NEW DELHI, GEMADIKA.com – Keputusan Pemerintah Negara Bagian Benggala Barat, India, untuk menghapus telur dari menu program makan siang gratis di sejumlah sekolah negeri memicu perdebatan luas. Kebijakan tersebut menjadi sorotan nasional karena dinilai dapat memengaruhi pemenuhan gizi jutaan anak sekolah.
Program makan siang gratis (midday meal programme) selama ini menjadi salah satu andalan pemerintah India dalam memenuhi kebutuhan gizi peserta didik, terutama bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Bagi sebagian siswa, makanan di sekolah bahkan menjadi satu-satunya asupan bergizi yang mereka peroleh setiap hari.
Kebijakan penghapusan telur merupakan bagian dari proyek percontohan yang mengganti sumber protein hewani dengan menu vegetarian. Pemerintah Benggala Barat menunjuk International Society for Krishna Consciousness (ISKCON) melalui Annamitra Foundation sebagai penyedia makanan di sekolah-sekolah yang dikelola Kolkata Municipal Corporation.
Karena ISKCON hanya menyajikan makanan vegetarian, telur akan diganti dengan sumber protein nabati atau produk olahan susu.
Menu Vegetarian Tuai Kritik
Meski proyek tersebut masih bersifat terbatas dan belum diterapkan secara menyeluruh, kebijakan tersebut langsung menuai kritik dari berbagai kalangan.
Partai oposisi All India Trinamool Congress (TMC) menilai pemerintah yang kini dipimpin Partai Bharatiya Janata Party (BJP) berupaya memaksakan pola makan vegetarian kepada para siswa.
Menurut mereka, persoalan menu makan siang sekolah seharusnya mengutamakan kebutuhan gizi anak, bukan didasarkan pada preferensi tertentu.
Pakar: Telur Sulit Digantikan
Sejumlah pakar gizi menilai telur merupakan salah satu sumber protein paling lengkap, murah, dan mudah diperoleh.
Ahli gizi dari Sir Ganga Ram Hospital, New Delhi, Fareha Shanam, menjelaskan bahwa telur mengandung sembilan asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh serta kaya vitamin D dan vitamin B12.
“Telur juga kaya vitamin D dan vitamin B12 sehingga menjadi sumber nutrisi yang sangat baik bagi anak-anak yang sedang tumbuh,” ujarnya.
Menurutnya, bahan makanan lain seperti paneer (keju khas India) memang memiliki kandungan gizi yang baik, namun biayanya jauh lebih mahal sehingga sulit diterapkan secara rutin dalam program makan siang gratis.
Dokter penyakit dalam dari Gleneagles Aware Hospital, Hyderabad, Dr. Vamshi V, juga mengingatkan bahwa penggantian telur harus benar-benar memperhatikan kesetaraan kandungan gizi.
“Dampaknya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi dalam jangka panjang bisa mengganggu pertumbuhan, kemampuan belajar, hingga daya tahan tubuh anak,” katanya.
Orang Tua dan Guru Ikut Khawatir
Kekhawatiran serupa disampaikan para orang tua siswa. Mereka menilai keberadaan telur dalam menu sekolah membantu memenuhi kebutuhan protein anak-anak.
Seorang wali murid, Chaitali Mitra, mengaku lebih tenang apabila sekolah tetap menyediakan telur.
“Hal itu membuat saya yakin kebutuhan protein anak saya yang sedang tumbuh dapat terpenuhi,” ujarnya.
Sementara itu, sejumlah guru menyebut program makan siang gratis menjadi salah satu faktor penting yang mendorong anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap bersekolah.
Menurut mereka, tidak sedikit siswa yang datang ke sekolah dalam kondisi lapar dan sangat bergantung pada makanan yang disediakan pemerintah.
Usulan Berikan Pilihan Menu
Di tengah polemik tersebut, sejumlah politisi dan pemerhati pendidikan mengusulkan solusi berupa pemberian pilihan menu kepada siswa.
Model tersebut telah diterapkan di beberapa wilayah India. Di Negara Bagian Bihar, misalnya, siswa yang mengonsumsi telur tetap mendapatkan telur, sedangkan siswa vegetarian memperoleh buah pisang sebagai pengganti.
Hingga kini, Pemerintah Benggala Barat masih melakukan pembahasan lanjutan terkait pelaksanaan proyek tersebut bersama ISKCON. Belum ada keputusan apakah kebijakan penghapusan telur akan diterapkan secara luas di seluruh sekolah negeri di wilayah tersebut.
Dilansir dari Detikhelt.



Tinggalkan Balasan Batalkan balasan