JAKARTA, GEMADIKA.com – Protein merupakan salah satu zat gizi penting yang berperan dalam membangun dan mempertahankan massa otot, meningkatkan rasa kenyang, serta mendukung sistem kekebalan tubuh. Namun, para ahli mengingatkan bahwa konsumsi protein secara berlebihan juga dapat berdampak kurang baik bagi kesehatan apabila tidak diimbangi dengan asupan nutrisi lainnya.

Seiring meningkatnya tren pola makan tinggi protein, berbagai produk seperti minuman protein, camilan, hingga makanan tinggi protein semakin mudah ditemukan di pasaran. Meski demikian, ahli gizi menegaskan bahwa anggapan “semakin banyak protein semakin baik” tidak selalu benar.

Melansir Prevention, sejumlah ahli diet menyebut pola makan tinggi protein berisiko membuat seseorang mengurangi konsumsi serat, vitamin, mineral, serta karbohidrat yang sebenarnya juga dibutuhkan tubuh.

Ahli gizi sekaligus pengembang resep, Mackenzie Burgess, mengatakan bahwa protein memang menjadi salah satu makronutrien penting, tetapi bukan berarti harus dikonsumsi secara berlebihan.

“Protein memang menjadi bintang makronutrien, tetapi anggapan bahwa semakin banyak semakin baik tidak selalu tepat,” ujarnya.

  1. Sembelit

Salah satu tanda paling umum akibat konsumsi protein berlebihan adalah sembelit.

Hal ini biasanya terjadi ketika seseorang terlalu banyak mengonsumsi protein hewani sehingga mengurangi asupan buah, sayuran, biji-bijian, dan makanan tinggi serat lainnya.

Baca juga :  Laporan Kesehatan 2026: Pekerja Usia 30-49 Tahun Paling Banyak Alami Gangguan Otot dan Sendi

Menurut ahli diet Talia Follador, pola makan tinggi protein sering kali diikuti dengan rendahnya konsumsi serat yang sangat dibutuhkan untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan.

Untuk mengatasinya, sumber protein nabati seperti kacang-kacangan, lentil, biji-bijian, dan gandum utuh dapat menjadi pilihan karena mengandung protein sekaligus serat.

  1. Lebih Sering Buang Air Kecil dan Mudah Dehidrasi

Asupan protein yang sangat tinggi membuat ginjal bekerja lebih keras untuk membuang limbah metabolisme berupa urea dan nitrogen.

Akibatnya, seseorang bisa lebih sering buang air kecil dan membutuhkan cairan lebih banyak.

Jika kebutuhan cairan tidak terpenuhi, kondisi ini dapat memicu:

Haus berlebihan
Pusing
Mudah lelah
Kepala terasa ringan
Sulit berkonsentrasi

  1. Tubuh Mudah Lelah

Protein memang penting untuk memperbaiki jaringan otot, tetapi apabila konsumsi protein terlalu tinggi membuat asupan karbohidrat berkurang, tubuh justru kekurangan sumber energi utama.

Ahli diet Sarah Anzlovar menjelaskan bahwa kondisi tersebut dapat menyebabkan seseorang lebih cepat lelah dan mengalami penurunan performa saat berolahraga.

Karbohidrat tetap dibutuhkan tubuh sebagai bahan bakar utama dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

  1. Lebih Sering Menginginkan Makanan Manis

Meskipun protein dapat membantu mempertahankan rasa kenyang lebih lama, pola makan tinggi protein yang terlalu membatasi karbohidrat justru dapat meningkatkan keinginan mengonsumsi makanan manis.

Baca juga :  Benarkah WNI Bebas Visa ke Wilayah Seberang Laut Prancis? Ini Penjelasan Resminya

Menurut Follador, tubuh akan mencari sumber energi cepat ketika kekurangan karbohidrat, sehingga muncul keinginan lebih besar terhadap makanan tinggi gula.

  1. Berat Badan Justru Bertambah

Protein tetap mengandung kalori. Oleh karena itu, konsumsi protein secara berlebihan tanpa mengurangi asupan makanan lain dapat menyebabkan kelebihan kalori dan memicu kenaikan berat badan.

Ahli diet Johannah Katz menjelaskan kondisi ini sering terjadi ketika seseorang mengonsumsi protein shake, protein bar, atau makanan tinggi protein sebagai tambahan, bukan sebagai pengganti makanan lain.

Tetap Seimbang

Para ahli menegaskan bahwa protein tetap merupakan nutrisi penting bagi tubuh. Namun, kebutuhan setiap orang berbeda, tergantung usia, kondisi kesehatan, aktivitas fisik, hingga tujuan kebugaran.

Secara umum, kebutuhan protein orang dewasa sehat berkisar 1,2 hingga 1,6 gram per kilogram berat badan per hari, meski angka tersebut dapat berbeda sesuai kondisi masing-masing individu.

Karena itu, masyarakat disarankan menerapkan pola makan yang seimbang dengan tetap memenuhi kebutuhan protein, karbohidrat, lemak sehat, serat, vitamin, dan mineral agar fungsi tubuh tetap optimal.

Dilansir dari Kompascom.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami