JAKARTA, GEMADIKA.com – Nyeri tulang akibat penyebaran kanker ke tulang (metastasis tulang) menjadi salah satu keluhan yang paling sering dialami pasien kanker stadium lanjut. Rasa nyeri yang terus-menerus tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga menurunkan kualitas hidup penderitanya.
Salah satu metode yang kini dapat membantu mengurangi keluhan tersebut adalah Terapi Samarium, yakni prosedur dalam bidang kedokteran nuklir yang bekerja langsung pada area tulang yang terdampak penyebaran kanker.
Dokter Spesialis Kedokteran Nuklir dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Lim Andreas, Sp.KN, menjelaskan bahwa terapi ini diperuntukkan bagi pasien kanker yang telah mengalami metastasis ke tulang.
“Terapi Samarium adalah salah satu prosedur dalam Kedokteran Nuklir, yang biasanya dilakukan pada berbagai kasus kanker seperti kanker payudara, prostat, paru, dan jenis kanker lainnya yang telah menyebar ke tulang,” ujar dr. Lim.
Menurutnya, terapi dilakukan dengan menyuntikkan zat radiofarmaka Samarium-153 EDTMP ke dalam pembuluh darah. Zat tersebut kemudian akan berkumpul pada bagian tulang yang mengalami penyebaran kanker sehingga mampu memberikan efek terapi secara lebih terarah.
“Terapi ini menggunakan zat radiofarmaka Samarium-153 EDTMP yang disuntikkan ke pembuluh darah. Zat ini akan berkumpul pada bagian tulang yang terdampak kanker dan dapat menjangkau beberapa lokasi metastasis tulang secara bersamaan tanpa mengganggu jaringan sehat di sekitarnya,” jelasnya.
Evaluasi Sebelum Menjalani Terapi
Sebelum menjalani Terapi Samarium, pasien akan menjalani pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan terapi tersebut sesuai dengan kondisi penyakit yang dialami.
Dokter akan mengidentifikasi jenis kanker, lokasi penyebaran, serta tingkat keparahan metastasis menggunakan teknologi pencitraan SPECT-CT Scan.
“Evaluasi bertujuan untuk mengidentifikasi jenis kanker dan lokasi penyebaran pada tulang, dengan bantuan teknologi pencitraan SPECT-CT Scan untuk menentukan apakah Terapi Samarium sesuai dengan kondisi pasien,” kata dr. Lim.
Masih Terbatas di Indonesia
Terapi Samarium saat ini belum tersedia secara luas di Indonesia. Keterbatasan fasilitas membuat sebagian pasien sebelumnya harus mencari layanan serupa ke luar negeri.
Namun, Mayapada Hospital Jakarta Selatan menjadi salah satu rumah sakit yang telah menyediakan layanan tersebut sebagai bagian dari penanganan kanker secara komprehensif.
Rumah sakit ini juga didukung teknologi PET-CT Scan dan SPECT-CT Scan dengan kemampuan whole-body imaging, sehingga mampu menghasilkan pencitraan yang lebih akurat dan mempercepat proses diagnosis.
Selain didukung teknologi modern, pelayanan dilakukan melalui pendekatan Comprehensive Cancer Care, melibatkan tim dokter multidisiplin, forum Tumor Board, serta Patient Navigator yang mendampingi pasien selama proses pengobatan.
Dengan hadirnya Terapi Samarium di Indonesia, diharapkan pasien kanker dengan penyebaran ke tulang memiliki akses yang lebih mudah terhadap terapi yang dapat membantu mengurangi nyeri sekaligus meningkatkan kualitas hidup mereka.
Masyarakat yang ingin mengetahui apakah terapi ini sesuai dengan kondisi kesehatannya disarankan berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter spesialis onkologi maupun kedokteran nuklir.
Dilansir dari Detikhelt.


