JAKARTA, GEMADIKA.com – Keinginan orang tua untuk melindungi anak dari berbagai kesulitan memang wajar. Namun, terlalu sering mengambil alih masalah anak justru dapat menghambat perkembangan mental dan kemandiriannya.

Psikiater sekaligus penulis Daniel Amen mengungkapkan bahwa salah satu kesalahan paling umum yang dilakukan orang tua adalah melakukan terlalu banyak hal untuk anak. Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang kurang tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

“Orang tua sering kali melakukan terlalu banyak hal untuk anak-anak mereka, sehingga menghasilkan anak yang lemah secara mental,” ujar Amen dalam podcast Built Different, dikutip CNBC Make It.

Amen mencontohkan beberapa kebiasaan yang terlihat sepele, seperti mengerjakan tugas sekolah anak agar mendapat nilai bagus atau selalu memenuhi keinginannya hanya untuk menghentikan tantrum. Menurutnya, tindakan tersebut justru mengurangi kesempatan anak belajar bertanggung jawab, menyelesaikan masalah, serta membangun rasa percaya diri.

Ketangguhan Mental Dibentuk dari Pengalaman

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak yang memiliki ketahanan mental (resilience) cenderung tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih bahagia, percaya diri, dan sukses.

Amen mengaku menerapkan prinsip tersebut dalam mendidik anaknya. Ketika sang anak lupa membawa pekerjaan rumah ke sekolah, ia tidak mengantarkannya. Begitu pula saat anak lupa membawa jaket pada cuaca dingin meski sebelumnya sudah diingatkan.

Baca juga :  Kulit Baru Selesai Waxing? Dokter Bagikan Cara Perawatan yang Tepat agar Terhindar dari Iritasi

Ia juga menyarankan agar orang tua tidak selalu berusaha menghibur anak ketika mereka merasa bosan.

“Saat anak berkata, ‘Aku bosan’, jangan langsung mencarikan hiburan. Katakan saja, ‘Kira-kira apa yang akan kamu lakukan untuk mengatasinya?'” ujarnya.

Menurut Amen, terlalu sering membantu anak justru dapat berdampak negatif terhadap pembentukan harga diri mereka.

“Jika Anda melakukan terlalu banyak hal untuk anak, Anda meningkatkan harga diri Anda dengan cara mencuri harga diri mereka. Ketangguhan mental terbentuk ketika seseorang belajar menyelesaikan masalahnya sendiri,” katanya.

Tetap Beri Dukungan dan Empati

Meski demikian, membangun mental tangguh bukan berarti orang tua harus bersikap keras atau minim kasih sayang.

Psikolog anak dari Barnard College, Tovah Klein, menekankan pentingnya menunjukkan empati dan dukungan ketika anak mengalami kegagalan atau kesulitan.

Ia menilai melindungi anak dari setiap rasa kecewa justru tidak membantu mereka berkembang.

Baca juga :  Mengapa Orang Barat Lebih Sering Cebok Pakai Tisu? Ini Penjelasan Sejarah, Iklim, dan Kebiasaan Makan

“Saya melihatnya sebagai pendekatan yang lebih penuh empati dan tetap terhubung. Katakan, ‘Ini mungkin sulit, tapi aku akan ada di sini setelah kamu selesai melaluinya’,” ujar Klein kepada CNBC Make It.

Menurutnya, pendekatan tersebut membuat anak memahami bahwa orang tua tetap mendukung mereka, apa pun hasil yang diperoleh.

“Aku percaya kamu bisa melewati tantangan ini. Aku akan tetap ada, apa pun hasilnya, baik kamu menang, kalah, atau berada di posisi tengah,” katanya.

Libatkan Anak dalam Tanggung Jawab

Selain memberi kesempatan anak menyelesaikan masalahnya sendiri, Amen juga menyarankan orang tua melibatkan anak dalam berbagai tanggung jawab sehari-hari.

Sejalan dengan itu, American Psychological Association (APA) menyebutkan bahwa anak yang terbiasa membantu pekerjaan rumah, berkontribusi di lingkungan keluarga, maupun menolong teman di sekolah cenderung memiliki rasa tanggung jawab, percaya diri, dan kemampuan menghadapi tantangan yang lebih baik.

“Biarkan mereka mulai mencari solusi atas masalah mereka sendiri, daripada orang tua terlalu banyak ikut campur,” tutup Amen.

Dilansir dari CNBC.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami