Hotman Paris

Pada kondisi tersebut, penderita biasanya mulai mengalami kelelahan berkepanjangan, mual, hilangnya nafsu makan, hingga rasa gatal yang berat pada kulit.

Kerusakan ginjal juga menyebabkan penumpukan cairan di dalam tubuh sehingga memicu pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki, tangan, bahkan wajah.

Selain itu, ginjal yang rusak tidak lagi mampu memproduksi hormon eritropoietin secara optimal. Akibatnya, pembentukan sel darah merah menurun sehingga penderita mengalami anemia yang menyebabkan tubuh mudah lelah dan sesak napas.

Sembilan Gejala yang Perlu Diwaspadai

Dokter mengingatkan masyarakat agar segera memeriksakan diri apabila mengalami beberapa gejala berikut secara bersamaan:

Pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki, atau wajah.
Kelelahan yang berlangsung terus-menerus.
Nafsu makan menurun.
Mual atau muntah.
Kram otot.
Sulit berkonsentrasi atau mudah linglung.
Perubahan pola buang air kecil.
Kulit terasa sangat gatal.
Tekanan darah tinggi yang sulit dikendalikan.
Diabetes dan Hipertensi Jadi Penyebab Utama

Banyak orang mengira penyakit ginjal selalu berasal dari gangguan pada organ ginjal itu sendiri. Padahal, penyebab terbanyak justru berasal dari penyakit lain, terutama diabetes dan hipertensi.

Baca juga :  Terapi Samarium Bantu Redakan Nyeri Tulang Akibat Penyebaran Kanker, Ini Penjelasan Dokter

Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah halus yang berfungsi sebagai penyaring di ginjal. Sementara tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat mempersempit serta merusak pembuluh darah tersebut hingga akhirnya membentuk jaringan parut.

Selain diabetes dan hipertensi, risiko penyakit ginjal juga meningkat pada orang yang memiliki penyakit autoimun, infeksi saluran kemih berulang, kebiasaan mengonsumsi obat pereda nyeri dalam jangka panjang tanpa pengawasan dokter, merokok, maupun obesitas.

Deteksi Dini Sangat Penting

Dokter menyarankan masyarakat yang memiliki faktor risiko tersebut untuk melakukan pemeriksaan fungsi ginjal secara berkala melalui tes darah Estimated Glomerular Filtration Rate (eGFR) dan pemeriksaan urine guna mendeteksi kebocoran protein.

Pemeriksaan sejak dini dinilai penting karena kerusakan ginjal yang telah terjadi umumnya tidak dapat dipulihkan. Namun, perkembangan penyakit masih dapat diperlambat apabila diketahui lebih awal dan ditangani secara tepat.

Dilansir dari Detiksport.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami